
Siang itu untuk yang kedua kalinya, Fatim melayani Leon dengan sepenuh hati. Sampai tempat tidur mereka berantakan. Dan selimut yang tadi berbentuk angsa, sudah amburadul tak karuan.
Semua itu Leon lah yang membereskannya. ementara Fatim tengah mandi, untuk menghilangkan segala kotoran dan peluh yang terasa lengket menempel di tubuhnya.
"Sudah rapi sekali." gumam Fatim saat ia berjalan menuju ke arah tempat tidurnya.
"Iya dong. Nanti malam kan mau di pakai lagi." balas Leon santai, sambil berlalu ke kamar mandi.
"Kak Leon." pekik Fatim.
Seketika pikirannya terbayang dengan apa yang baru saja mereka lewati berdua. Sedangkan Leon justru terkekeh.
"Jangan lupa, nanti pakai baju yang tadi aku belikan." seru Leon, sebelum masuk kamar mandi.
"Ish, dasar bule nyebelin." Fatim menggerutu sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan bibirnya mengerucut. Tak lama kemudian, wajah cemberutnya memudar jika mengingat semua itu, suaminya lakukan karena bentuk cinta nya.
**
Di tempat lain. Salman hanya bisa terdiam seperti obat nyamuk. Karena menjadi pendengar yang baik, untuk para ibu-ibu yang sedang membahas tentang kehamilan.
Istri, mama dan mommy mertua itu, selalu menimpali ketika salah satu dari mereka bicara. Ada saja hal yang menggelitik hati mereka untuk ditanyakan dan dibahas.
Sebenarnya ia ingin ke kamarnya untuk merebahkan diri sambil mengecek laporan dari counternya, melalui handphone. Tapi ketiga wanita itu melarangnya.
__ADS_1
Dengan alasan, ia sebagai laki-laki juga harus mendengarkan tentang kehamilan. Agar ia bisa menjadi suami yang siaga.
Akhirnya, Salman mematuhinya. Karena takut kena omel mamanya yang terkenal cerewet itu. Ia juga tidak ingin istrinya tidur memunggunginya. Apalagi di situ juga ada mommy mertuanya, tentu citranya akan buruk.
Hari menjelang sore, barulah mereka selesai bercerita. Sebenarnya Wulan ingin pulang, tapi mama Laura menahannya. Dengan alasan menantunya itu tidak boleh terlalu kecapekan.
Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah Wulan. Soal mommy, ia akan di jemput oleh sopirnya.
"Titip putri ku ya, Sis. Tolong jaga dia dan calon bayinya." pesan mommy pada mama Laura.
"Tentu aku akan menjaganya sebaik mungkin, sis. Wulan itu sudah aku anggap seperti anak sendiri." balas mama laura ramah.
"Hem, aku tahu. Kamu memang seorang ibu yang baik. Pantas saja sifat mu menurun pada, Salman."
Mobil yang menjemput mommy melati sudah datang. Keluarga Salman mengantarkannya sampai teras.
Saat mommy sudah ke masuk ke mobil, mereka saling melambaikan tangannya. Lalu kendaraan roda empat itu mulai melaju pelan.
Setelah kepulangan mommy, mereka kembali masuk rumah.
Wulan yang merasa badannya sedikit capek, bergegas merebahkan diri di atas ranjang tempat tidur. Tak lama kemudian ia sudah terlelap.
Salman yang baru saja selesai mandi melihat hal itu, mengurungkan niatnya untuk mengajak istrinya berkunjung ke counter. Tidak tega rasanya untuk membangunnya.
__ADS_1
Salman pun menyelimutinya, agar tidurnya lebih nyenyak. Setelahnya ia pun berpamitan dengan mamanya.
**
Hari kian merangkak malam, Wulan menggeliat lalu terbangun. Seketika ia terduduk dari posisi tidurnya tadi, ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Lalu ia menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan suaminya.
"Dimana, mas Salman? Tadi aku sudah sholat belum ya?" Wulan coba mengingat-ingat apa saja yang sudah ia lewati seharian ini.
"Astaghfirullah. Aku belum sholat Maghrib." pekiknya, lalu ia pun beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi.
Ia mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu mengerjakan sholat Maghrib. Setelah selesai mengerjakan sholat, perutnya berbunyi nyaring.
"Yah, Mas Salman ngga ada, perut malah minta di isi." gumamnya sambil memegangi perutnya.
Ia melepas mukenanya, dan berniat ke dapur untuk mengambil makanan. Saat membuka pintu, ia di buat terkejut ketika melihat suaminya yang berdiri di hadapannya.
"Kamu mau kemana, sayang?" " Kamu dari mana, mas" ucap mereka bersamaan, lalu meledak lah tawa keduanya.
"Tadi aku habis dari counter. Mau mengajakmu. Eh, kamu malah tidur. Aku merasa tak tega untuk membangunkan mu. Jadi aku titip pesan ke mama, kalau kamu butuh apa-apa, atau mencari keberadaan ku. Tapi kata mama kamu sampai jam makan malam belum juga bangun. Mama sudah berulang kali membangunkan mu, tapi kamu tidak bangun juga." beber Salman panjang lebar. Yang membuat Wulan mengurai senyum. Ia percaya keluarga suaminya begitu perhatian dengannya.
"Sekarang kamu mau kemana, sayang?" ulang Salman.
"Anakmu kelaparan. Mau makan." ucap Wulan sambil mengusap perut datarnya.
__ADS_1
"Anaknya atau mamanya, yang kelaparan?" gurau Salman. Keduanya kembali mengurai senyum.