Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
70. Wanita berjilbab


__ADS_3

"Maafkan Wulan pa. Aku hanya sekilas teringat salah satu teman ku yang mengucapkan kata seperti itu."


Akhirnya, Wulan mengakui dan menceritakan semuanya pada grandpa nya. Keluarga adalah tempat mencurahkan segala rasa baginya.


Grandpa menghela nafas panjang. Ia memaklumi jika seumur Wulan, memang tengah mencari jati dirinya.


Meskipun ia sedikit menyayangkan akan apa yang dilakukan cucunya, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mendoakan, semoga tetap berpegang teguh pada ajaran turun temurun dari nenek moyang.


Setelah Wulan mengakui semuanya, grandpa tidak lagi banyak bertanya. Ia ingin agar cucunya tetap nyaman berada di sampingnya.


Dan setelah makanan mereka habis, keduanya kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


Di dalam ruangan, Wulan kembali memfokuskan pikirannya melihat deretan angka yang tertera pada beberapa lembar kertas, dan mencocokkan dengan layar laptop.


Grandpa kembali memperhatikan cucunya yang tampak serius. Ia tak ingin mengganggu nya, dan kembali fokus pada pekerjaan nya sendiri.

__ADS_1


Sore hari, sekitar pukul 4 waktu bagian setempat. Grandpa mengajak Wulan untuk bersiap pulang. Sambil membereskan beberapa dokumen yang ada dihadapannya.


Gadis itu mengangguk patuh, lalu segera melakukan hal yang sama dengan grandpa nya, membereskan beberapa lembar yang terlihat berserakan memenuhi mejanya.


Tak lupa ia juga mematikan layar laptopnya. Setelah di rasa semua sudah beres dan rapi, ia menghampiri grandpa yang sudah sejak tadi menunggunya.


"Terima kasih untuk ilmu yang berharga ini grandpa." Wulan mengecup pipi grandpa nya sambil tersenyum sumringah.


"Tidak perlu berterima kasih. Semua memang grandpa lakukan untuk anak turun ku Wulan."


Sepanjang perjalanan pulang, Wulan kembali memperhatikan jalanan ibu kota yang lebih macet.


Tak sengaja matanya menangkap bayangan seseorang yang berjalan melewati trotoar. Seorang wanita yang memakai pakaian kerja serta dikepalanya memakai jilbab.


Terlihat anggun di mata Wulan. Bahkan wajah wanita itu terlihat cantik berseri dan tampak natural tanpa riasan make up. Jika di lihat dari wajahnya, ia memang warga asli Belanda.

__ADS_1


Wulan terus memperhatikan wanita itu, sampai bayangannya tak lagi terlihat. Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya, bersandar pada tempat duduknya.


'Apa yang mendorongnya melakukan hal itu? Apakah keluarga nya tidak ada yang menentang?' batin Wulan penuh tanda tanya. Ia menghirup nafas dalam-dalam, untuk melonggarkan sesak di dada.


"Wulan, ada apa?" tanya grandpa memecah kesunyian, sekaligus membuat gadis itu tampak terkejut.


"Eh, tidak ada apa-apa kok pa." Wulan tersenyum ke arah grandpa nya. Lalu mengalihkan perhatian dengan berbicara hal yang lainnya.


Sesampainya di rumah, Wulan segera memasuki kamarnya. Lalu menuju kamar mandi. Ia ingin segera mandi untuk menghilangkan rasa lengket di badannya.


"Air dingin ini benar-benar menyegarkan. Rasanya seperti saat aku melihat kak Salman dan juga wanita tadi." untuk yang kesekian kalinya, Wulan bergumam menyebut orang yang benar-benar ingin dilupakan nya.


"Ah, Tuhan. Berkali-kali mulut ini selalu menyebut namanya. Sesulit itukah melupakan orang yang kita cintai?" tanpa sadar air mata Wulan menetes bersamaan guyuran air mandi.


Setelah puas mandi, barulah ia keluar dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan. Baju dan celana yang serba panjang. Yang pernah ia beli dan tak sengaja bertemu dengan laki-laki pujaan hatinya.

__ADS_1


Ia duduk di kursi balkon dan menikmati pemandangan sore dari sana. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan merasakan hembusan angin yang sedikit bergerak dan menyapu wajahnya.


__ADS_2