
Salman menatap gadis cantik yang ada dihadapannya. Ia membenarkan apa yang diucapkan Wulan.
Pertemuan mereka yang tidak di sengaja telah memberi warna lain dalam hatinya. Warna yang berbeda dari warna yang selama ini tercipta dalam hidup dan harinya.
Awalnya Salman hanya menganggap hal itu sebuah kekonyolan yang tidak sengaja tercipta.
Namun, melihat manik mata biru yang menatapnya dengan intens, membuatnya yakin jika semua ini bagian dari skenario Tuhan yang harus di jalani. Meskipun terasa sulit.
Bagaimana tidak?
Jika dalam pertemuan yang singkat telah menumbuhkan benih cinta bagi Wulan, dan butiran rasa di hati Salman.
Jika Wulan berani menyingkirkan ego serta rasa malunya untuk menyatakan perasaannya, berbeda dengan Salman yang masih sekedar menerka-nerka.
Di tengah keheningan keduanya, terdengar suara mobil yang berhenti di depan mereka. Ternyata 2 orang montir yang di telepon Salman tadi.
Setelah memberi hormat pada tuannya, keduanya segera mengecek kondisi mobilnya. Tak lupa Salman juga memerintahkan montirnya untuk mengecek kondisi mobil gadis di sampingnya.
Kini Salman dan Wulan masih duduk di tempat yang sama, sambil memperhatikan apa yang tengah dikerjakan montir itu. Meskipun pikiran keduanya melayang kemana-mana.
Sekian menit berselang, kedua montir itu memutuskan untuk membawa mobil tuannya ke bengkel, karena terdapat kerusakan yang cukup parah di bagian belakangnya.
__ADS_1
Sedangkan mobil Wulan juga mengalami kerusakan yang cukup parah, di bagian depan. Salman pun menyuruh montirnya untuk membawa mobil Wulan ke bengkel juga. Walaupun pada awalnya gadis itu menolak.
Setelah kepergian montirnya, kini tinggal Salman dan Wulan yang berdiri di bawah mobil rindang itu.
"Kamu mau kemana?"
Wulan terlihat garuk-garuk kepala, karena tidak memiliki tujuan tertentu. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, jika hanya sekedar ingin jalan-jalan untuk mengalihkan pikirannya tentang Salman.
"Aku ingin beli buku."
"Baiklah, akan ku antar. Tapi mengendarai mobil itu, bagaimana?" Salman menunjuk mobil yang sengaja di tinggal oleh montirnya. Karena kedua montirnya masing-masing mengendarai mobil yang rusak.
Wulan berbinar mendengar tawaran Salman. Ia pun langsung mengangguk mengiyakan. Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang selalu ramai itu. Hampir separuh perjalanan mereka habiskan dengan saling diam. Meskipun begitu, Wulan tetap senang, karena kapan lagi bisa berduaan dengan laki-laki pujaan hatinya.
"Kamu masih sekolah?" tanya Salman memecah kesunyian.
"Aku sudah wisuda. Tapi sekarang jadi pengangguran."
Salman menoleh ke arah Wulan dan menelisik wajah Wulan yang memang terlihat baby face itu.
__ADS_1
"Kenapa liatin nya seperti itu? Ngga percaya ya?" Wulan bertanya dengan gaya centilnya.
"Kalau sudah wisuda, kenapa masih beli buku?"
Pertanyaan dari Salman itu membuat senyum Wulan yang tadi mengembang mendadak sirna. Karena ia hanya sekedar mencari alasan.
"Aku mau cari buku apa saja yang bisa digunakan untuk belajar bisnis."
Salman manggut-manggut mendengar penjelasan Wulan.
"Opa dan papa ku punya banyak buku soal bisnis, kalau kamu mau aku bisa meminjamkan padamu." tawar Salman.
Wulan kembali berbinar setiap kali mendengar tawaran lelaki tampan itu. Ia pun mengangguk setuju.
"Kita langsung ke rumah mu saja, biar bukunya bisa segera aku pelajari." pinta Wulan dengan penuh semangat.
Salman hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus menyetir.
'Oh kak Salman, aku yakin sebentar lagi kamu akan luluh.' batin Wulan penuh keyakinan.
❤️❤️
__ADS_1