
"Kak, kamu mau buat cilok atau mau buat masker wajah dari adonan cilok?" Seloroh Fatim sambil mendekati suaminya.
"Hah?" Leon tampak cengo mendengar pertanyaan istrinya.
"Ya buat cilok lah. Mana mungkin aku memakai adonan yang berbau amis ini, untuk masker wajah." Balas Leon.
"Tapi, wajahmu..."
Fatim tidak meneruskan ucapannya, lalu menunjuk wajahnya sendiri dan mengusapnya. Leon yang penasaran, menyentuh wajahnya sendiri dengan tangan kirinya.
"Apa ini?" Gumam Leon, sambil terus mengusap wajahnya. Yang justru membuat wajahnya bertambah kotor.
Fatim dan kakeknya terkekeh, karena melihat wajah Leon yang semakin rata dengan adonan.
"Harusnya kamu kalau mau menggaruk wajah, gunakan tangan kanan. Jangan tangan kiri. Hasilnya ya jadi seperti itu. Karena tangan kiri mu, kamu gunakan untuk membentuk adonan." Jelas Fatim.
Arghhh..
Leon berteriak histeris, lalu berlari kecil ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Fatim dan kakeknya semakin terkekeh melihat hal itu.
Sedangkan Leon, di dalam kamar mandi. Ia mencuci tangannya, lalu membersihkan wajah dengan air dan sabun. Tapi, karena terasa masih geli, akhirnya ia memutuskan untuk mandi sekalian.
Setelah mandi, ia sadar jika dirinya tidak membawa baju ganti. Terpaksa sekali ia memakai baju bekasnya tadi dan berjalan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Biasanya jika di rumah ia kelupaan tidak membawa baju ganti, dengan santai ia melenggang keluar dari kamar mandi, tanpa memakai sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya. Toh yang melihat adalah istrinya. Berbeda dengan sekarang, jika ia melakukan hal itu, pasti ia akan di sangka bule gila.
Fatim membuka pintu kamarnya, saat suaminya tengah berganti pakaian. Ia berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di depan dada. Tampak ibu hamil itu menyunggingkan senyum, masih membayangkan wajah suaminya tadi.
Memiliki suami seperti Leon, adalah anugerah tersendiri bagi Fatim. Karena berkat suaminya itu, hari-harinya kian berwarna cerah. Dengan segala tingkah usil dan kekonyolan yang dilakukannya.
"Sebaiknya kakek tidak usah berjualan cilok lagi. Aku kasian dengannya, setiap hari harus berjibaku dengan adonan yang berbau amis. Belum lagi harus menahan rasa gatal, rasa ingin pipis. Huft, pokoknya harus sabar menahan derita sepertinya." Cerocos Leon panjang lebar, meluapkan apa yang dialaminya selama membuat cilok tadi.
"Hei, kamu tidak tahu ya kak. Lewat hal itu kakek menghidupi anak dan istrinya."
"Aku saja deh yang menanggung uang bulanan untuk kakek dan nenek. Kasian tahu mereka." Leon kukuh dengan pendapatnya.
"Kakek itu keras kepala. Papa sudah memberi tunjangan tiap bulannya ke kakek, tapi kakek tetap berjualan cilok. Katanya daripada menganggur, waktu akan terasa lama. Begitu katanya."
Leon menghembuskan nafas kasar, lalu menggelengkan kepalanya.
Leon baru menganggukkan kepalanya tanda paham dengan ucapan istrinya.
"Ya sudah, ayo kita lihat, kakek sudah selesai belum mengerjakan pekerjaannya tadi." Leon merangkul bahu istrinya, lalu keduanya keluar kamar.
"Sudah. Kakek mengerjakannya dengan cepat."
Keduanya sudah berada di dapur. Terlihat kakeknya tengah memasukkan cilok itu ke dalam lima wadah canester yang cukup besar.
__ADS_1
Setelah itu, saos dan kecap juga sudah siap di dalam botol. Tinggal menunggu karyawannya datang, untuk mengambil dan menjualnya di outlet masing-masing.
"Kamu sudah selesai mandi?" Tanya kakek, saat bangkit berdiri, dan melihat Fatim dan Leon masih berdiri tak jauh darinya.
"Sudah kek. Kakek tidak capek setiap hari buat seperti itu?"
"Justru kalau tidak produksi, malah badan terasa capek. Karena kurang melakukan aktivitas."
**
Sambil menunggu keluarga Fatim bergiliran mandi, Leon duduk di depan rumah sambil memainkan handphonenya.
Ia kepikiran dengan bantuan yang akan diberikan untuk masjid di desa kakek Somad. Tak lama kemudian, ia bangkit berdiri dan menemui istrinya yang hampir saja masuk ke kamar mandi.
"Sayang, aku pamit keluar sebentar, karena ada urusan penting."
Belum sempat Fatim menjawab dan bahkan bertanya tentang urusan apa, Leon sudah kabur duluan.
Laki-laki itu segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah kakek Somad, dan bergerak menuju gerai ATM terdekat, untuk mengambil sejumlah uang.
Untung saja gerai ATM yang ia kunjungi dalam keadaan sepi. Sehingga ia bisa segera menjalankan aksinya, menarik sejumlah uang yang digunakan untuk menyumbang masjid.
Cukup lama Leon berada di ATM, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan misinya. Ia menyunggingkan senyum saat keluar.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian, senyumnya berubah menjadi rasa terkejut. Karena terlihat antrian panjang di luar gerai ATM. Ia tidak tahu, jika dirinya menghabiskan waktu yang cukup lama saat berada di gerai tadi.
Orang-orang yang sedang mengantri itu pun terkejut, ketika melihat Leon keluar sambil membawa karung.