
Kedua keluarga itu memperebutkan anak dan cucu mereka. Masing-masing masih merasa kangen dengan cucunya.
"Stop!" Seru Salman. Kedua orang tua mereka seketika berhenti berkata.
"Jangan ribut seperti itu dong papa, Daddy. Kalau seperti itu, nanti Salman dan Wulan mau beli rumah sendiri lho." Ancam Salman.
"Eh, jangan dong. Mama nanti kalau kangen, nengok nya kejauhan." Cegah mama Laura.
"Ish, gara-gara papa nih. Anak kita jadi ngambek kan." Mama Laura memukul lengan suaminya.
Untung saja suaminya bisa menghindar. Kalau tidak, bisa sakit semua badannya. Karena dibantai oleh istrinya. Kalau dibantai di atas kasur mah enak. Dengan senang hati papa Reyhan menerima.
"Ah, kalian ini sudah tua kelakuan bukan semakin baik, tapi makin menjadi-jadi. Mirip anak kecil." Opa Atmaja dan grandpa menarik telinga papa Reyhan dan Daddy Marquez.
"Ampun, pa. Nanti bisa malu aku."
"Sudah-sudah, ayo kita masuk ke dalam." Wulan menarik tangan Salman, dan keduanya mendahului orang tua masing-masing.
"Assalamu'alaikum." Ucap rombongan Salman dan Wulan. Saat mereka sudah sampai di kediaman Fatim.
"Wa'alaikumussalam." Ucap keluarga Fatim bersamaan.
Mereka pun saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Aku pikir kalian tidak akan datang." Celoteh Fatim, saat ia sudah mengurai pelukannya dengan Wulan.
"Ini acara yang sangat penting, kami tidak boleh melewatkannya. Iya kan mas?"
__ADS_1
Salman menganggukkan kepalanya asal, walaupun tidak tahu apa yang tengah istrinya perbincangkan. Karena ia sendiri memang tengah berbincang sejenak dengan Leon.
"Ya sudah, silahkan masuk. Deretan kursi kosong dibagian depan sudah kami persiapkan untuk kalian." Ucap mama Tiwi.
"Baik, terima kasih sudah memperlakukan seistimewa itu ya." Ucap mama Laura, lalu mereka pun berjalan menuju kursi yang di maksud tadi.
Rombongan keluarga Salman dan Wulan menempati deretan kursi yang telah dipersiapkan untuk mereka.
Tak berselang lama dengan kedatangan keluarga Salman, rombongan keluarga Aisyah juga datang. Yang terdiri dari anak, suami, kedua orang tuanya dan juga kakek dan neneknya.
Setelah bersalam-salaman dan berbincang sejenak dengan tuan rumah, rombongan itu pun duduk di kursi yang sederet dengan rombongan keluarga Salman.
Tak berselang lama, setelah kedatangan rombongan keluarga itu, deretan kursi untuk tamu telah penuh terisi.
Keluarga Fatim dan Leon pun naik ke atas panggung dan duduk disana. Yang bersisian dengan team penabuh rebana.
Satu persatu acara dilewati dengan baik. Seperti pembukaan, tilawah Al-Qur'an, dan kini sambutan dari tuan rumah. Yang di wakili oleh Leon, selalu owner nya.
Leon menggeser badannya, agar bisa duduk lebih ke depan. Lalu menarik nafas dalam-dalam. Karena ini adalah kali pertamanya berbicara di hadapan orang banyak, sebagai seorang mualaf.
"Assalamu'alaikum. Yang saya hormati Bapak ustadz haji Dahlan.
Serta seluruh bapak atau ibu, hadirin dan tamu undangan yang dirahmati Allah.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan segala puja dan puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang dengan rahmat-Nya.
Sehingga kita bisa berkumpul dan dipertemukan dalam acara tasyakuran aqiqah atas kelahiran putri kami yang kami beri nama Abidah Alfatunnisa.
__ADS_1
Sholawat serta salam senantiasa mari kita curahkan kepada Nabi Agung Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabatnya yang dengan berkah dan syafaat beliau. Allahumma Aamiin.
Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada bapak atau ibu dan tamu undangan atas keikhlasannya yang telah mau meluangkan waktu guna menghadiri acara syukuran aqiqah pada hari ini.
Bapak atau ibu, Hadirin yang dimuliakan Allah,
Melalui acara ini pula, kami sekeluarga memohon kepada bapak atau ibu dan para hadirin untuk bersedia mendoakan kami sekeluarga dan terkhusus pula untuk putri kami
Semoga putri kami ini bisa tetap dalam iman dan islamnya, luas dan berkah rizkinya, cerdas dan bersih hatinya serta selalu dalam perlindungan Allah swt, Aamiin.
Demikian yang bisa saya ungkapkan sebagai tuan rumah, kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan datang dari diri saya pribadi.
Wabillahi taufik wal hidayah...
Wassalamualaikum Warahmatullahi wa barakaatuh."
Setelah memberi kata sambutan, Leon beringsut mundur. Lalu acara dilanjutkan kembali.
"Maa syaa Allah, kak. Ternyata kamu pintar juga ya. Bisa memberi sambutan tanpa menggunakan contekan." Puji Fatim dengan wajah yang tersenyum indah.
Ia sangat bangga pada suaminya. Sehingga membuat pria itu cukup gede rasa.
Fatim tidak tahu, jika suaminya bersusah payah untuk menyusun kata itu menjadi sebuah kalimat yang indah.
Dan setelah menulis, selama beberapa hari suaminya itu terus menerus menghafalkan teks bacaan nya.
Alhamdulillah, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Akhirnya tadi Leon bisa mengucapkan semuanya, tanpa harus belibet membuka contekan, yang sudah ia persiapkan di balik saku kantung kemko.
__ADS_1