
"Ma, pa. Kami berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." Salman bergantian menjabat tangan mama dan papanya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Wulan pun juga melakukan hal yang sama.
"Hai Baby cantik, hati-hati ya di jalan. Jangan lupa bawakan Oma oleh-oleh." Dengan gemas Oma Laura menghujani cucunya dengan kecupan.
"Beres Oma, nanti Maryam bungkusin jerapah, gajah, harimau. Tapi miniaturnya." Balas Salman dengan logat khas anak kecil yang cedal.
Sedangkan baby Maryam menimpalinya dengan celotehan dan tawa. Seolah ia tahu apa yang tengah dibicarakan.
Mereka pun berjalan beriringan menuju mobil yang sudah disiapkan di depan teras rumah. Oma Laura dan papa Reyhan tidak bisa ikut, karena ada acara dengan para pemilik showroom di kotanya.
Wulan memangku baby Maryam, tapi bocah kecil itu selalu saja bergerak kesana-kemari. Sehingga membuat mommy nya sudah kehausan sebelum tiba di tempat rekreasi.
Salman yang mengemudikan mobilnya, menoleh dan terkekeh melihat aksi bayi perempuannya yang sangat lucu.
"Sayang bayi kita memang membuat kita jadi awet muda. Melihat tingkahnya sudah membuatku terkekeh sejak tadi. Kalau aku punya bayi seperti baby Maryam selusin, entah berapa kali aku akan terkekeh setiap harinya."
Wulan menoleh ke arah suaminya sambil melotot dan mencebikkan bibirnya. Salman yang melihatnya bertambah lebar tertawanya.
"Ya Allah, sayang. Maaf, aku hanya bercanda. Tapi kalau Allah menganggap candaan ku serius, ya aku bisa apa."
"Mas." Dengan gemas Wulan mencubit pinggang suaminya.
"Arghh... Sakit sayang." Salman mengusap sebelah pinggangnya yang terasa sedikit memanas karena cubitan istrinya.
__ADS_1
"Salah sendiri, kenapa bicaranya seperti itu." Wulan mengerucutkan bibirnya.
"Oh, baiklah. Aku akan bercanda nanti saja ketika dirumah. Jadi aku bisa membalas mu dengan sengatan ku." Kekeh Salman lagi, sedangkan Wulan hanya bisa mendengus kesal dan geleng-geleng kepala.
Suaminya sekarang menjadi sangat murah kata. Tidak seperti dulu yang selalu jual mahal kata.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di kebun binatang yang sangat terkenal. Tidak hanya di kota itu, tapi juga terkenal sampai kota-kota terdekatnya.
Salman segera turun dan mengeluarkan stroller serta barang-barang bawaannya yang lainnya. Wulan pun turun dan meletakkan dengan hati-hati baby Maryam di dalam stroller itu.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan menuju loket tiket masuk.
"Ya Allah, mas. Jam segini sudah banyak saja sih pengunjungnya."
"Kamu duduk di sana dulu ya. Bisa capek kamu kalau berdiri terus." Salman menunjuk sebuah kursi tunggu. Wulan pun patuh dan berjalan ke arah kursi itu sambil mendorong bayinya.
"Woi." Salman berjingkat terkejut, ketika bahunya di tepuk seseorang dari arah belakang dengan keras.
"Ya Allah, Fatih." Salman mendengus kesal.
"Kau hampir membuatku jantungan." Salman memukul lengan saudaranya itu. Sedangkan Fatih hanya terkekeh saja.
"Lucu sekali penampilan mu. Bawa tas bayi, tas sendiri, tas istri, ada termos dan paper bag juga. Sudah seperti ibu-ibu saja." Celetuk Fatih.
__ADS_1
"Hei, bung. Harusnya kamu juga sadar diri dong. Kita itu sama. Sama-sama jadi ibu-ibu. Justru bekalmu juga lebih banyak daripada aku. Jangan-jangan kau tidak berniat tamasya, tapi ingin pindahan." Salman menunjuk barang bawaan saudaranya sambil terkikik. Fatih celingukan sambil memindai penampilannya sendiri.
"Astaghfirullah, aku baru sadar. Ternyata kita sama, Sal." Fatih menepuk jidatnya sendiri. Lalu keduanya terkekeh kecil.
"Mana pasukan mu?"
"Tuh lihat, sedang berteduh. Kasian kalau harus ikut mengantri lama." Salman menunjuk istrinya yang tengah duduk dan memegang bayinya.
"Kalau prajurit mu mana?" Salman bertanya balik.
"Mereka juga sedang berteduh. Tuh di bawah pohon." Fatih menunjukkan istrinya yang sedang berdiri sambil memegang stroller bayinya.
Tak lama kemudian, giliran Salman yang membeli tiket, lalu di susul Fatih di belakangnya.
Setelah membeli tiket, mereka pun masuk bersama dan mengedarkan pandangannya. Jalan mana yang harus mereka lalui terlebih dahulu, karena kebun binatang itu sangat luas. Bahkan pengunjungnya yang lebih banyak, tidak hanya berasal dari dalam kota, tapi juga luar kota.
"Hei, lihat. Bukankah itu bule mantunya pak dokter?" Salman menunjuk seorang laki-laki bule yang tengah berdiri di depan kandang burung.
"Oh iya benar. Mungkin dia sedang membandingkan ukuran patuk nya dengan punya burung itu, besaran mana."
"Fat..." Geram Salman, karena ada wanita-wanita yang berdiri dibelakang mereka. Kalau tidak ada wanita-wanita itu tidak masalah, karena pada dasarnya kedua lelaki itu sudah sama-sama somplak nya.
Sementara Aisyah yang menjadi istri Fatih tampak memerah wajahnya karena malu dengan ucapan suaminya. Wulan yang juga ikut mendengarnya, hanya terkekeh geli.
__ADS_1