
Wulan dan grandpa berjalan memasuki ruang rapat. Di dalam ruangan itu sendiri sudah berkumpul para staf penting yang duduk mengelilingi meja berbentuk persegi panjang itu.
Mereka segera berdiri dan membungkuk memberi hormat saat grandpa dan Wulan berdiri di ujung meja bagian depan.
"Selamat pagi tuan Louis." ucap para staf kompak.
"Selamat pagi juga para karyawan ku semua. Pagi ini saya akan memperkenalkan cucu saya satu-satunya. Ayo Wulan kamu perkenalkan dirimu."
Wulan mengangguk patuh pada lelaki di dekatnya.
"Selamat pagi bapak, ibu semua. Perkenalkan saya Teresia Wulandari. Kalian bisa memanggil saya Wulan. Kedatangan saya kesini adalah untuk belajar mengembangkan bisnis grandpa saya. Oleh sebab itu, mohon bapak dan ibu mau membantu saya dalam proses belajar ini. Sekecil apapun kesalahan yang mungkin saya buat, jangan ragu untuk menegur saya." ucap gadis itu, dengan menggunakan dialog bahasa setempat. Tak lupa ia menyunggingkan senyum dan anggukan kepala di akhir kalimat.
"Kami sangat senang dengan kehadiran anda nona Wulan. Selamat datang di Health insurance company milik tuan Louis nona." ucap sektretaris mewakili rekan-rekannya.
__ADS_1
Para staf itu pun memberikan tepuk tangan yang meriah pada Wulan, sebagai bentuk kehormatan dan selamat datang padanya.
Setelah perkenalan singkat itu, mereka pun dipersilahkan duduk. Grandpa Louis memimpin rapat pada pagi hari itu.
Wulan sebagai pendatang baru, menyimak baik-baik ucapan grandpa nya dan para peserta rapat. Ia juga mencatat beberapa poin yang ia anggap penting dalam sebuah notebook.
Rapat pada pagi hari itu pun selesai, semua orang mulai meninggalkan ruang meeting satu persatu. Tinggal grandpa dan Wulan saja.
"Bagaimana, apa kamu masih ingin melanjutkan bekerja di sini Wulan?"
Setelah merapikan peralatannya, Wulan dan grandpa kembali ke ruangan mereka.
"Apa Wulan akan menduduki ruangan ini atau kah grandpa akan menyiapkan ruangan untuk Wulan sendiri?" tanya Wulan, saat keduanya sudah kembali ke ruang direktur.
__ADS_1
"Kamu mau pilih yang mana? Semua akan grandpa atur agar kamu puas dan nyaman."
"Ayolah pa, Wulan baru anak magang. Jangan terlalu diberi pilihan yang menggiurkan. Sebaiknya grandpa sendiri yang memutuskan. Di mana pun Wulan ditempatkan, tentu saja Wulan akan menerimanya. Bukan kah Wulan cuma anak magang." canda Wulan. Grandpa pun kembali terkekeh.
"Baiklah, kamu disini saja. Tidak perlu grandpa buatkan ruangan khusus untuk mu. Semisal ada apa-apa kamu bisa dengan mudah bertanya langsung pada grandpa. Mulai sekarang, grandpa akan menemani mu di kantor."
"Terima kasih grandpa." Wulan berdiri dari duduknya, dan memeluk laki-laki sepuh itu. Keduanya terlihat berbinar bahagia.
"Ya sudah grandpa, ayo sekarang kita mulai pekerjaan hari ini." ajak Wulan dengan penuh semangat sembari mengurai pelukan.
Grandpa mengangguk, lalu membuka satu persatu map yang ada dihadapannya, dan dengan sabar menjelaskan satu persatu ke cucunya.
Wulan pun memperhatikan dengan serius. Bila ia paham, ia menganggukkan kepalanya. Bila belum paham ia akan mengerutkan dahinya, sembari berpikir.
__ADS_1
Tak hanya itu saja, Wulan juga mengecek laporan yang ada di meja grandpa nya dengan penuh ketelitian.
Karena perusahaan asuransi, adalah perusahaan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Satu saja angka berubah karena kesalahan, maka akan mempengaruhi angka lainnya.