
Romi menoleh pada papanya yang menatapnya dengan nyalang.
"Ingat! Sampai kapan pun, tidak ada dalam kamus, keluarga kita minta maaf pada orang lain."
"Tapi, pa...."
"Cukup! Apa kamu mau mereka menertawakan kita, karena kamu mengemis maaf?"
Ronald memang tak pernah mengajarkan anaknya untuk meminta maaf. Setiap hari yang dipikirkannya adalah bersenang-senang dengan harta yang dimilikinya.
"Hem, ya sudah. Sebaiknya aku tinggal saja kalian disini. Baik-baik ya kalian. Jangan seperti kucing dan anjing. Bertengkar terus kerjaannya setiap hari." kekeh Marco sebelum pergi.
"Pastikan menjaga mereka dengan baik." tegas Marco, pada bodyguardnya setelah keluar dari kamar tadi.
"Baik, tuan." bodyguard itu menundukkan kepalanya.
"Memang apa yang kamu lakukan, Ndre. Sampai keduanya mau menghafal doa'-doa' itu?" tanya Marco saat keduanya berjalan sedikit menjauh dari rumah kecil tempat orang jahat itu di tahan.
"Aku hanya bilang, jika ingin bebas dari sini dengan segera, maka harus bisa mengamalkan setiap ilmu yang sudah disampaikan dengan baik."
Marco menghentikan langkahnya lalu menatap Andre sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sumpah, hanya itu saja?"
"Iya. Tidak ada yang lain. Memangnya kenapa?" papa Andre balas menatap Marco.
"Kalau dalam sehari mereka mampu melaksanakan syarat yang kamu ajukan bagaimana?"
Papa Andre terkekeh kecil.
"Maaf, bukannya aku meragukan kepintaran mereka. Tapi ilmu yang ada dalam Islam itu luas. Tidak akan cukup menaklukkannya dalam waktu sehari. In shaa Allah, jika mereka benar-benar mengamalkan ilmunya, selepas keluar dari sini, tidak akan melakukan kejahatan yang sama."
"Hem, aku percaya padamu. Terima kasih sudah mau aku repot kan."
"Santai saja. Itu memang tugas kita. Ayo percepat langkah kita." papa Andre menepuk pelan bahu Marco. Laki-laki bule itu menganggukkan kepalanya, lalu keduanya berjalan sedikit lebih cepat.
"Apa yang sedang keduanya lakukan?" tanya haji Dahlan saat papa Andre sudah duduk disampingnya.
Papa Andre pun menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh Ronald dan Romi. Yang membuat mereka terkekeh geli.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka ikut melaksanakan sholat Dhuhur di masjid.
"Pak Haji, boleh kah saya bertanya sesuatu?" tanya Leon, ketika mereka telah menyelesaikan sholat Dhuhur nya, dan kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
Semua perhatian mereka tertuju pada Leon. Pemuda bule yang sejak awal sampai akan pulang, memang tidak banyak bicara.
Tapi ia begitu memperhatikan orang-orang yang lebih banyak memberikan nasehat-nasehat seperti haji Dahlan.
Meskipun sudah berusia sepuh, tapi haji Dahlan sangat pandai dalam mengolah kata, sehingga mudah diterima keduanya.
"Silahkan, nak. Apa yang ingin kamu tanyakan? Jika kakek bisa membantu, tentu akan kakek jawab semampunya."
"Kalau saya memiliki pemikiran lain bagaimana? Ketika hati sudah cocok, apakah boleh langsung memutuskan untuk menjadi mualaf? seiring berjalannya waktu, saya juga akan tetap belajar memperdalam ilmu agama.
Atau memang harus menunggu ilmu kita banyak dulu, baru memutuskan menjadi seorang mualaf? Seperti apa yang dikatakan papa saya. Yang akan memperdalam ilmu dulu baru mengambil keputusan untuk menjadi mualaf atau tidak.
Jujur, saya merasa takut, jika saya belum menjadi mualaf, sudah meninggal duluan. Apalagi umur seseorang tidak ada yang tahu."
Jantung Leon berdegub kencang, ketika bertanya seperti itu. Antara takut jika kedua orang tuanya marah, telah mengambil keputusan terlalu cepat, dan rasa takutnya jika ia meninggal duluan.
Muncul dalam pikirannya, jika saat kecelakaan ia tidak ada yang menolong, pasti ia sudah meninggal. Karena pembuluh darahnya yang pecah telah memasuki ruang otaknya.
Beruntung sekali Fatim dan papanya datang tepat waktu dan segera mengantarkan ke rumah sakit. Sehingga lekas mendapatkan pertolongan.
Mereka tidak ada ikatan darah, tapi hanya karena mereka menganggap Leon masih saudara dekat Wulan, yang merupakan menantu dari salah satu sahabatnya, Adam mau membebaskannya dari seluruh biaya rumah sakit.
__ADS_1
Di tambah lagi, selama di rawat, Fatim selalu merawatnya dengan baik. Semua itu tak kan mudah Leon lupakan begitu saja.
Dan kini semua menatapnya, dengan wajah yang terkejut dengan pertanyaannya itu.