Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
252. Putus asa


__ADS_3

"Mama duluan yang masuk." Mama menarik baju suaminya, agar berhenti. Papa Reyhan langsung terdiam di tempat.


"Ingat, sebelum mama suruh masuk. Papa jangan masuk." Tegas mama Laura. Papa Reyhan menganggukkan kepalanya.


"Wulan." Seru mama Laura, sambil menutup pintu kamar anaknya.


Wulan mendongakkan kepalanya, matanya semakin terlihat sembab. Ia terkejut melihat kedatangan mamanya.


'Pasti mas Salman yang menyuruh mama kesini. Sudah di kasih tahu juga, jangan bilang ke mama. Ini kok malah nekad bilang sih?' gerutu Wulan dalam hati.


Ibu muda itu menyapu wajahnya dengan tangan, untuk menghilangkan jejak tangisnya, sambil mengulas senyum.


"Apa masih sakit?" Tanya mama Laura, yang sudah duduk di hadapan Wulan. Istri dari Salman itu pun mengangguk.


"Kalau mau menangis, tidak apa-apa. Tapi jangan sambil menggendong bayi. Kasian baby mu, ikut merasakan kesedihan mu. Sini, biar mama yang menggendongnya."


Mama Laura mengambil baby Maryam pelan-pelan dari pangkuan Wulan. Setelah itu, mama Laura melihat ke arah dada Wulan yang semakin membengkak.


"Sambil menunggu Salman pulang, coba kompres dengan air hangat dulu ya. Sebentar, mama minta tolong ke papa dulu." Mama Laura beranjak dari duduknya, lalu meletakkan baby Maryam di boxnya. Kemudian ia berjalan keluar.


"Bagaimana, apa yang terjadi?" Papa Reyhan yang duduk di kursi depan kamar anaknya, segera bangkit dari duduknya, dan mendekati istrinya.


"Masih sama. Tolong ambilkan air hangat ya pa. Secepatnya, tidak pakai lama. Kalau sudah, segera antar. Dan jangan lupa mengetuk pintu." Setelah berkata seperti itu, mama Laura menutup pintunya lagi.


"Haiyah, mama sungguh kelewatan. Kerjaannya hanya memerintah melulu." Gerutu papa Reyhan.


Namun tak urung papa Reyhan melaksanakan juga apa yang diperintahkan istrinya padanya.

__ADS_1


Ia berjalan menuju dapur dan segera merebus air. Tak lama kemudian, airnya sudah hangat. Bergegas ia membawanya cepat-cepat menuju ke lantai atas.


Sesuai dengan perintah istrinya, ia mengetuk pintu kamar dulu sebelum masuk. Tak lama kemudian, pintu terbuka.


Kepala mama Laura menyembul keluar dan melihat suaminya yang membawa air hangat dalam baskom.


"Terima kasih, pa. Sekarang papa tunggu di luar lagi ya. Nanti kalau ada apa-apa, pasti mama bakal panggil papa." Mama Laura meraih baskom itu, lalu kembali menutup pintunya.


"Sayang, di kompres pakai air hangat dulu ya." Ucap mama, sambil memasukkan handuk kecil ke dalam baskom, lalu memerasnya.


"Buka dulu kancing bajunya. Kita sama-sama perempuan, tidak usah malu." Titah mama.


Wulan pun mengangguk, dan mama menempelkan handuk kecil itu di dadanya. Sesaat Wulan menutup mata, merasakan hangatnya handuk kecil itu.


"Bagaimana rasanya? Sudah mendingan belum?" Tanya mama Laura setelah sekian menit berlalu


"Sabar ya." Wulan mengangguk lemah.


**


Sedangkan di luar sana, Salman tengah mengitari daerah tempat tinggalnya. Berharap bisa menemukan apotik. Namun tidak kunjung menemukannya.


Pria itu pun mencoba mencari di daerah yang lebih jauh. Senyumnya mengembang ketika melihat ada apotik yang buka satu kali dua puluh empat jam.


Bergegas ia turun dari mobil dan berlari kecil masuk ke apotik.


"Permisi, mbak. Ada pompa asi tidak?"

__ADS_1


"Maaf, kak. Pompa asi nya habis. Baru saja di beli sama pengendara sepeda motor itu." Balas karyawan apotik, sambil menunjuk seorang pengendara motor, yang keluar dari pelataran apotik.


"Yah." Lirih Salman kecewa.


Laki-laki itu keluar dari apotik dengan wajah lesu. Sudah kesana-kemari ia mencari, tapi tetap tidak berhasil mendapatkan barang yang sangat dibutuhkan istrinya. Akhirnya ia pun melajukan mobilnya pulang.


**


Di luar rumah, Salman baru saja sampai. Ia memarkirkan mobilnya asal. Lalu berlari kecil masuk ke dalam rumah.


"Lhoh, apa yang papa lakukan di situ?" Salman terkejut melihat papanya yang duduk di depan kamarnya sambil menahan kantuk.


"Kamu sudah pulang? Apa kamu membawa apa yang dibutuhkan istri mu? Kalau tidak ada, kamu bisa ikuti saran papa." Bukannya menjawab pertanyaan anaknya, papa Reyhan justru memberondong anaknya dengan pertanyaan.


"Saran apa, pa?"


"Sedot saja asi nya." Balas papa enteng.


"Apa!" Salman terkejut dengan ucapan papanya.


"Apa masih mengantuk? Apa papa sudah lama tidak mendapat jatah dari mama? Kenapa bicaranya ngelantur seperti itu? Asi itu kan jatah makan untuk baby Maryam. Salman tidak mungkin tega untuk mengambil haknya."


"Sembarangan kalau bicara. Papa ini masih dalam mode siaga. Dulu papa juga pernah melakukan hal itu pada mama. Saat kamu berhenti menyusu."


Salman pun sejenak berpikir, lalu memutuskan masuk dan melihat keadaan istrinya.


"Hem, pasti dia akan melakukan seperti apa yang aku katakan tadi." Gumam papa sambil kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat duduk.

__ADS_1


__ADS_2