Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
277. Pemakaman


__ADS_3

Salman dan Wulan, Fatih dan Aisyah, Leon dan Fatim memutuskan untuk terbang ke Mekkah. Untuk itu, mereka menyewa sebuah pesawat khusus.


Setelah siap, mereka pun berangkat menuju bandara. Bayi-bayi mereka juga diajak ikut serta. Agar bisa melihat untuk yang terakhir kalinya kakek dan nenek mereka dimakamkan.


Di dalam badan pesawat, mereka saling terdiam. Tapi mata mereka menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Sehingga mereka semua menggunakan kaca mata hitam, untuk menutupi mata mereka yang bengkak dan terlihat memerah.


**


Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh jam, akhirnya mereka tiba di bandara internasional.


Dua orang dari pihak KKHI mengantarkan rombongan Salman menuju ke gedung penyimpanan jenazah. Sementara menunggu antrian jenazah untuk dimakamkan.


Bergetar kaki mereka, ketika memasuki gedung itu. Tangisan mereka tidak dapat dibendung, ketika memasuki tempat penyimpanan jenazah. Karena melihat deretan mayat dari pihak keluarganya.


Mereka tidak menyangka, jika liburan kemarin adalah liburan terakhir mereka dengan keluarga besarnya.


Salman tidak menyangka, jika permintaan opanya yang aneh itu adalah permintaan terakhirnya.


Aisyah dan Fatih juga tidak menyangka, jika sholat tahajud kemarin menjadi sholat Sunnah terakhir bagi keluarganya.


Segala pesan-pesan yang almarhum ucapkan sebelum meninggal, ternyata bukan hanya sekedar pesan atau candaan belaka. Tapi memang menjadi sebuah wasiat yang wajib mereka kerjakan.


Berat, sungguh berat memang. Tapi mau bagaimana lagi, takdir itu tidak bisa ditawar. Tidak menunggu kata 'siap' dari kita.


Keluarga yang ditinggalkan akan berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan amanah itu.

__ADS_1


Cukup lama mereka ada diruang penyimpanan jenazah. Karena kasian dengan bayi-bayi mereka yang kedinginan, akhirnya mereka memutuskan keluar.


**


Setelah menunggu satu jam, jenazah keluarga besar Salman beserta rombongannya dimakamkan. Salman dan sahabatnya ikut mengantarkan jenazah keluarganya ke pemakaman.


Hanya sebuah gundukan tanah, yang atasnya ditancapkan sebuah batu. Di dalam gundukan tanah itu, atas permintaan anggota keluarga, jenazah mereka dikuburkan berpasangan.


Mereka bersimpuh dihadapan makam itu, sambil mendoakan mereka. Bayi-bayi mereka juga diajak ikut mendoakan kakek dan neneknya.


Bayi-bayi itu seolah tahu jika kedua orang tua mereka tengah bersedih, jadi mereka tidak menangis sama sekali dan tampak anteng.


'Papa, mama. Salman sangat sayang dengan kalian berdua. Tapi rupanya Allah lebih sayang dengan kalian. Sehingga Ia memanggil kalian dalam keadaan yang begitu baik. Semoga Sang Pemilik kehidupan berkenan mempertemukan dan mempersatukan kita di JannahNya nanti. Dan menjadi kubur ini, menjadi taman-taman surga untuk kalian.' batin Salman, sambil menyunggingkan senyum tipis, walaupun matanya sudah berkaca-kaca.


'Dad, mom. Di satu sisi Wulan sangat kehilangan kalian berdua. Tapi di sisi yang lain, Wulan sangat bahagia. Karena kalian meninggal dengan cara yang baik. Wulan sangat bangga pada kalian, yang tidak egois dan mau menerima kebenaran pemahaman yang kita anut sekarang. Tunggu Wulan di surganya Allah nanti ya.' batin Wulan.


'Abi dan umi. Kalian adalah sosok orang tua yang tiada tandingannya. Fatih akan mencontoh apa yang baik pada diri kalian semasa masih hidup. Dan akan menyimpan rapat segala keburukan kalian. Seperti Allah yang telah memuliakan kalian, dengan menjemput lewat jalan Husnul khatimah.' batin Fatih.


'Papa, mama. Leon tidak tahu harus berkata apa. Rasanya begitu sedih kehilangan kalian. Di saat Leon mulai bersikap dewasa, dan tengah membuktikan keseriusan menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, kalian justru meninggalkan Leon. Tapi Leon bahagia, karena kata teman-teman kalian meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. Leon iri dengan kalian. Semoga Leon bisa meninggal dengan cara seperti yang dialami oleh kalian berdua ya.' batin Leon.


'Mama, papa. Fatim begitu syok atas meninggalnya kalian. Terima kasih untuk semua pengorbanan yang telah kalian lakukan untukku. Fatim yakin, Allah menghadiahkan sebuah surga yang indah untuk kalian.'


**


Setelah puas berada di pemakaman, mereka bergerak menuju hotel tempat keluarganya menginap. Untuk mengambil barang-barangnya.


Barulah setelah itu, mereka menginap di hotel lain yang lebih dekat pemakaman untuk sementara waktu.

__ADS_1


Bagaimana pun juga, ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintai, pasti akan terasa menyakitkan dan begitu membekas di hati. Sehingga butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa mengikhlaskan semuanya.


**


Selama sepekan berada di hotel, mereka menghabiskan waktunya untuk banyak berdo'a untuk keluarganya.


Dan di suatu malam, mereka berkumpul sambil menikmati makan malam bersama.


Saat acara makan itu, Salman mengucapkan permintaan maafnya, karena keluarganya lah yang mengajak untuk umroh bersama.


Pasangan Fatih dan Aisyah serta Fatim dan Leon tidak mempermasalahkan soal itu. Ditengah-tengah kesedihan yang mereka alami, ada rasa syukur yang terselip.


Karena keluarga mereka meninggal dalam keadaan yang baik. Yakni saat sedang dalam posisi sholat, dan sujud menghadap Ka'bah.


"Semoga kita juga bisa meninggal dalam keadaan yang baik, seperti keluarga kita yang sudah mendahului kita ya." Ucap Salman.


"Aamiin ya rabbal aalamiin." Balas mereka kompak.


"Kita juga harus menjalankan semua amanah yang pernah disampaikan oleh kedua orang tua kita dan kakek nenek kita. Agar mereka tenang berada di alam kubur." Ucap Fatih.


"Iya, betul apa yang kamu bilang." Timpal Leon.


"Maka dari itu, secepatnya kita harus pulang ke Indo. Kita teruskan usaha kedua orang tua kita. Agar mereka bangga dengan kita, dan mereka bisa tersenyum melihat kita bisa menjalankan amanah yang telah diberikan pada kita." Imbuh Salman.


"Lalu, bagaimana denganku? Papaku memiliki usaha di Belanda. Sedangkan mertua ku memiliki usaha di Indo." Celetuk Leon.


"Itu deritamu." Ucap Fatih dan Salman bersamaan.

__ADS_1


"Mas, perusahaan grandpa kan juga ada di luar." Ucap Wulan, yang membuat Salman menelan saliva.


__ADS_2