
Selama di tinggal umrah. Leon benar-benar kesepian di rumah Marquez. Untuk mengusir rasa jenuh dan bosan, ia memanfaatkan waktu senggangnya untuk mempelajari apa yang disampaikan Fatim padanya kemarin.
Bahkan akhirnya ia justru menikmati itu semua. Sampai-sampai ia lupa waktu makan. Untung ada bibi yang mengingatkan.
Diam-diam ia juga membaca dua kitab sekaligus. Dan menemukan beberapa hal yang mendorongnya untuk mempelajarinya lebih dalam.
Dalam kurun waktu satu Minggu, ia telah menyelesaikan membaca dua kita itu. Dan ketika Salman pulang nanti, ia ingin bertanya lebih banyak dengannya.
Ketika belum bisa tidur, ia membuka galeri handphonenya, dan melihat fotonya dengan Fatim. Entah kenapa hanya dengan melihat foto gadis itu bisa membuatnya tersenyum sendiri.
Ia teringat, jika memiliki nomor teleponnya. Bergegas ia menekan tombol hijau untuk menelpon nya.
Leon mengernyitkan dahi ketika panggilannya belum juga di angkat. Dan pada detik-detik terakhir akan mati terdengar suara salam dari seberang sana. Membuat senyum Leon kembali muncul.
"Assalamu'alaikum. Hallo." ucap Fatim di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam." balas Leon sedikit terbata. Karena baru di Indo ia berhasil mengucapkan kata itu.
"Ada apa, kak?"
"Aku belum bisa tidur. Lihat kamu online langsung deh telepon kamu."
"Terus. Hubungannya sama aku apa?" Fatim terkekeh di seberang sana.
"Temani aku ngobrol lah. Eh, tidak-tidak. Maksud aku, kamu yang bicara, aku yang mendengarkan sampai tertidur."
"Oh, jadi kamu nyuruh aku buat mendongeng?"
"Iya. Aku senang saja mendengar cerita mu kemarin itu."
__ADS_1
"Cerita yang mana? Aku tidak pernah bercerita tentang timun mas, kancil mencuri timun..." belum selesai Fatim bicara sudah di potong Leon.
"Bukan yang itu. Kalau itu aku sudah tahu dari jaman baheula. Ya, setiap penjelasan yang kamu sampaikan ke aku saat di restoran, saat pernikahan Wulan."
"In shaa Allah, nanti kalau ada waktu ya kak. Sebenarnya aku takut dimarahin papa dan mama kalau sering-sering jalan bareng sama kamu. Soalnya kita berbeda jenis."
"Kamu ke rumah om Marquez saja. Disini kan ada asisten rumah tangganya."
"Papa melarang ku pergi ke rumah laki-laki. Ngga sopan banget itu."
"Huh, ribet sekali sih cuma ingin ketemu sama kamu saja." gerutu Leon kesal, dan membuat Fatim terkekeh.
"Ya sudah, kalau begitu besok share look alamat rumah mu. Aku mau ke rumah mu saja. Kamu ngga boleh menolak kedatangan tamu agung seperti ku. Yang jauh-jauh datang dari Belanda."
"Eh, kok maksa sih? Ya sudah nanti aku bilang ke papa. Biar papa bisa menemani kamu ngobrol juga."
"Huh, papa mu terus yang jadi alasan. Ya sudah besok sore, aku pastikan main ke rumah mu."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah itu panggilan pun terputus.
"Gimana dia mau punya pacar. Semuanya saja di atur papanya. Dasar cewek manja." gumam Leon sebelum tidur.
**
Hari berikutnya. Wulan tidak menemani kakeknya jualan. Karena bertugas di rumah sakit. Pekerjaan di hari itu memang cukup menyita waktu. Sampai-sampai ia tidak bisa membuka handphonenya.
Setelah selesai, barulah ia bisa menyenderkan punggungnya di kursi, sambil membuka handphonenya.
__ADS_1
Ia membekap mulutnya melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Leon. Bahkan ia juga lupa untuk menyampaikan pada papanya.
Ia pun melangkah mendekati papanya.
"Pa, papa ingat ngga sama laki-laki bule saudaranya istri kak Salman?"
"Memang kenapa?" Papa mendongakkan kepalanya menatap wajah anaknya.
"Em, dia mau main ke rumah kita." lirih Fatim. Karena takut jika papanya berpikir macam-macam.
"Papa, nanti kita bisa kok ngobrol bareng-bareng. Fatim janji tidak akan berduaan dengannya." imbuh Fatim lagi.
"Baiklah, papa ijinkan. Kebetulan pekerjaan papa juga sudah selesai kok. Pulang sekarang yuk." Fatim mengangguk sambil tersenyum. Ia segera kembali ke tempat duduknya mengambil tasnya.
Sementara itu, Leon jingkrak-jingkrak, akhirnya pesan yang ia kirim tadi di balas oleh Fatim. Ia segera bersiap-siap untuk berangkat menuju kediaman Fatim.
Tak lupa ia pamit dengan para asisten rumah tangga om Marquez.
Ia mengikuti petunjuk google map dengan seksama. Agar tidak kesasar.
Petunjuk digital itu berhenti pada sebuah rumah mewah bercat putih. Sejenak ia mengamati rumah itu. Sebelum akhirnya turun.
Namun naas, ketika ia baru menutup mobil, tiba-tiba dari arah belakang mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan sedikit oleng. Sehingga membuatnya tubuhnya terpental.
Mobil itu terus melaju dengan kencang. Sementara Leon sudah terkapar di jalan tak sadarkan diri.
Beruntung security melihat kejadian itu, sehingga ia segera keluar dan menolong Leon.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Fatim dan papanya tiba. Melihat security rumahnya tengah berada di jalan bersama seseorang, pasangan ayah dan anak itu menepikan mobilnya dan melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kak Leon." ucap Fatim dengan mata berkaca-kaca melihat tubuh Leon sudah bersimbah darah.