
Di ruangan lain, Fatim kurang bisa berkonsentrasi. Karena teringat dengan Leon. Wajahnya yang penuh darah saat kecelakaan itu masih menari indah di kepala.
Dan lamunannya itu seketika buyar ketika mendengar suara sering telepon, milik papanya.
"Hallo, Assalamu'alaikum." sapa papa Adam, ketika panggilan terhubung.
"Wa'alaikumussalam, pak. Saya cuma mau menyampaikan, jika mobil yang menabrak teman bapak, sudah berhasil diamankan. Ternyata orang yang mengemudi mobil itu dalam keadaan mabuk berat." ucap security kompleks.
"Apa! Terus dimana ia sekarang?"
"Di kantor polisi, pak. Saya dapat laporan ini juga dari pak RT. Karena orang itu juga menabrak pagar rumahnya, sampai jebol. Lalu ia tak sadarkan diri.
Untung saja mobilnya tidak sampai meledak. Pak RT segera menelpon polisi, ketika melihat ada bercak darah yang menempel di badan mobil. Pak RT pikir, orang itu juga sudah menabrak seseorang terus kabur." terang security kompleks.
"Terima kasih atas informasinya. Kalau ada kabar lebih lanjut, tolong segera hubungi saya ya, pak."
"Baik, pak."
Setelah saling mengucapkan salam panggilan telepon terputus.
"Ada apa, pa?" tanya Fatim yang melihat wajah papanya sedikit tegang.
"Yang menabrak Leon sudah tertangkap. Dan dia memang sedang dalam kondisi mabuk."
"Hah, pantas saja keadaan Leon jadi separah itu. Lalu apa yang akan papa lakukan?"
"Kita perlu menyampaikan hal ini orang tuanya."
"Fatim ikut." rengek Fatim seperti anak kecil.
Mereka pun berjalan beriringan dan memasuki lift, agar lebih cepat sampai ke kamar Leon.
"Permisi." ucap papa Adam saat memasuki kamar Leon.
__ADS_1
Saat itu tepat dengan Leon yang kembali mengigau dan menyebut nama Fatim. Gadis itu salah tingkah dan bingung kenapa Leon sejak tadi menyebut namanya.
"Fatim, kemari lah nak. Leon terus memanggil namamu." pinta mama Margareth setelah mereka saling melempar senyum saat masuk ke kamar tadi.
Fatim dan papanya bergegas mendekat dan melihat kondisi Leon.
"Kamu sudah datang." lirih Leon sambil menyunggingkan senyum dan matanya mengerjap.
"Su-sudah kak."
"Kenapa kamu sama seperti Wulan yang meninggalkan ku?" tanya Leon dengan suara yang terbata.
Fatim bingung dan melihat ke arah mama Margareth.
"Aku kan baru kerja, kak." balas Fatim kemudian, dengan lembut.
"Temani aku, disini." setelah itu Leon kembali menutup matanya.
Cukup lama pemuda itu terdiam. Papa Adam kembali memeriksa keadaannya.
Semua lega mendengar jawaban papa Adam. Ia kembali teringat dengan tujuannya menemui kedua orang tua Leon.
"Bapak, ibu. Saya ingin menyampaikan sesuatu."
"Apa itu, pak?" tanya mam Margareth terkesan tak sabar.
Suaminya juga ikut menyimak dengan serius apa yang akan diutarakan oleh laki-laki yang sepantaran dengannya itu.
"Seorang pemabuk dengan kecepatan tinggi tak sengaja menabrak tubuh Leon. Bahkan ia juga sampai menabrak pagar rumah ketua RT setempat. Setelah itu, ia di bawa ke kantor polisi untuk diamankan."
Kedua orang tua Leon begitu bersyukur ketika mendengar pelakunya telah tertangkap.
"Saya ingin meminta keadilan untuk anak saya, pak. Bisa kah saya minta alamat kantor polisi, tempat orang itu di tahan?" tanya papa Marco.
__ADS_1
"Saya akan temani bapak." tawar papa Adam. Fatim lega mendengar papanya melakukan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih, pak. Karena terus merepotkan bapak."
"Saya tidak merasa direpotkan kok. Mari."
"Oh iya, papa tinggal dulu ya, Fat." Fatim mengangguk ke arah papanya.
"Sayang, aku tinggal dulu ya." pamit papa Marco pada istrinya, dan wanita berambut pirang itu mengangguk.
Dua orang laki-laki berbeda kewarganegaraan itu berjalan keluar. Sedangkan Fatim masih berdiri melihat punggung keduanya hingga menghilang di balik pintu.
"Nak." ucap mama Margareth mengejutkan Fatim. Gadis itu menoleh ke arah nya sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Iya, Tan. Ada yang bisa Fatim bantu?" tawarnya ramah.
"Bisa kita ngobrol sebentar?" Fatim pun mengangguk.
"Kita duduk di sofa itu, yuk." ajaknya ramah sambil merangkul bahu Fatim.
Membuat Fatim merasa sungkan, sekaligus perasaannya mendadak tidak enak. Karena mamanya Leon terlihat akan mengutamakan sesuatu yang serius padanya. Padahal keduanya barulah saling menyapa beberapa jam yang lalu.
"Apakah kamu ada hubungan spesial dengan anak Tante."
DEG!
Jantung Fatim bagai berhenti berdetak. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ia di todong pertanyaan seperti itu.
"Hu-hubungan spesial bagaimana ya, Tan? Fatim tidak paham." suara Fatim terdengar serak. Karena rasa nervous yang menguasai dirinya.
"Pacaran misalnya."
Fatim menarik senyum di wajahnya ketika ditanya soal pacar.
__ADS_1
"Papa melarang saya untuk pacaran, Tan. Jika ada laki-laki yang mau dengan saya, pasti dia di suruh untuk segera melamar saya. Papa tidak ingin anaknya berbuat dosa, yang bisa membuatnya ikut terseret ke neraka."