Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
80. Membantu kakek


__ADS_3

Pagi itu Salman menunggu counter yang terletak


di depan rumah neneknya. Karena salah satu karyawannya ada yang tidak masuk kerja, sakit.


Tak berselang lama setelah ia memarkirkan mobilnya di halaman, kakek Somad bersama Fatim datang.


Fatim adalah anak dari salah satu sahabat mama Laura, yakni Tante Tiwi.


Cukup lama kakek Somad berjualan cilok di depan rumah nenek Rohmah. Semua itu karena tawaran papa Reyhan, sewaktu ia masih muda dulu. Dan berjalan sampai sekarang.


Salman sebagai yang lebih muda, segera menghampiri kakek Somad untuk mencium punggung tangannya. Setelahnya ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada pada Fatim.


Gadis itu pun melakukan hal yang sama dengannya, sambil menyunggingkan senyum dan menundukkan kepalanya.


"Kamu mau mengunjungi nenek mu ya nak?" tanya kakek Somad pada Salman.


"Iya kek, sekalian. Kebetulan hari ini ada salah satu karyawan yang tidak masuk. Biasanya hari libur seperti ini counter kan ramai. Salman tak enak jika para karyawan kerepotan dengan banyaknya pengunjung nanti."

__ADS_1


Kakek Somad terkekeh mendengar jawaban pemuda dihadapannya. Meskipun anak orang kaya, dia tetap mau mengerjakan pekerjaan yang dilakukan karyawannya. Sopan dan santun seperti kedua orang tuanya.


"Ya sudah kek, Salman ijin menemui nenek dulu ya."


"Iya nak silahkan."


Salman pun berlalu masuk ke dalam rumah kecil yang asri itu. Sedangkan kakek Somad di bantu Fatim mulai menata jualannya.


Sebenarnya ayah Fatim, yakni Adam telah melarang kakek Somad berjualan. Ia bisa memberi uang bulanan untuk kedua mertuanya.


Namun kakek Somad lebih senang mendapatkan uang dengan cara berjualan. Ia merasa hampa karena banyaknya waktu kosong jika tidak di pakai untuk berjualan.


Bahkan uang laba dari berjualan cilok lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhannya, karena sekarang ia telah memiliki 10 cabang cilok.


Dan satu cabang senantiasa ia tunggu sendiri. Yakni yang sekarang ia pakai, yang berada di dekat counter papanya Salman.


Fatim adalah gadis yang cantik dan cukup pintar serta rendah hati. Kini ia sedang menempuh kuliah kedokteran, sesuai keinginannya sendiri.

__ADS_1


Tentu saja apapun keinginannya akan dikabulkan oleh keluarganya nya. Selain materi yang berlimpah, dia adalah cucu satu-satunya dari keluarga ibunya. Dan cucu pertama dari keluarga ayahnya.


Ia melihat sosok ayahnya yang seorang dokter. Senantiasa membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.


Dalam kondisi apapun, jika ada panggilan kerja yang menyangkut nyawa hidup orang lain, maka ia akan segera berangkat melaksanakan tugas itu.


Di sela-sela waktu luang, Fatim memang sering membantu dan menemani kakek Somad berjualan. Ia tak pernah gengsi melakukan hal itu.


Karena prinsip nya, apapun jenis pekerjaan, yang penting itu halal. Justru ia sangat bangga dengan kakeknya.


Walaupun hanya berjualan cilok, tapi nyatanya mampu membayar gaji beberapa karyawan yang menunggu jualan nya.


Sambil menunggu hangat cilok nya, pasangan cucu dan kakek itu duduk di bawah pohon mangga yang rindang.


"Fatim, sebaiknya kamu tidak usah menemani kakek jualan. Waktu belajar mu jadi terganggu kan?" ucap kakek Somad, melihat Fatim membuka buku pelajaran nya.


"Kakek, Fatim ngga merasa terganggu kok. Justru sambil jualan kayak gini, jadi hiburan buat Fatim. Biar ngga terlalu stress memikirkan pelajaran." balas gadis itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Eh, ada yang beli. Biar Fatim layani kek." imbuhnya lagi, ketika melihat seorang laki-laki yang mendekat ke arah gerobak.


Gadis berjilbab itu tampak piawai menyiapkan dagangan dan melayani pembeli. Serta sangat ramah. Sehingga para pembeli sangat puas dengan pelayanan yang diberikan.


__ADS_2