Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
121. Meminang


__ADS_3

"Boleh aku berbicara sebentar." ucap Marquez, dan semua arah pandang kedua keluarga itu tertuju padanya.


"Silahkan, Marq. Serius sekali kelihatannya." ucap papa Reyhan diiringi kekehan kecil.


"Iya, karena ini menyangkut masa depan dua insan." balas Marquez lagi.


Semua saling beradu pandang dengan raut wajah heran.


"Siapa yang kamu maksud?" papa Reyhan masih tidak tahu tentang arah pembicaraan Marquez. Karena sejak dulu ia memang tidak tahu bahwa Wulan pernah mendekati putranya.


"Apa putramu sudah memiliki, pacar?" ucap Marquez dengan hati-hati, tapi membuat Salman kembali tersedak.


Pemuda itu meraih dan kembali menghabiskan minumannya.


"Anakku tidak pernah berpacaran. Tapi kalau soal wanita pilihan, aku tidak tahu. Salman, mungkin kamu bisa menjawab pertanyaan om Marquez." papa Reyhan menoleh pada anaknya lagi.


Entah kenapa Salman semakin gugup mendapat pertanyaan seperti itu.


Apalagi Wulan, wajahnya seketika pucat pasi. Dalam hati ia berdoa semoga Salman belum memiliki wanita idaman.


Padahal beberapa bulan lalu jauh darinya, Wulan sudah memupus harapannya untuk mendapatkan hati Salman.

__ADS_1


Wanita itu juga tidak tahu kenapa hatinya bisa berubah-ubah.


"Sa_saya belum memiliki wanita seperti yang om maksud."


Keluarga Wulan seketika bernafas lega mendengar pengakuan pemuda itu. Dulu mereka berharap Salman dan Wulan tidak bersatu, tapi kini mereka justru berharap sebaliknya.


"Dulu om sempat tidak menyukaimu meskipun belum pernah bertemu kamu sama sekali, hingga mengirimnya sampai jauh kesini.


Tapi ternyata takdir berkata lain. Meskipun om telah mengirimnya sampai sini, ia dan kedua orang tua om justru memutuskan pindah keyakinan.


Awalnya om sangat kecewa, dan mencari tahu apa sebabnya mereka sampai memutuskan hal yang besar seperti itu.


Dan ternyata om justru mengikuti apa yang mereka lakukan. Mungkin semua ini terlalu cepat, tapi jika Allah sudah berkehendak, kami hanya bisa menjalani.


Untuk kesekian kalinya Salman tersedak. Entah kenapa makan malam yang harusnya bisa mengenyangkan dan menyenangkan, malah membuatnya seperti di kuburan. Dengan suasananya yang horor.


"Wulan anakku telah rela berkorban besar demi kedua orang tuanya. Dan kini om juga ingin berkorban untuknya, dengan meminang mu untuk putri om. Kalau kamu belum memiliki wanita idaman, mau kah kamu menikahi putri om."


Kali ini Wulan dan Salman kembali tersedak bersamaan.


"Sepertinya kalian akan menjadi pasangan yang serasi. Karena sejak tadi terus tersedak bersamaan." kekeh Marquez, yang diikuti oleh yang lainnya.

__ADS_1


"Daddy." lirih Wulan menahan malu, walau sebenarnya ia juga mau jika Salman meminangnya.


Mereka harap-harap cemas menunggu jawaban dari Salman.


"Jawab saja Salman. Apapun keputusan kamu, in shaa Allah papa akan mendukung." ucap papa Reyhan, mama Laura juga terlihat mengangguk.


Salman masih terdiam sekian menit. Semua terasa terlalu cepat baginya. Tapi jika ia mengulur waktu, takut jika nantinya Wulan yang tidak respek padanya.


Karena semua dihadapannya terlalu berbanding terbalik. Dulu Wulan yang selalu mengejar-ngejarnya, kini terlihat cuek.


Salman kembali mengingat Wulan yang selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpinya.


"Sa_saya tidak mau menerima pinangan ini om."


Tampak gurat kecewa di wajah kedua keluarga ketika mendengar jawaban Salman. Wulan pun juga terlihat menunduk lesu. Untuk yang kesekian kalinya ia merasa sangat malu di tolak oleh Salman.


Salman yang bisa melihat kesedihan di wajah Wulan kembali melanjutkan perkataannya.


"Karena tidak etis rasanya jika perempuan yang meminang laki-laki. Meskipun Ummu Khadijah pernah berbuat demikian." Salman menjeda ucapannya dan menarik nafas dalam-dalam.


"Maka dari itu, sebaiknya saya saja yang melamar putri om untuk menjadi istri saya."

__ADS_1


Semua terperangah kaget mendengar ucapan Salman. Wulan yang tadi menunduk kini mendongakkan kepalanya menatap Salman dengan mata membulat, dan jantung berdegup semakin kencang.


__ADS_2