Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
99. Masjid Westermoske


__ADS_3

Setelah pulang dari tempat ibadah, Wulan mengunci diri di dalam kamarnya. Ia benar-benar ingin memantapkan hatinya.


Ia pun membuka aplikasi handphonenya untuk mencari tambahan ilmu. Karena tak ada siapa pun juga yang bisa dimintai penjelasan.


Selain itu, ruang geraknya juga tak ingin di ketahui oleh keluarganya dalam waktu dekat ini.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak sadar, ia justru ketiduran. Sebuah dering telepon membuatnya tergeragap bangun.


"Natalie." desis Wulan sambil membulatkan matanya. Seketika itu juga kesadarannya langsung terbangun. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo Nat. Maafkan aku jika mungkin akan terlambat sampai ke rumah mu, karena ini aku baru bangun tidur." ucap Wulan dengan cepat, membuat Natalie yang ada di seberang sana mengulas senyum.


"Ya sudah, kamu segera bersiap-siap ya. Segala sesuatu itu tidak baik kalau terburu-buru."


"Baik Nat, terima kasih. Kalau begitu aku akan segera bersiap-siap. Selamat sore, sampai ketemu." ucap Wulan.


Setelah Natalie membalas ucapan Wulan, panggilan pun berakhir. Wulan berlari ke kamar mandi. Dan tak lama kemudian ia sudah keluar.

__ADS_1


Seperti biasa ia akan memakai setelan baju panjang, lalu rambutnya di kuncir ke belakang. Tak lupa ia memoles wajahnya dengan make up natural.


Setelah yakin dengan penampilannya, ia melenggang keluar kamar. Lalu mencari keberadaan grandpa dan grandmanya untuk berpamitan.


"Grandpa, Wulan pamit mau jalan-jalan dengan teman ya. Suntuk di rumah terus." ucap Wulan sembari merangkul kan tangannya di bahu lelaki sepuh.


"Hem, tumben kamu ingin pergi jalan-jalan? Tentu akan grandpa ijinkan. Asal itu membuat mu bahagia."


"Terima kasih pa." Wulan mengecup pipi grandpanya. Setelah itu ia mencari keberadaan grandmanya.


Wulan melenggang keluar rumah dengan hati yang riang gembira, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah.


Jarak rumahnya dengan Natalie lumayan dekat. Jadi tidak butuh waktu lama ia sudah tiba di kediaman teman barunya itu.


Baru satu kali ketukan, pintu utama rumah Natalie sudah terbuka. Sepertinya temannya itu memang sudah benar-benar menunggunya.


"Hai." ucap mereka bersamaan. Lalu keduanya saling berpelukan. Setelah mengurai pelukan Natalie memanggil suaminya.

__ADS_1


"Wulan, seperti yang aku pernah bilang padamu, suami ku akan menemani kita sore ini."


"It's okay, aku justru malah tenang ada seorang laki-laki diantara kita. Setidaknya aku bisa tenang juga." balas Wulan apa adanya.


Suami Natalie mendekat ke arah mereka dengan menggandeng Anisa. Lalu mereka pun berjalan beriringan menuju mobil Wulan yang terparkir sempurna di pinggir jalan.


Wulan menyerahkan kunci mobilnya pada suami Natalie, yang artinya ia mempersilakan laki-laki itu memimpin perjalanan mereka.


Anisa duduk di depan bersama ayahnya, sedangkan Natalie dan Wulan duduk di belakang.


Tadi Wulan bisa tenang, tapi semakin mendekati tempat tujuan, ia tampak gugup. Jemari tangannya saling bertautan, dan keringat dingin muncul diantara sela-sela jarinya.


"Aku pernah berada di posisi mu. Serahkan semua ini pada Allah. Semoga apa yang kamu lakukan ini Allah ridhoi." ucap Natalie sembari menggenggam tangan temannya. Wulan mengangguk patuh. Ia menghirup nafas dalam-dalam untuk melegakan perasaannya.


Akhirnya mereka kini sampai di sebuah masjid yang sangat bagus design nya, meskipun baru di lihat dari luar. Yaitu masjid Westermoske.


Wulan sejenak memandang bangunan yang megah itu dari dalam mobil. Mulutnya sampai ternganga.

__ADS_1


__ADS_2