Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
71. Suara itu


__ADS_3

Wulan kembali ke kamar, untuk mengambil handphonenya. Lalu menghempaskan tubuhnya di kursi santai sambil berselancar di dunia maya.


Tiba-tiba ia merubah posisi duduknya menjadi lebih serius, sambil menatap layar ponselnya ketika melihat anak kecil yang mengumandangkan adzan.


Di bawah gambar tersebut juga terdapat sederet tulisan yang di rangkai, dan ia hanya bisa mengetahui artinya lewat terjemahan yang tertulis di bawahnya.


Entah kenapa hatinya begitu tersentuh dengan suara anak kecil tersebut, yang terdengar sangat merdu di telinga dan begitu menentramkan hatinya. Hingga ia memutarnya sampai berulang kali.


Terkadang ia juga tak sengaja mendengar suara adzan. Sering bertemu dengan Aisyah dan beberapa temannya yang memakai hijab, tapi hatinya juga terlihat biasa saja.


Tapi setelah pertemuan nya dengan Salman, semua itu terasa begitu berbeda. Sangat menyentuh qalbu nya hingga merasuk di jiwanya.


Grandma yang hendak memanggilnya untuk mengajaknya makan malam tertegun, dan berdiri di balik pintu dekat balkon.


Darahnya berdesir aneh ketika mendengar suara adzan dari jarak yang sangat dekat. Hatinya diliputi ketenangan yang jauh lebih tenang, daripada selama ini yang ia dapatkan.


Wulan berkali-kali memutar video itu. Baik dirinya maupun grandma sama-sama meresapi untaian kalimat itu.

__ADS_1


Hingga tanpa sadar grandpa sudah berdiri di dekat istrinya. Ia terkejut ketika melihat istri dan cucunya sama-sama diam mendengarkan adzan.


"Bukan kah kamu tadi mau memanggil Wulan untuk makan malam bersama?" Suaranya mengejutkan grandma dan Wulan yang bertepatan dengan berhentinya suara adzan.


Gadis itu segera mematikan handphonenya, dan menoleh melihat apa yang terjadi.


"Iya, ini aku juga mau memanggilnya." Grandma menoleh pada Wulan.


"Ayo sayang kita makan malam bersama." Wulan mengangguk dan bangkit berdiri.


"Wulan merasa terharu, memanggil untuk makan malam saja, harus orang dua." kekeh gadis itu untuk mencairkan suasana.


Jantung Wulan seketika berdegup kencang, ternyata sejak tadi grandma memperhatikan ia ketika memutar video adzan. Ia jadi merasa tak enak dengan mereka berdua.


Mereka kini tengah duduk mengitari meja makan. Satu persatu dari ketiga orang itu bergiliran mengambil makanan yang terhidang di meja. Lalu mulai menyuap makanan ke mulut masing-masing.


Sesaat suasana tampak tegang, tapi akhirnya masing-masing dari mereka mulai saling bertanya tentang kegiatan apa yang saja yang dilakukan hari ini. Sehingga kini suasana tampak mencair dan lebih hidup.

__ADS_1


"Ayo kita segera istirahat, besok kita harus lebih bersemangat lagi untuk menyambut hari." ucap grandpa mengingatkan.


"Siap grandpa." Wulan menempelkan ujung jemari ke jidatnya sambil tersenyum, membuat grandma dan grandpa juga tersenyum ke arahnya.


Mereka bertiga bersama-sama membersihkan sisa makanan dan mencuci piring kotornya. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri lalu tidur.


Di dalam kamar, pasangan sepuh yang belum bisa tidur itu tengah bercakap-cakap.


"Kenapa kamu diam saja ketika cucu kita mendengarkan suara menyanyi itu?"


"Apa itu suara menyanyi?"


Grandpa mengedikkan bahunya, pertanda ia juga kurang tahu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku." ucap grandpa mengingatkan.


"Sebenarnya aku ingin memanggil Wulan. Tapi, kaki ku tiba-tiba sulit untuk berjalan. Karena mendengar suara itu begitu menentramkan hati ku. Padahal selama ini aku sudah merasa hidup nyaman dan tentram. Ternyata aku salah, ada suatu hal yang membuat ku merasa jauh lebih tenang dan tentram. Yaitu suara tadi." grandma berkata jujur pada suaminya.

__ADS_1


Lelaki itu pun menghirup nafas dalam-dalam sebelum menanggapi ucapan istrinya, yang entah kenapa terasa menusuk ulu hatinya.


__ADS_2