Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
42. Kegelisahan Wulan


__ADS_3

"Wulan? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mommy? Apa kamu tidak mau mengabulkan permintaan mommy?" mommy menatap Wulan dan mengguncang pelan bahunya.


"Wulan, tidak bisa berjanji mom. Wulan hanya mengikuti arus kehidupan. Tapi apa pun yang terjadi, Wulan selalu sayang dan tidak akan pernah jauh dari mommy dan Daddy." balas Wulan sambil tersenyum ke arah mommy nya.


Dalam keluarga mommy dan Daddy selalu menikah dengan orang yang sepemahaman dengannya. Dan baru kali ini, anak mereka tengah mencintai laki-laki yang berbeda keyakinan dengan mereka. Hal itu sangat membuat takut mommy.


"Wulan ke kamar mandi dulu ya mom." pamit Wulan, dan mommy pun mengangguk.


Sejenak mommy memindai seisi kamar Wulan sebelum ia keluar. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat suaminya yang berdiri di dekat pintu. Jantungnya seketika berdegup kencang.


"Honey, ap_apa yang kamu lakukan disini?" tanya mommy dengan suara sedikit bergetar dan serak.


"Jadi kamu merahasiakan ini semua dari ku honey?"


"A_aku, tidak merahasiakan apapun dari kamu honey." mommy berusaha menyunggingkan senyum.


Daddy memegang kedua bahu istrinya sambil menatapnya tajam.


"Kamu sudah lebih tahu soal Wulan dan kamu sengaja menutupi semuanya dari ku honey?"

__ADS_1


"Sebisa mungkin aku akan menasehati putri kita terlebih dahulu. Jangan bertindak gegabah honey. Aku tak ingin anak kita menjadi sulit untuk kita kendalikan."


Daddy menghela nafas kasar, lalu memeluk istrinya. Ia sangat mencintai istrinya karena kelembutannya. Mampu meredam emosi yang sering membelenggu hatinya.


Tanpa keduanya sadari, Wulan yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan hendak berjalan menutup pintu mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.


Ada sejumput rasa bersalah singgah dihatinya. Karena dirinya kini kedua orang tuanya terlihat tegang. Genangan air pun menumpuk di pelupuk matanya.


Sesulit itu kah menyatukan dua cinta yang berbeda keyakinan?


Kenapa harus ada cinta jika akhirnya akan menggoreskan luka?


Setelah kedua orang tuanya memasuki kamarnya sendiri, Wulan menutup pintunya. Badannya luruh ke lantai, air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata, akhirnya tumpah.


Belum sempat bunga cintanya mekar, sudah layu duluan. Belum sempat cintanya bersambut, sudah menorehkan luka di hati orang-orang yang mencintainya.


**


Sementara itu di sudut kamar lain, yakni kamar Salman. Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur setelah pulang dari bertemu Wulan.

__ADS_1


Awalnya ia tak percaya jika ada wanita yang jatuh cinta padanya. Namun, melihat kesungguhan yang ditunjukkan oleh Wulan, membuat ia mempercayainya.


Bahkan di hati dan pikirannya mulai terbayang oleh sosok Wulan. Tapi melihat kenyataan yang ada, membuat ia menggelengkan kepalanya.


'Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta dengannya. Kami berbeda. Ada dinding pemisah yang tebal dan tinggi yang tak mungkin untuk dilalui. Masih banyak wanita muslim di sekeliling ku.' batin Salman yakin.


Tok....Tok....Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Salman. Bergegas ia bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju arah pintu. Terlihat mama Laura yang tengah berdiri di ambang pintu sambil menyunggingkan senyum.


"Mama, ada apa ma?"


"Kok, ada apa sih? Lihat tuh, sudah jam berapa sekarang? Waktunya makan malam. Sudah di tunggu tuh sama semuanya."


"Tapi Salman masih kenyang ma. Tadi habis makan bareng teman."


"Teman? Siapa? Bukan kah tadi kata papa kamu pamit mau ambil mobil di bengkel?"


"Iya ma, habis itu Salman sekalian makan bareng teman. Keburu lapar soalnya."

__ADS_1


"Hem, ya sudah, jangan lupa sholat anak mama yang ganteng." mama Laura mencubit gemas hidung mancung anaknya. Hingga ia meringis kesakitan.


__ADS_2