
Setelah mempersilahkan Wulan dan Salman duduk, Natalie ke belakang, untuk membuatkan keduanya minuman dan menyediakan cemilan.
Saat Natalie sedang menyiapkan itu semua, suaminya datang dari arah belakang. Ia baru saja selesai menanam aneka sayuran.
Melihat istrinya kerepotan, ia segera membantunya. Keduanya membawa nampan yang berisi aneka cemilan dan minuman.
Natalie memperkenalkan suaminya pada Salman. Kedua pria itu pun saling berjabat tangan dan melempar senyum.
Kini mereka menikmati waktu bersama dengan mengobrol sambil melahap cemilan yang telah disediakan.
Meskipun itu kali pertama Salman bertemu dan bercakap-cakap dengan Natalie dan suaminya, ia tidak merasa canggung.
Selalu saja ada topik yang mereka bicarakan. Mulai dari bertukar kabar, hingga cerita Natalie dan suaminya yang menjadi mualaf.
Salman begitu tersentuh dengan kisah-kisah para mualaf. Termasuk istrinya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Salman dan Wulan memutuskan menumpang sholat Dhuhur di rumah Natalie. Setelah itu, barulah mereka ijin pulang.
Tak disangka, ternyata Natalie telah menyiapkan jamuan makan siang untuk sahabatnya itu. Sehingga Wulan dan Salman tak bisa menolak hal itu. Mereka pun menikmati makan siang bersama.
Saat makan, mereka pun kembali bertukar cerita. Bisnis adalah satu hal yang menarik bagi kaum pria. Tak heran jika Salman dan suaminya Natalie juga tengah membicarakan hal itu.
Setiap usaha bisnis yang mereka ceritakan, menjadi daya tarik bagi pendengarnya. Sehingga rasanya, waktu yang tersedia tidak cukup untuk membahas itu semua. Bahkan sampai piring mereka, telah bersih dari makanan.
__ADS_1
Tak enak rasanya, jika terlalu lama berkunjung, apalagi sampai menghabiskan makanan. Sehingga mereka pun berpamitan pulang.
Salman menawarkan keduanya untuk berlibur ke Indo. Ia siap menanggung seluruh biaya akomodasinya. Sebagai tanda persahabatan.
Natalie dan suaminya tampak terkejut, ketika mendapat tawaran seperti itu. Awalnya keduanya juga merasa sungkan. Tapi Wulan dan suaminya bersikukuh membujuk mereka. Mereka pun akhirnya menerima.
Salman akan mengabari, tanggal keberangkatan ke Indo pada mereka. Agar keduanya bisa bersiap-siap. Setelah itu, mereka pun berpamitan pulang.
**
Di pagi hari yang cerah, Wulan sudah terbangun sejak subuh tadi. Sengaja setelah subuh ia tidak kembali tidur. Melainkan jalan-jalan di sekitar pelataran sampai belakang rumah, untuk peregangan otot-otot badannya. Salman pun turut menemaninya.
"Sayang, kalau capek istirahat saja dulu." ucap Salman, sembari menjatuhkan dirinya di rumput pelataran. Ia mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.
Perut buncit Wulan menjadi daya tarik tersendiri bagi Salman. Sehingga membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa liatin aku sambil senyum-senyum sendiri seperti itu, mas?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat perut mu yang menggemaskan itu. Tidak sabar menunggu kelahiran bayi kita."
"Maksudnya, kamu ngatain aku gendut gitu?" ucap Wulan, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan bibirnya terlihat mengerucut.
"Tidak gendut, sayang. Tidak ada wanita hamil yang gendut. Mereka hanya sedang berbadan dua saja. Nanti kalau sudah melahirkan, pasti kembali ke settingan pabrik. Jadi ramping kembali." jelas Salman. Ia takut jika istrinya akan marah, karena dikatai gendut.
__ADS_1
"Awas ya, kalau sampai ngatain aku gendut." cicit Wulan, sambil kembali melanjutkan olahraga nya.
**
Sementara itu, pemandangan yang berbeda terjadi di samping rumah grandma. Terlihat Fatim tengah membantu mama mertuanya menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Awalnya mama Margareth menolak bantuan Fatim, karena tahu jika menantunya itu tengah hamil. Tapi Fatim bersikukuh jika dirinya baik-baik saja. Justru badannya akan terasa capek, jika tidak dipakai untuk bergerak.
Akhirnya, mama Margareth mengijinkannya. Fatim mengambil pisau, dan ikut membantu memotong wortel. Karena pagi itu mama berniat memasak sup buntut. Sengaja ia menambahkan banyak sayuran, untuk memenuhi asupan gizi ibu hamil.
Sambil memotong sayuran, keduanya bercakap-cakap. Di dasari latar belakang yang berbeda, membuat keduanya selalu melempar pertanyaan. Sehingga semakin menambah keakraban diantaranya keduanya.
Sesekali mama Margareth melirik menantunya yang tengah memasukkan sayuran ke panci panas. Lalu menyiapkan bahan yang lain, untuk membuat menu masakan yang berbeda. Ia cukup takjub melihat menantunya yang cekatan.
"Apa kamu setiap hari membantu mama mu memasak? Terlihat terampil sekali." puji mama Margareth, yang membuat Fatim tersipu malu.
"Hanya sesekali saja, ma. Tapi, memasak itu hal yang menyenangkan, jadi aku sangat menikmatinya."
"Okay, besok kita masak menu yang ada di daerah tempat tinggal mu, ya. Mama penasaran pengen nyobain. Kamu bilang apa saja bahan-bahannya. Lalu kita belanja ke supermarket bersama nanti. Mau ngga?"
"Tentu Fatim setuju, ma. Tidak merasa bosen disini, kalau hanya berdiam diri di kamar saja." senyum kedua wanita itu melengkung indah.
❤️❤️
__ADS_1