Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
30. Cinta tak berlogika


__ADS_3

'Hai kak Salman, ini aku Wulan. Aku terpaksa meminta nomor telepon kakak pada salah satu sahabat ku. Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan tadi. Karena kecerobohan Wulan, kakak kena marah teman ku.


Ya, laki-laki yang bersama ku tadi adalah teman ku. Sekaligus tetangga ku di Belanda. Ia juga anak rekan kerja Daddy. Jadi keakraban kami sudah terjalin sejak masih kecil.


Jadi kakak jangan sampai salah mengartikannya ya. Kalau kakak sudah memaafkan Wulan, balas pesan ini ya. Agar malam ini Wulan bisa tidur dengan nyenyak.


Oh iya, mobil kita sudah jadi belum? Berapa kerugiannya?'


Salman tersenyum simpul menanggapi pesan dari Wulan. Bagaimana tidak?


Terlihat sekali dari pesannya, ia takut jika Salman memikirkan laki-laki itu adalah pacarnya. Karena sangat akrab. Padahal Wulan dan Salman tidak mempunyai hubungan khusus.


Tapi entah kenapa, di palung hati terdalam Salman, ada setitik rasa yang berdenyut nyeri ketika melihat dan mengingat kejadian tadi. Ia sendiri juga tak tahu rasa apa itu sebenarnya.


Lalu juga menanyakan mobilnya sudah jadi atau kah belum. Padahal baru kemarin pagi mobil mereka kecelakaan.


Apakah memang benar, cinta membuat semua menjadi tak berlogika seperti itu? Padahal cinta itu ada dan diletakkan di atas akal logika dan syari'at.

__ADS_1


Salman lebih memilih mengabaikan pesan itu. Namun bukan berarti ia tidak memaafkan Wulan. Karena jujur, ia merasa Wulan tidak bersalah. Dan andai kan gadis itu bersalah, ia sudah lebih dulu memaafkannya.


Jika Tuhan saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak bisa? Dan dengan memaafkan hati akan merasa tenang.


**


Saat Salman tengah fokus mengerjakan tugas-tugasnya, tiba-tiba handphonenya berdering. Ia merogoh dari saku celananya. Dahi mengernyit ketika melihat Wulan yang menelepon nya.


"Ada apa lagi dengannya?" gumamnya.


"Kalau penting angkat saja Sal. Kenapa terus di lihatin seperti itu?" ucap papa Reyhan.


"Tuh kan, bener apa kata opa." imbuhnya lagi karena melihat reaksi wajah Salman yang memerah.


"Opa. Kenapa sih terus menggoda Salman?" gumamnya sambil tersenyum simpul.


Setelahnya ia mematikan teleponnya. Lalu kembali memasukkan ke kantong celananya. Tak berselang lama, handphonenya kembali bergetar.

__ADS_1


Ia merogoh dan melihat nama pemanggil yang sama. Begitu seterusnya sampai akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan dan menerima panggilan telepon itu.


"Hallo, ada apa?"


"Kakak, kenapa jawabannya selalu jutek sih?" sungut Wulan kesal di seberang sana.


"Jutek? Katanya kamu mengagumi ku dengan segala sifat yang aku miliki sehingga membuat mu jatuh cinta pada ku. Harusnya kamu juga bisa menerima sifat ku yang itu dong."


Salman seketika menutup mulutnya. Entah kenapa tiba-tiba bisa berbicara seperti itu.


"Iya, tapi juteknya dihilangkan saja. Di ganti dengan sifat yang lemah lembut ke aku. Masa bisanya cuma lemah lembut ke mamanya."


"Surga itu di telapak kaki ibu. Jadi aku harus memuliakan nya dengan baik. Kalau kamu? Kita berdua kan tidak ada hubungan apa-apa."


"Ngga mungkin kakak tidak jatuh cinta pada ku. Aku yakin di sudut hati terdalam kakak ada sedikit ruang untuk menyimpan nama ku."


"Hem, terserah apa katamu. Sekarang kamu menghubungi ku ada perlu apa?"

__ADS_1


"Ya aku hanya ingin memastikan kakak tidak marah pada ku karena kejadian semalam. Semangat terus kerjanya. Agar punya cukup tabungan untuk menikahi ku. Wulan sayang kak Salman."


Salman membulatkan matanya dengan mulut yang ternganga mendengar ucapan Wulan. Tak habis pikir, kenapa ada gadis somplak yang gencar mendekatinya.


__ADS_2