Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
84. Tradisi keluarga


__ADS_3

Ba'da Isya', Salman bersiap-siap untuk keliling ke cabang counter. Selain untuk mengambil uang transaksi, juga untuk mengecek kondisinya.


Ia pun berpamitan pada Oma Rohmah. Wanita sepuh itu sekali lagi mengingatkan nya untuk pulang ke rumahnya.


Sembari menyunggingkan senyum, Salman mengangguk pada omanya. Lalu ia pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah kecil itu.


Seperti biasa, ia memutar nasyid untuk menghilangkan rasa bosannya. Karena tak ada teman untuk di ajak ngobrol.


Bibir tipisnya bergerak mengikuti irama yang tengah di putarnya. Membuat perjalanan nya tidak terasa lama, dan akhirnya sampai di tujuan pertama. Ia pun mematikan irama nasyid itu dan bergegas turun dari mobil.


Kaos polos, celana panjang di atas mata kaki, serta sendal jepit, dan tak lupa tas selempang menempel sempurna di tubuhnya.


Rambut hitam belah samping dan aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya, terasa sangat sedap di pandang.


Ia hanya akan mengenakan kacamata hitam jika memang cuaca sedang terik. Bukan seperti kebanyakan orang yang memakai kacamata hitam karena mengikuti sebuah trend.


Karena jauh dari kesan mewah dan glamor menjadi ciri khasnya. Meskipun begitu, banyak sekali para pelanggan counter yang jatuh hati padanya.

__ADS_1


Ia berdiri di samping pintu masuk sambil mengedarkan pandangannya memperhatikan keadaan counter dengan seksama. Setelah puas, barulah ia berjalan menuju meja kasir.


Seperti biasa, ia akan selalu mengecek data transaksi dengan teliti. Lalu mencocokkan uang yang ada dengan laporan transaksi di laptop.


Setelah puas berada di counter cabang satu, barulah ia pindah ke cabang berikutnya. Begitu seterusnya sampai seluruh cabang counter terjamah oleh kakinya.


Dan yang terakhir yang akan ia kunjungi adalah counter pusat. Yakni counter yang berada di depan rumah Oma Rohmah.


Berawal dari jualan pulsa di depan rumah, sampai membuat ruangan kecil yang digunakan sebagai counter itu. Lalu papa Reyhan dengan telaten membuka satu persatu cabang counter. Dan akhirnya sekarang ia telah memiliki 10 cabang di kota-kota terdekatnya.


Papanya berpesan padanya saat ia minta ijin tadi untuk menginap di rumah omanya. Agar membelikan omanya martabak.


Makanan murah meriah itu memiliki kenangan tersendiri di keluarga papa Reyhan. Karena dulu saat hidup susah dan serba pas-pasan. Ketika opa dan Oma mendapat gaji dari pabrik, akan membeli makanan itu.


Saat papa Reyhan masih muda dan memiliki penghasilan sendiri, setiap gajian ia juga selalu membeli makanan itu.


Baik martabak manis atau pun martabak telur, mereka sangat menyukainya. Karena mereka hanya akan makanan seenak itu sekali dalam sebulan.

__ADS_1


Dan ketika penghasilannya semakin bertambah, papa Reyhan barulah membeli aneka makanan kekinian lainnya. Terkadang juga mengajak jalan-jalan keluarganya. Namun satu hal yang tak boleh dilupakan, yakni tetap membeli martabak.


"Sebentar mas kembaliannya." ucap penjual hendak mengambil uang yang ada dalam laci.


"Tidak usah mas. Kembaliannya ambil saja. Permisi." ucap Salman sambil tersenyum tipis lalu pergi dari lapak penjual martabak.


"Terima kasih mas." seru penjual martabak kegirangan.


Bahkan sifat Salman sangat persis dengan papanya.


Bukan tidak menganggap uang itu barang yang tak penting, lantas tidak mau menerima kembaliannya.


Tapi ia sadar, mencari uang itu sulit. Seperti yang selalu diucapkan papanya selama ini. Maka dari itu kamu harus menghargai uang yang kita punya.


Menyimpannya baik-baik, dengan cara menitipkannya pada orang-orang. Terlebih orang yang sangat membutuhkan.


Karena suatu saat nanti, uang itu akan kembali pada kita. Uang itu nanti yang akan menolong kita. Asal kita ikhlas melakukan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2