Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
110. Pernyataan sopir


__ADS_3

Setelah mendapatkan key-card Marquez dan suaminya menaiki lift menuju kamarnya. Keduanya saling melingkarkan tangannya ke pinggang pasangan. Terlihat romantis dan penuh cinta, meski usia tak lagi muda.


Setelah pintu lift terbuka, keduanya keluar dan berjalan menuju kamarnya. Marquez menempelkan key-card pada handle pintu, dan pintu kamarnya pun terbuka.


Sungguh tempat tinggal yang sangat mewah dan nyaman. Dan tempat itu tentunya sangat cocok bagi keduanya agar bisa lebih menjernihkan pikiran yang tegang.


Marquez meletakkan kopernya begitu saja dan langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur king size yang lembut, wangi dan super empuk itu.


Istrinya yang melihat tersenyum kecil. Ia tahu pasti, suaminya tengah di landa kegalauan tingkat dewa. Maka ia hanya membiarkan suaminya bersikap sesuka hati.


Sebenarnya Melati sendiri juga merasakan hal yang sama. Tapi karena dulu ia dibesarkan di lingkungan desa, dimana orang-orangnya sangat sabar dalam menyikapi sesuatu, maka hal itu pun menular ke dirinya. Ia sangat lemah lembut seperti putri keraton.


"Kesinilah sayang, aku ingin memeluk mu." ucap Marquez dan istrinya itupun segera mendekat, lalu merebahkan diri di samping tubuh suaminya. Dan tak lama kemudian keduanya pun tertidur.


Marquez memang butuh kenyamanan dan ketenangan hati. Dan itu di dapat dari memeluk istrinya. Ia tidak suka banyak bicara atau marah-marah untuk mengungkapkan rasa tidak sukanya. Karena hal itu bisa menyebabkan penyakit.


Setelah melewati malam panjang, pasangan suami-istri itu terbangun bersamaan, dan akhirnya mandi bersama.

__ADS_1


"Kita mau makan dimana honey?" Marquez bertanya pada istrinya yang tengah menghadap cermin sambil menyisir rambutnya.


"Terserah kamu saja honey." balasnya di iringi senyum tipis.


"Sebenarnya aku malas untuk sekedar memasukkan makanan ke perut. Tapi aku butuh suasana baru. Sebaiknya kita makan di bawah saja."


Melati mengangguk patuh, lalu meletakkan sisir di meja. Keduanya berjalan bersama menuju restoran yang ada di lantai bawah.


Melati menyunggingkan senyum tipis, ketika melihat suaminya makan dengan lahap. Hingga bibirnya belepotan. Padahal tadi ia bilang tidak bernafsu makan. Melati membersihkan bibir suaminya dengan tisu yang menyadarkan nya jika ia terlalu cepat makan.


"Maafkan aku honey. Mungkin aku kelaparan, jadi makan ku terlalu cepat."


Keduanya kembali menikmati sarapan pagi bersama. Setelah kenyang, barulah mereka kembali ke kamar untuk mengambil barang pentingnya.


Tak lama kemudian, setelah dari kamar, keduanya kembali turun dan tengah menunggu taksi yang akan mengantarkan mereka menuju kediaman orang tua Marquez.


Sebuah mobil berwarna hitam mendekat ke arah mereka dan membunyikan klakson. Keduanya segera masuk. Marquez memberitahu alamat yang dituju pada sopir itu, sebelum mobil mulai melaju.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya mobil mulai memasuki kawasan perumahan dimana Marquez dulu dibesarkan. Membuat jantungnya berdegup kencang.


Padahal dulu setiap kali mengunjungi rumahnya, tidak pernah ada rasa nervous yang muncul seperti itu.


"Sudah sampai tuan." Marquez dan Melati mengangguk bersamaan pada sopir.


"Sebentar tuan, saya ambilkan kembaliannya." ucap sopir segera membuka tasnya untuk mencari uang kembalian.


"Tidak perlu. Kembaliannya untuk mu sekeluarga."


Tolak Marquez dengan cepat, membuat hati sopir senang bukan kepalang. Karena beberapa hari taksinya sepi. Dan bahkan nominal kembaliannya melebihi tarif itu sendiri.


"Terima kasih tuan atas kemurahan hatinya. Semoga Allah selalu melindungi mu dimanapun berada, dan mencurahkan kasih sayang pada kalian sekeluarga." doa tulus meluncur begitu saja dari bibir sang sopir, membuat Marquez terkejut. Ternyata orang dihadapannya memiliki keyakinan lain.


"Apa kamu seorang mualaf?" pertanyaan itu juga meluncur bebas dari mulut Marquez. Sang sopir mengangguk.


"Kenapa kamu melakukannya?" cecar Marquez lagi.

__ADS_1


"Awalnya memang saya tidak berniat untuk berpindah keyakinan. Tapi semua terjadi begitu saja tanpa saya bisa menolaknya."


Marquez manggut-manggut, lalu menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya turun dari mobil.


__ADS_2