Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
86. Semoga bukan dia


__ADS_3

Hari kian merangkak malam, Salman dan Oma memasuki kamar masing-masing. Salman masuk ke kamar yang pernah di pakai oleh papanya dulu ketika masih muda.


Rumah Oma Rohmah memang tidaklah sebesar dan semegah rumah opa Atmaja. Bagai langit dan bumi, sangat jauh perbedaannya. Dan dengan sebuah rasa cinta semua itu bisa disatukan.


Jika rumah opa Atmaja terdiri dari dua lantai, banyak kamar, banyak asisten rumah tangga dan memiliki pelataran yang luasnya melebihi luas lapangan sepakbola. Serta berada di kawasan perumahan elite.


Rumah Oma Rohmah justru hanya terdiri dari satu lantai, 4 kamar tidur dan memiliki pelataran yang sempit. Serta terletak di sebuah desa pinggiran kota.


Namun jalan depan rumahnya adalah jalan utama. Sehingga banyak sekali kendaraan yang lalu-lalang dan tak pernah sepi, meski dini hari sekali pun.


Kini ke empat kamar tidur itu hanya satu yang sering di pakai, yakni kamar Oma Rohmah sendiri. Sedangkan kamar yang lain di pakai sesekali ketika anak dan cucunya berkunjung saja.


Seperti malam itu dimana Salman menginap di sana. Oma Rohmah harus membersihkannya terlebih dahulu, agar nyaman untuk ditempati anak dan cucunya.

__ADS_1


Bekas kamar papanya Salman adalah sebuah ruangan kecil yang berukuran 3x3 meter. Dengan kasur kapuk, yang diletakkan di lantai, tidak ada pendingin ruangan, tidak ada televisi, dan tidak memiliki kamar mandi pribadi. Semua fasilitas di pakai bersama-sama.


Meskipun begitu, itu adalah rumah ternyaman papanya. Dan dulu mamanya juga sangat betah tinggal di situ.


Ketika cucu Oma Rohmah menginjak bangku sekolah, dan harus memiliki kamar sendiri, akhirnya anak-anaknya pun ikut tinggal di rumah mertua.


Bukannya anak-anak Oma Rohmah tidak memiliki uang sepeser pun untuk membangun sebuah istana tempat tinggal.


Namun karena mertua mereka lah yang meminta pada menantunya untuk tinggal di kediamannya. Karena hanya memiliki seorang anak saja.


Seperti papanya Salman yang membuka cabang counter, dan abinya Fatih yang juga membuka cabang counter sekaligus memperbesar pabrik tahu dan tempe mertuanya.


Anak-anak Oma Rohmah kini telah menjadi orang yang sukses. Para tetangganya tentu saja banyak yang iri atas keberhasilan keluarga itu. Padahal mereka tidak tahu kepahitan apa saja yang telah mereka lalui.

__ADS_1


Dan meskipun sudah kaya, anak dan cucu Oma Rohmah tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati.


Ibarat kata, semakin tua padi, maka akan semakin merunduk. Semakin banyak ilmu dan kekayaan, membuat mereka semakin merendah. Dan sifat-sifat baik itu menurun ke anak-anaknya.


Salman memiringkan badannya ke sebelah kanan lalu memejamkan matanya. Bibirnya senantiasa ia basahi dengan kalimat dzikir. Namun hingga 2 jam ke depan, ia tidak bisa tidur.


"Aneh sekali, sudah jam 12 malam, dan aku belum bisa tidur." gumamnya.


"Dan kenapa konsentrasi ku berdzikir terganggu karena ucapan oma tadi? Masa iya, wanita yang melintas dipikirkan ku justru dia?


Dia hanyalah orang yang kebetulan lewat dalam kehidupan ku. Aku rasa tidak lebih. Orang lewat! Dan bukan orang yang singgah.


Hanya Aisyah yang pernah singgah di hati ku. Dan kini dia sudah bahagia dengan saudara ku. Aku bahagia melihat keduanya bisa berumah tangga dengan baik.

__ADS_1


Ya Allah, semoga apa yang menjadi doa Oma untuk ku tadi, Engkau dengar dan kabulkan. Dan aku yakin, pasti jodoh ku bukan gadis itu." gumam Salman. Tak lama kemudian setelah bermonolog seorang diri, akhirnya ia tertidur.


__ADS_2