
Salman dan rekan-rekannya kembali ke kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri, ia berniat untuk tidur. Tapi sebuah suara bel, mengejutkannya.
Ia urungkan niatnya tadi. Lalu berjalan ke arah pintu, dan membukanya. Salman sungguh terkejut, ketika melihat siapa yang menekan bel kamarnya tadi.
Ya, dia adalah wanita aneh yang ditemui tadi pagi. Salman tidak menyangka, jika wanita itu akan menghampirinya ke kamar sungguhan.
Tanpa banyak berkata, laki-laki itu langsung mundur selangkah dan menutup pintunya. Tapi gadis itu berusaha mendorong pintu itu. Maka terjadilah aksi saling dorong.
"Hei! Mau mu apa?" ucap Salman akhirnya. Keduanya berdiri di ambang pintu dengan jarak yang cukup dekat.
"Aku hanya ingin main ke kamar mu. Kita kan belum kenal. Maka dari itu, aku ingin kita bisa berkenalan. Agar tambah akrab."
"Wanita macam apa kamu? Sudah diperingatkan untuk tidak main ke kamar ku, malah nekad. Aku rasa, kita juga tidak perlu berkenalan. Tidak ada manfaatnya bagiku." tegas Salman.
Ia sadar di dalam perkataannya, mengandung kalimat yang menyakitkan. Hal itu sengaja ia lakukan, agar gadis dihadapannya bisa sadar, dan tidak berulah. Tapi nyatanya, bukannya wanita itu sadar, malah menjadi.
"Kamu belum tahu siapa aku. Makanya kamu bisa bilang begitu."
Salman tidak suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, dengan meladeni kegilaan wanita dihadapannya.
Akhirnya, ia lun membanting pintunya dengan keras, lalu menguncinya. Hal itu membuat si gadis tersentak kaget. Hingga ia mengusap dadanya.
"Ini tipikal laki-laki setia. Tidak mudah ditaklukkan oleh wanita. Aku suka dengan laki-laki seperti ini. Kalau aku berhasil mendapatkan hatinya, pasti juga akan diperlakukan sedemikian istimewa." gumam si gadis sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum kagum.
__ADS_1
Salman duduk di tepi ranjang, sambil memeluk bantal. Air putih yang ada di nakas, ia sambar, lalu di teguk hingga tandas.
Ia geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan kelakuan wanita tadi. Rasanya ia begitu menyesal telah menolongnya.
**
Keesokan harinya, Salman sudah rapi. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek, dan dipadukan dengan celana panjang berwarna cream.
Tas nya ia selempang kan di bahu sebelah kanan. Tak lupa ia menyemprotkan parfum kesukaan Wulan. Lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu.
Ia terdiam sesaat sambil memegang handle pintu. Ia takut jika saat pintunya di buka, gadis itu sudah berdiri dihadapannya.
Ia pun coba mengintip dari lubang yang ada di pintu kamarnya. Walaupun gadis itu tidak ada di sana, masih ada sedikit perasaan was-was. Jikalau wanita itu ternyata bersandar di dinding.
Ia menghirup nafas, ketika temannya yang di telepon mengiyakan permintaannya. Salman pun baru berani membuka pintu kamarnya.
Ia kembali menghirup nafas lega, sembari mengusap dada. Karena pikiran buruknya tidak terjadi. Sementara temannya yang berada di depan kamarnya, menatap aneh pada Salman.
"Ada apa sih? Kayak lagi di kejar hantu saja." celetuk temannya setengah tertawa.
"Ini, lebih dari sekedar hantu." balas Salman, lalu menceritakan kejadian semalam pada temannya itu.
"Kalau aku jadi kamu, pasti sudah ku embat lah gadis itu." celoteh temannya.
__ADS_1
"Nah, untung kamu ngga jadi diriku. Bisa rusak generasi penerus ku nanti. Kalau sikapnya kayak kamu, mas." balas Salman, yang membuat keduanya terkekeh.
Salman dan rekannya memasuki ruang meeting. Tampak disana belum ada yang datang. Ia memang orang yang sangat rajin. Selalu berangkat awal saat acara apapun juga. Agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal.
Tak berapa lama kemudian, satu persatu rekan-rekannya juga mulai berdatangan. Setelah semua peserta komplit, acara pun segera di mulai.
Salman memimpin acara pada pagi hari itu. Sedang semua rekannya menyimak dengan baik.
Waktu mendekati Dhuhur, dan acara itu di hentikan untuk kegiatan isoma. Mereka beriringan keluar dari ruangan itu, menuju ke restoran. Untuk menikmati santap siang bersama.
Salman menikmati makan siangnya dengan tetap waspada. Takut jika wanita itu kembali mendekatinya. Dan akhirnya, apa yang ditakutkan tadi, tidak benar terjadi. Ia sangat lega.
Setelah selesai makan siang, rombongan Salman melaksanakan sholat Dhuhur bersama. Dengan Salman sebagai imamnya.
Selesai sholat, rombongan itu berjalan beriringan menuju ruang meeting. Untuk melanjutkan acara lagi.
Salman berjalan sedikit di belakang dari pada teman-temannya. Karena tadi ia pamit untuk ke toilet.
Dan alangkah terkejutnya ia, ketika tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang. Saat ia menoleh, ia membulatkan matanya.
Wanita yang di tolong nya dulu, kini tengah tersenyum manis padanya. Seketika Salman, menghentakkan tangannya. Sehingga tangan gadis itu terlepas.
❤️❤️
__ADS_1