
Wulan mengernyitkan dahi melihat mobil Leon yang terparkir di depan rumahnya. Seketika ia teringat jika sejak tadi terus mengabaikan telepon dan pesan dari temannya itu. Akhirnya ia pun masuk ke rumah.
"Hai." sapa Wulan dengan senyum ramahnya. Walaupun dihatinya masih kepikiran dengan ucapan Salman tadi.
Kedua orang tuanya dan Leon menatap dirinya tanpa ekspresi. Membuat gadis itu tampak salah tingkah.
"Darimana saja kamu Wulan?" tanya Daddy.
"Habis ngambil mobil di bengkel, dan ini, Wulan belanja." gadis itu mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan belanjaan nya.
"Apa benar kamu meyakini pemahaman baru?" tanya Daddy lagi.
"Honey." mommy menyentuh pelan lengan suaminya, karena laki-laki itu bertanya dengan penuh ketegasan. Mommy hanya ingin membicarakan semuanya baik-baik.
Sementara Wulan tampak terkejut dengan pertanyaan Daddy nya yang bagai anak panah yang meluncur dan tepat sasaran itu.
Wulan masih dalam taraf mempelajari, belum sampai pada taraf meyakini. Namun hampir 50 persen, ia mampu menyerap apa yang tertuang dalam buku-buku yang ia baca beberapa hari lalu. Dan ia lebih condong pada apa yang tertuang dalam buku itu.
Namun, mengingat perkataan Salman tadi, ia berusaha meyakinkan hatinya. Apakah kecondongan hatinya itu karena semata-mata mencintai Salman? sehingga ia juga mencintai pemahaman laki-laki itu. Atau kah semua berasal dari rencana Tuhan untuknya, itu yang belum ia ketahui.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja Wulan?" tanya Daddy nya lagi yang membuat ia tersentak kaget.
"Wulan masih meyakini pemahaman kita Daddy." balas Wulan sambil duduk di sofa yang kosong.
Ia meletakkan paper bag nya di samping kakinya. Rasa takut dan was-was semakin meliputi hatinya.
"Kita tinggal serumah, jangan sampai terpecah belah, apalagi soal keyakinan. Daddy ngga mau itu terjadi."
Wulan mengangguk menanggapi ucapan Daddy nya, meskipun dalam hati juga tidak bisa berjanji.
"Mulai besok, kamu bantuin Daddy mengurus perusahaan. Katanya kamu mau belajar bisnis kan?"
"Iya Dad." balas Wulan singkat.
Mereka pun bercakap-cakap. Tak lupa Leon bertanya pada Wulan, kenapa sejak tadi ia tak mengangkat telepon, dan tak membalas pesannya.
Wulan pun menjelaskan dengan alasan yang sama, seperti saat Daddy nya bertanya tadi.
Setelah hampir satu jam mereka bercakap-cakap, akhirnya Leon pamit undur diri. Keluarga Wulan mengantarnya sampai ambang pintu. Lalu mereka pun kembali masuk rumah.
__ADS_1
"Ingat Wulan, kita harus mempertahankan keyakinan kita." ucap Daddy sekali lagi sebelum berbelok menuju ruang kerjanya. Sedangkan Mommy mengikuti Wulan yang berjalan menaiki anak tangga.
"Sini mommy bantuin." ucap mommy sambil meraih beberapa paper bag di sebelah kiri tangan Wulan.
Keduanya berjalan beriringan sampai kamar gadis itu tanpa sepatah kata pun.. Mommy lalu meletakkan paper bag yang di bawa tadi, di atas ranjang tempat tidur.
"Sayang, kamu belanja sebanyak ini isinya apa saja?" mommy membuka salah satu paper bag karena penasaran.
"Baju baru." cicit mommy, sambil mengangkat bahu itu dan membentangkan nya.
Lalu meraih paper bag lain dan melakukan hal yang sama. Ia mengernyitkan dahi ketika semua isi paper bag itu adalah baju panjang dan celana semua.
"Ini kenapa tumben kamu beli baju dan celana serba panjang semua genduk ayu? Bukan kah kamu biasanya tidak menyukainya karena gerah memakainya?"
"Akhir-akhir ini Wulan kedinginan mom, jadi aku putuskan untuk membeli baju serba panjang." dusta Wulan.
Meskipun mommy tahu jika anaknya berbohong, ia tak mau langsung menghakiminya.
"Kamu ngga sedang menyembunyikan suatu hal dari mommy kan?" Wulan mengangguk.
__ADS_1
"Serius?" tanya mommy sambil menatap intens bola mata Wulan, sehingga membuat gadis itu mengalihkan pandangannya pada jendela. Orang yang berbohong bisa diketahui dari pancaran sinar matanya. Seperti Wulan saat itu.
"Apa laki-laki yang bernama Salman yang membuat mu berubah seperti ini?"