
Mereka semua tidak tega melihat Wulan yang duduk bersimpuh di depan Daddy nya. Grandma segera membantunya berdiri.
"Tolong jelaskan padaku, kenapa kalian bisa berubah." ucap Marquez kemudian. Ia menghapus air matanya dengan kasar.
Wulan akhirnya menceritakan semuanya, setelah itu grandpa dan grandma ikut menceritakan perasaannya.
Tak terima dengan cerita anak dan kedua orang tuanya, Marquez meminta buku yang pernah kedua orang tuanya baca. Dan dengan langkah cepat menaiki anak tangga, Wulan mengambil buku yang dimaksud oleh daddy-nya.
Setelah itu, ia menyerahkan buku tebal itu pada daddy-nya. Dengan sedikit kasar Marquez menerimanya lalu membuka dan membaca sebagian isinya. Melati pun merapatkan tubuhnya di samping suaminya, agar bisa ikut membaca buku tersebut.
Setelah membaca separuh isinya, Marquez merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Mereka pun segera memapah tubuh Marquez ke kamarnya.
Mereka mengelilinginya, sedangkan grandma menuju ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Dan tak lama kemudian ia telah kembali ke kamar, lalu menyodorkan teh hangat itu. Melati menerimanya, lalu membantu suaminya untuk meminumkan teh itu.
"Ini memang masalah yang besar dan cukup rumit. Istirahat lah dulu. Maafkan kami yang telah membuat mu jadi seperti ini. Jika butuh sesuatu, jangan ragu untuk memanggil kami." ucap grandpa, lalu ia menyeret tubuh cucunya agar ikut keluar di ikuti oleh grandma. Sedangkan mommy masih disitu.
__ADS_1
Wulan sedih dan merasa bersalah karena telah membuat daddy-nya jadi seperti itu. Tapi apa boleh buat, ia harus mempertahankan sesuatu yang lebih penting dalam hidupnya.
Melati kembali menyodorkan teh hangat pada suaminya. Setelah minum laki-laki itu mencoba untuk memejamkan matanya. Sedangkan istrinya memijit pelan tubuhnya.
Ketika Marquez terlelap, melati memberanikan diri membuka buku tebal yang ada di atas nakas, lalu membaca dengan seksama.
Seperti halnya mertuanya, ia juga terkagum-kagum pada isi buku tersebut. Cukup lama ia membaca, hingga tak sadar jika sebenarnya suaminya sudah membuka matanya. Dan ketika melihat Melati sedang membaca, ia memperhatikan istrinya dengan seksama.
"Honey." lirih Marquez yang membuat Melati tersentak kaget, lalu mengembalikan buku itu pada tempatnya.
"Em, baru beberapa menit yang lalu." dusta Melati. Padahal ia telah membaca sekitar 2 jam lebih.
"Buku itu sebenarnya mudah dipahami. Tapi hatiku saja yang menyangkal kebenarannya, sehingga membuat kepalaku pusing." Marquez mengusap keningnya.
"Jangan terlalu dipikirkan honey. Kamu istirahat saja dulu."
__ADS_1
"Apa kamu akan mengikuti petunjuk dalam buku itu? Seperti apa yang sudah dilakukan oleh anak dan kedua orang tua kita?"
Melati diam seribu bahasa, bingung mau menjawab apa atas pertanyaan suaminya. Ia bingung jika harus memilih dua bagian terpenting dalam hidupnya. Keyakinan dan keluarga.
"Honey, kenapa mau diam?" ucap Marquez yang menyadarkan istrinya dari lamunan.
"Kenapa kamu berkata seperti itu honey? Tolong, jangan membuatku bingung."
"Sepertinya kita memang harus mempelajari buku tersebut sampai selesai, sebelum memberikan hukuman yang pantas untuk anak kita." Marquez duduk dan meraih buku itu, lalu mulai membacanya.
Mereka menghabiskan waktu hampir seharian untuk membaca buku tebal itu. Sementara di luar kamar, anggota keluarganya yang lain cukup cemas kenapa sampai kedua orang tua Wulan tidak keluar.
"Bagaimana ini grandpa, grandma. Kenapa Daddy dan Mommy tidak keluar kamar juga sejak tadi? Padahal ini sudah sore. Wulan takut terjadi apa-apa dengan mereka."
"Kamu tenang saja sayang. Kita punya Allah tempat untuk meminta." ucap grandpa bijak.
__ADS_1
"Grandpa benar sekali." Wulan memeluk laki-laki berambut putih itu agar lebih tenang.