
"Leon, kamu mau kemana? Ayo kita sarapan dulu." ajak mama Tiwi pada menantunya.
"Leon, mau beli sate ayam, ma."
"Mama kan sudah masak yang banyak dan enak untuk kalian." protes mama sedikit bersedih.
"Maaf, ma. Tapi ini permintaan Fatim. Tadi bilangnya minta bubur ayam. Sudah Leon belikan bubur ayam. Eh, katanya minta ganti sate ayam. Padahal Leon tadi ngga salah dengar."
"Oh, ya sudah. Tolong belikan kalau gitu ya. Maaf jika dia sedikit merepotkan mu."
"Iya, ma. Tidak apa-apa. Leon pamit dulu ya." Leon mencium punggung tangan mama mertuanya.
Setelah itu bergegas Leon kembali mengajak security di rumahnya untuk membeli sate ayam.
Ketika sate ayam sudah ia dapatkan, dan diberikan pada Fatim. Lagi-lagi istrinya itu meminta makanan yang lain. Hal itu terjadi sampai siang hari.
Leon benar-benar dibuat capek oleh kelakuan istrinya. Sampai ia duduk di anak tangga. Mama mertuanya yang melihat hal itu, menghampirinya.
"Ada apa nak, Leon?" Mama Tiwi menepuk bahu menantunya pelan.
Leon pun menceritakan semua yang terjadi dengan istrinya. Mama Tiwi yang mendengar pengaduan itu merasa ada yang aneh.
Papa Adam yang melihat menantu dan istrinya sedang berduaan, mendekatinya.
"Kenapa ngobrol di bawah tangga seperti ini?" Leon dan mama Tiwi menoleh ke arah papa Adam.
Keduanya menceritakan tentang apa yang terjadi belakangan ini pada Fatim. Karena selama ini Fatim tidak pernah meminta yang macam-macam.
"Apa mungkin, anak kita hamil ya, ma. Dulu seingat papa, mama juga berperilaku aneh seperti itu. Sangat menjengkelkan. Untung papa orangnya sabar."
__ADS_1
"Maksud papa? Jadi selama ini papa ngga ikhlas pada mama?" wajah mama Tiwi mendelik kesal ke arah suaminya.
Papa Adam yang menyadari jika salah dalam berkata, seketika menutup mulutnya.
"Bukan begitu maksud papa tadi, ma. Papa senang kok waktu itu bisa memenuhi semua permintaan mama dengan baik. Oh iya, sebaiknya kita ke kamar Fatim. Mengecek kondisinya. Mama ambilkan test pack di laci meja kamar kita ya. Dan kamu, leon. Belikan permintaan anak papa ya, tolong."
"Baik, pa."
Mereka pun segera berpisah. Tak berapa lama kemudian, mama sudah berada di kamar Fatim, bersama dengan suaminya.
Keduanya membangunkan Fatim. Perlahan wanita itu pun menggeliat, dan kaget melihat kedatangan kedua orang tuanya di kamarnya.
"Papa, mama. Kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Fatim, sambil terduduk.
"Kami hanya mengkhawatirkan keadaanmu saja, sayang." balas papanya.
"Leon, sejak tadi wira-wiri beliin kamu makanan yang kamu pinta. Tapi satu pun tak ada yang kamu makan. Tuh, sampai berjejer di meja." mamanya menunjuk meja yang dipenuhi box makanan.
"Masa Fatim minta makanan sebanyak itu sih, ma?" tanyanya sedikit tak percaya. Mama dan papa mengangguk bersamaan.
"Kami curiga, kamu sedang hamil." imbuh mama lagi.
"Hamil?" gumam Fatim sambil mengusap perutnya yang datar.
"Iya, nak. Coba sekarang kamu pakai test pack ini." papa Adam menyodorkan benda pipih dihadapan anaknya.
Dengan ragu Fatim menerimanya dan mengamati sejenak benda kecil tersebut. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Masa sih, aku hamil." gumamnya lagi ketika berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ia yang juga merasa penasaran, akhirnya segera memakai test pack itu. Setelah menunggu beberapa menit, benda kecil itu mulai bereaksi, dengan menunjukkan garis merah dua. Fatim menutup mulutnya yang menganga.
"Hah, aku beneran hamil." gumamnya dengan senyum yang mengembang.
Bergegas ia keluar kamar mandi, dan menunjukkan hasil test itu pada kedua orang tuanya. Mereka pun menatap tak berkedip pada benda kecil itu.
"Alhamdulillah, bener dugaan kita, pa." ucap mama dengan wajah berbinar. Suaminya pun mengangguk. Mereka bertiga berpelukan bersamaan.
"Kenapa kalian berpelukan?" tanya Leon, yang baru saja masuk ke kamar itu dengan membawa sebungkus ketoprak pesanan Fatim.
"Ini, sayang. Ketoprak pesanan mu." Leon menyodorkan plastik makanan pada Fatim.
"Terima kasih, kak." balas Fatim dengan wajah yang berbinar.
"Leon, selamat ya nak. Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ayah." mama Tiwi mengulurkan tangannya pada menantunya itu.
"Ayah?" ulang Leon, dengan dahi yang mengernyit.
Fatim pun mengulurkan test pack nya pada Leon. Setelah menerima, laki-laki itu sejenak mengamati benda pipih itu. Lalu membolak-balikkan nya.
"Gimana kita bisa mengetahui kalau Fatim tengah hamil, ma. Lewat benda kecil seperti ini." Leon setengah tertawa.
Fatim dan kedua orang tuanya terkekeh kecil. Menyadari kepolosan menantunya itu. Lalu menceritakan bagaimana proses pemakaiannya. Leon yang merasa ilfill, segera membuang benda kecil yang ada ditangannya.
"Leon, memang seperti itu cara pemakaiannya. Tidak usah ilfill, waktu kalian bikin juga tidak ilfill kan?" goda papa Adam.
"Kalau pas itu, enak pa." Leon meringis saat menjawab.
"Kak!" seru Fatim, dan mencubit pinggang suaminya karena malu dengan ucapannya yang selalu to the point.
__ADS_1