Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
243. Khilaf


__ADS_3

Seluruh orang yang ada di kedai Mixue itu sampai geleng-geleng kepala, melihat kelakuan Salman.


Apalagi mata para wanita, yang menatap penuh damba pada pria itu.


Ia rela mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk mendapatkan antrian pertama dalam memesan minuman.


Dan semua itu ia lakukan demi wanita bule berjilbab yang sangat cantik.


Sungguh beruntung wanita bule itu. Bisa mendapatkan pria yang tampan seperti Salman dan sangat baik pada pasangannya.


Tak lama kemudian, pelayan menghampiri Salman dan Wulan yang tengah duduk berhadap-hadapan, untuk mengantarkan pesanannya.


Wulan membulatkan matanya, melihat suaminya membelikan banyak minuman itu untuknya.


"Sayang, kamu ingin menjadikan perutku sebagai tempat penampungan air ya? Kenapa beli sebanyak ini?" Protes Wulan.


"Aku khawatir, jika beli satu atau dua, nanti kamu masih kurang. Ujung-ujungnya aku juga yang di suruh kesini lagi, dan antri."


Wulan menyunggingkan senyum, mendengar suaminya memujinya di depan keramaian. Sedangkan para pengunjung itu geleng-geleng kepala, melihat keromantisan yang keduanya tunjukkan.


"Ayo kita segera pulang." Ajak Salman, lalu bangkit berdiri.


Wulan menganggukkan kepalanya, dan ikut berdiri. Lalu keduanya bergandengan tangan dengan mesra, dan berjalan keluar.


Pelayan yang membawa pesanannya, mengekor di belakangnya. Terpaksa harus berpura-pura buta, agar tidak melihat keromantisan yang ditunjukkan keduanya.


Salman membukakan pintu bagian belakang. Lalu menyuruh pelayan itu memasukkan cup minumannya.


"Mas, lihat. Itu ada kedai buah?"

__ADS_1


Wajah Wulan tampak berbinar, ketika melihat kedai buah yang tak jauh dari pelataran Mixue. Ibu menyusui itu memang selalu ingat apa saja yang ia inginkan.


Wulan dan Salman pun memutar badannya, lalu berjalan menuju kios buah. Yang terletak di samping kedai Mixue. Sesampainya di sana, Wulan mencari keberadaan buah naga yang diinginkannya.


Ternyata bukan hanya buah naga yang diinginkan ibu menyusui itu. Ada buah kiwi, strawberry, mangga dan beberapa buah-buahan yang lainnya. Setelah dihitung totalnya, Salman membayarnya.


"Sudah deal ya, tidak ada yang ingin dibeli lagi?" Tanya Salman memastikan, ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Tidak." Wulan menggelengkan kepalanya.


Mobil pun mulai melaju menuju kediaman mereka. Sesampainya di rumah, keduanya sudah disambut dengan suara tangisan baby Maryam.


Wulan segera membuka pintu rumah sembari mengucapkan salam.


Sementara Salman berjalan di belakangnya, setelah menyuruh asisten rumah tangganya untuk membawakan belanjaannya.


Terlihat semua orang tengah berkumpul di ruang tamu, untuk mendiamkan tangisan baby Maryam. Wulan merasa bersalah dan segera menghampiri putri kecilnya, yang tengah berada dalam gendongan mama mertuanya.


"Duduk dulu, sayang." Ucap mama Laura, sambil menggeser tubuhnya, agar Wulan bisa duduk disampingnya.


Istri dari Salman itu segera mengeluarkan kantung asi miliknya, lalu mendekatkan pada putri kecilnya.


Si bayi yang kelaparan, melahapnya dengan cepat. Hingga wajahnya dipenuhi keringat.


Mama Laura membulatkan matanya, melihat Salman berjalan masuk, diikuti asisten rumah tangganya, yang membawa makanan banyak sekali.


"Apa kalian mau jualan makanan?" Celetuk papa Reyhan.


Salman dan Wulan saling beradu pandang, lalu meringis.

__ADS_1


"Untuk amunisi Wulan, pa. Biar tidak kelaparan tengah malam." Salman berterus terang.


"Maaf ya pa, ma. Tadi kami kelamaan mampir membeli ini itu, sampai baby Maryam menangis. Papa dan mama sampai kerepotan. Em, papa dan mama juga boleh minta kok." Imbuh Wulan.


Ia memang merasa tidak enak karena terlalu merepotkan keduanya. Tak lupa Wulan juga menawari keduanya, agar mertuanya tidak marah padanya. Karena dianggap terlalu boros.


Papa Reyhan terkekeh sejenak sebelum menjawab.


"Papa tidak akan memintanya. Benar apa yang dikatakan Salman. Biar kamu tidak kelaparan tengah malam."


Wulan tersenyum lega. Mertuanya memang benar-benar baik kepadanya.


"Bi, tolong bawa semua makanannya ke kamar Salman ya." Titah papa Reyhan.


"Baik, tuan."


Asisten rumah tangga mereka, segera melaksanakan perintah papa Reyhan. Sedangkan Salman dan Wulan masih duduk di sofa ruang tamu.


Mereka sekeluarga tengah membicarakan Fatim dan bayinya. Papa Reyhan dan mama Laura yang memang sudah menjenguk lebih dulu, jika mengingatnya juga merasa iba.


Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali berdo'a. Semoga sang bayi bisa segera normal dan bisa segera pulang.


Saat Wulan menyingkap jilbabnya, ia melihat bayinya telah tertidur kembali. Peluh kembali membasahi wajahnya, padahal tadi sudah ia bersihkan dengan tisu.


Setelah bercakap-cakap sejenak, Wulan dan Salman pun pamit masuk ke kamarnya. Untuk menidurkan sang bayi.


Keduanya berjalan beriringan. Salman merangkul bahu Wulan. Dan wanita itu menggendong bayinya.


Keluarga Salman yang melihat hal itu menyunggingkan senyum. Keduanya ikut berbahagia, melihat anak dan menantunya juga bahagia.

__ADS_1


❤️❤️



__ADS_2