
Tidak hanya keluarga Fatim yang datang. Tapi keluarga pasangan Aisyah dan Fatih juga datang. Apalagi kedua orang tua mereka adalah adik dari papa Reyhan. Sehingga datang mengikuti acara tersebut adalah suatu kewajiban.
Aisyah dan Fatih berangkat dari rumah kedua orang tua Fatih. Karena kebetulan keduanya menginap disitu. Sedangkan papa Andre dan umi Rosyidah berangkat dari pondok bersama dengan kedua orang tuanya juga.
Bayi mereka, yang bernama Jundi juga diajak ikut serta. Ia mengenakan baju kurta berwarna mocca. Sangat lucu dan terlihat gembul.
Aisyah masih ingat, ketika mengajak bayinya menjenguk Wulan yang baru melahirkan.
Bayi yang berumur satu tahun itu, terus saja memegangi dan terkadang berceloteh dihadapan bayi perempuan milik Wulan.
Seolah-olah, ingin mengajaknya bercanda. Dan bayi milik Wulan terlihat merespon walaupun hanya dengan sedikit senyuman.
Kini, mereka pun sudah sampai di tempat acara. Satu persatu merek turun dari mobil, dan merapikan penampilannya.
Di belakang mobil mereka, mobil yang dikendarai papa Andre pun juga ikut berhenti. Mereka segera turun, dan bergabung dengan Fatih dan keluarga besannya.
Mereka juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan keluarga pasangan Fatim dan Leon. Yakni, takjub melihat kemegahan acara. Padahal mereka baru melihat luarnya, belum dalamnya.
Mereka menganggap, itu bukanlah sebuah acara aqiqah biasa. Karena segala sesuatunya sangat istimewa.
"Ayo kita segera masuk." ucap haji Dahlan. Agar tidak menggangu orang yang hendak memarkirkan kendaraannya.
Mereka pun mengangguk bersamaan, lalu berjalan menuju tempat acara.
"Bukan kah yang berjalan di depan kita itu adalah keluarganya Adam?" tanya papa Andre memastikan penglihatannya tidak salah lihat.
"Iya, mas. Betul itu." Umi Rosyidah membenarkan ucapan suaminya.
__ADS_1
Mereka tersenyum tipis, lalu mempercepat langkahnya.
"Assalamu'alaikum." ucap papa Andre.
Papa Adam dan keluarganya pun menoleh, mendengar seseorang yang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." balas keluarga papa Adam. Ketika melihat siapa yang berdiri dihadapan mereka.
"Hei. Baru datang?" tanya papa Adam, sembari bersalaman dengan papa Andre dan keluarganya yang laki-laki. Sedangkan para wanita dari kedua keluarga itu, juga terlihat saling bersalaman.
Mereka sejenak bercakap-cakap. Apalagi melihat perut Fatim yang semakin membuncit itu, menjadi daya tarik bagi mereka untuk membuka obrolan singkat.
"Sepertinya habis dari sini, tak lama lagi, kamu juga akan menggelar acara aqiqah untuk calon cucu mu, Dam." gurau papa Andre.
"Aku berpikirnya juga seperti itu. Dan kalian harus hadir nantinya." Mereka pun tergelak bersama.
"Ah, bukan kah kamu yang memanggil ku tadi. Kamu pula yang menyalahkan."
"Aku tidak memanggil mu. Tapi mengucapkan salam." protes papa Andre.
"Ya Allah. Kalian sudah tua. Kenapa justru bertengkar seperti anak kecil?" ucap haji Dahlan sambil geleng-geleng kepala.
Keluarga mereka juga terkikik geli melihat keduanya bersikap seperti itu. Mereka pun segera memperlihatkan undangan pada panitia pelaksana. Setelahnya, barulah mereka bisa masuk dan bertemu dengan keluarga besar Salman dan Wulan.
Kedua keluarga sahabat papa Reyhan itu benar-benar takjub sampai menganga, melihat kemeriahan tempat acara Aqiqah.
"Ini sih, bukan acara aqiqah seperti biasanya. Bahkan melebihi petinggi negara kita." ucap papa Adam. Yang disetujui oleh yang lain, dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Mereka geleng-geleng kepala, dan tak habis pikir. Berapa dana yang digelontorkan untuk membiayai acara semewah itu.
"Apa kalian tidak mau bersalaman dan mengucapkan atas kelahiran cucu kami?" papa Reyhan menginterupsi sahabatnya, sehingga membuat mereka terkekeh lagi.
"Kami hanya sedang mengira-ngira berapa total biayanya." balas papa Bayu dengan santainya.
"Apa kalian mau membantu membayarnya?" tanya papa Reyhan lagi.
"Boleh. Nanti kita bisa buatkan kotak sumbangan." kekeh papa Bayu lagi.
"Astaga, mulut mu." papa Reyhan mendelik ke arah adiknya. Lagi-lagi mereka pun terkekeh. Ada saja tingkah yang mereka perbuat.
Mereka pun meletakkan hampers untuk gadis kecilnya Salman dan Wulan di meja. Lalu bersalaman dan berpelukan dengan pemilik rumah.
Saat menyalami Wulan dan Salman, pandangan mereka tertuju pada bayi kecil dengan dress pesta yang mewah di dalam stroller. Dan bola beningnya tengah menatap ke arah para tamu undangan.
"Ya Allah, cantik sekali dia. Ingin rasanya aku bawa pulang." celoteh papa Bayu.
"Bawa saja, Bay. Nanti aku carikan karung." timpal papa Andre.
"Memang cucuku rongsokan sampah. Dih, tega kalau bicara." papa Reyhan pura-pura marah, hingga melotot.
Padahal ketika bertemu dengan sahabatnya memang seperti itu kebiasaannya.
Kedua orang tua Wulan juga ikut terkekeh melihat lawakan yang ditunjukkan oleh keluarga besan dan sahabat-sahabatnya.
"Untungnya aku tidak mengundang grup lawak Sule dan kawan-kawannya. Ternyata besan ku sendiri juga bisa ngelawak dengan teman-temannya. Lumayan hemat pengeluaran." seloroh Daddy Marquez, yang sekali lagi membuat mereka terkekeh, hingga perut mereka sakit.
__ADS_1