
"Mas, aku mau beliin kado untuk anaknya Aisyah. Temenin dong." dengan gaya manja Wulan meminta pada suaminya yang tengah merapikan diri.
"Boleh, ayo buruan siap-siap kalau gitu." Salman menoleh pada Wulan yang masih asyik rebahan. Dan tak lama kemudian, wanita itu berjingkrak kesenangan layaknya anak kecil yang akan di ajak berwisata.
Ia segera mengambil sweater dan memakai jilbab instannya.
"Ayo mas. Kamu kok lama sekali sih." cicit Wulan.
Salman terperangah menatap istrinya.
Biasanya yang menghabiskan waktu lama untuk bersiap-siap itu adalah Wulan, dan sekalipun Salman tak pernah protes. Selalu menunggunya dengan sabar.
Tapi kini ia justru di protes oleh istrinya. Padahal ia hanya menyisir rambut sambil memantaskan diri di depan cermin.
"Kamu memangnya sudah siap, sayang?"
"Ya sudah dong. Ngga kayak kamu. Lama." Wulan mengangguk yakin.
Salman memperhatikan penampilan istrinya dengan seksama.
Terlihat istrinya memakai piyama lengan panjang warna mustard, dipadukan dengan sweater warna senada dan jilbab instan warna mocca. Biasanya kemanapun ia pergi selalu mengganti pakaiannya dengan gamis dan jilbab lebar.
Kakinya yang biasanya terbungkus rapi menggunakan flatshoes kemana pun pergi. Kini menggunakan sandal jepit.
"Yakin, sayang. Kamu sudah siap?" tanya Salman lagi memastikan istrinya tidak salah kostum.
"Ya ampun. Kenapa kamu jadi cerewet sekali sih sayang?" Wulan mendengus kesal dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur.
__ADS_1
"Eh, a-aku hanya heran saja. Tumben sekali kamu seperti terburu-buru mengajak ku keluar. Biasanya yang paling lama bercermin kan kamu. Ini kamu belum bercermin, dan juga belum ganti baju. Sudah mengoyak-oyak ku sejak tadi."
"Aku lagi pengen tampil natural. Memangnya aku salah? Atau jangan-jangan kamu tidak suka melihat penampilan ku ya. Pasti tampilan ku yang natural ini terlihat jelek sekali di matamu." cicit Wulan lagi semakin jengkel dengan suaminya.
Sedangkan Salman, ia semakin bingung dengan sikap istrinya yang mendadak berubah. Ia pun meletakkan tangannya di kening Wulan. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya berubah seperti itu.
"Apa-apaan sih, mas. Aku ngga sakit. Tapi aku lagi marah sama kamu." Wulan menyentak tangan Salman dari keningnya, dan bibirnya tambah mengerucut.
"Eh, aku pikir kamu sakit, ternyata tidak ya. Ya sudah, ayo segera kita berangkat." Salman tersenyum, lalu menarik pelan tangan Wulan.
Meskipun wanita itu masih jengkel dengan suaminya, ia tetap beranjak dari tempat tidurnya. Lalu keduanya keluar.
"Mom, Wulan pamit dulu ya. Mau cari kado untuk anaknya Aisyah." ucap Wulan saat mencium punggung tangan ibunya. Sesaat mommy Melati menelisik penampilan anaknya.
"Sekarang?"
"Kamu yakin dengan penampilan mu? Apa tidak sebaiknya ganti baju dulu?"
'Nah kan, apa aku bilang. Mommy saja juga memprotes penampilannya." batin Salman dalam hati.
"Kelamaan, mom."
"Hem, ya sudah. Terserah kamu saja." dengan ragu mommy membalas ucapan anaknya.
Salman dan Wulan kini berada di sebuah toko yang menjual segala jenis perlengkapan bayi. Tanpa menunggu dibukakan pintu, Wulan langsung membuka sendiri pintunya, dan berjalan dengan santai menuju toko tersebut.
"Hah, kenapa dia tiba-tiba cuek sih sama aku. Memangnya aku salah apa?" gumam Salman sambil menatap Wulan yang sudah memasuki toko. Bergegas ia pun menyusul.
__ADS_1
Tampak Wulan sedang memilih sepatu-sepatu bayi yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Sayang, kamu kok ninggalin aku sih." tanya Salman ketika sudah berada di samping Wulan.
"Habis kamu lama sih." balas Wulan santai, pandangannya juga masih tertuju pada sepasang sepatu berwarna biru yang ada ditangannya.
"Menurut kamu bagus yang mana sih, mas? Warna biru atau warna merah." Wulan mengambil sepasang sepatu warna merah, lalu memperlihatkan kedua pasang sepatu itu pada Salman.
"Semuanya bagus kok, sayang."
"Aku itu minta pendapat. Jelas saja semua bagus. Kalau ngga bagus, ngga bakal dijual."
"Hah." Salman membulatkan mulutnya, ia semakin heran dengan sikap istrinya yang ketus sejak pagi tadi.
"Em, menurut ku bagus yang merah sayang." balas Salman akhirnya. Wulan masih serius memperhatikan kedua sepatu itu.
"Ya sudah, aku pilih yang biru saja lah." ucap Wulan sambil meletakkan kembali sepatu berwarna merah, dan memasukkan sepatu warna biru ke dalam keranjang belanja.
"Lhoh, tadi aku bilangnya bagus yang warna merah sayang. Bukan biru."
"Tadi aku hanya minta pendapat mu saja. Tapi sepertinya warna biru lebih bagus." sahut Wulan dengan entengnya, lalu melenggang pergi menuju rak gendongan bayi.
"Aneh. Tadi minta pendapat ku, setelah aku mengeluarkan pendapat, dia malah tidak mau. Untung istriku. Kalau bukan, sudah aku tinggal dia." gerutu Salman kesal.
"Itu gendongannya bagus yang warna biru muda sayang. Cocok seperti sepatunya tadi." sebelum Wulan bertanya, Salman sudah bersiap memberi jawaban. Ketika Wulan memegang dua gendongan bayi berwarna biru muda dan coklat.
"Aku ngga tanya. Lagian menurut ku bagus yang warna coklat." Wulan memasukkan gendongan tersebut ke keranjang belanja, lalu kembali berjalan menuju rak baju.
__ADS_1
"Kenapa aku salah lagi?" gumam Salman sambil geleng-geleng kepala.