Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
184. Kedatangan penghulu


__ADS_3

Leon membukakan pintu untuk mamanya. Wanita itu tertegun melihat penampilan anaknya yang lain dari biasanya.


Karena saat itu ia mengenakan stelan jas nikah berwarna putih. Lengkap dengan peci nya. Ia semakin tampak gagah dan rupawan.


Meskipun hanya menikah di rumah, dan hanya di hadiri oleh kaum kerabatnya saja. Leon dan Fatim tetap ingin tampil maksimal. Dengan menyewa sebuah baju pernikahan.


Karena tidak mungkin rasanya keduanya untuk memesan baju pernikahan. Mengingat mereka hanya memiliki waktu kurang dari dua puluh empat jam.


"Kamu tampan sekali, Leon." Mama Margaretha berbinar wajahnya dan pandangannya masih lekat menatap anaknya.


"Pasti Fatim dan yang lainnya akan terpesona dengan penampilan mu." Mama Margaretha menangkup wajah putranya yang kini tengah tersenyum menatapnya.


"Sungguh, ma. Penampilan Leon sudah keren?" Mama Margaretha mengangguk yakin.


Terbayang di benaknya, Fatim akan menatapnya tanpa kedip. Melihat penampilannya saat ini.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Semua juga sudah siap, kok."


Leon menutup pintu kamarnya, lalu berjalan dengan mamanya menuju ruang tamu. Dimana keluarga Wulan telah berkumpul.


"Wow. Kamu keren sekali, Leon." Marquez memujinya dengan senyum merekah.


"Terima kasih, om." Leon pun membalas dengan senyuman.


"Semua sudah siap. Ayo kita berangkat." ajak Leon.


Seluruh anggota keluarga itu pun bangkit dari duduknya. Dan bersama-sama menuju mobil mereka.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Marquez menoleh ke belakang. Lalu mengamati semuanya satu persatu.


"Anak ku mana?" karena ternyata Wulan dan Salman belum ada dalam rombongan itu.


"Wulan disini, Dad." Sebuah suara mengalihkan pandangannya mereka.


Terlihat Wulan dan Salman berjalan beriringan menuruni anak tangga. Keduanya tampak serasi dengan memakai baju berwarna senada.


Saat itu mereka menggunakan baju berwarna Sage green. Dengan hijab berwarna hitam yang melekat sempurna di kepala Wulan. Yang juga senada dengan warna celana panjang yang dikenakan Salman.


"Heran deh sama, Daddy. Bisa-bisanya melupakan anak sendiri." cicit Wulan sambil berjalan ke arah keluarganya. Marquez terkekeh.


"Maafkan Daddy, honey. Bukan Daddy lupa. Tapi Leon yang buru-buru mengajak kami berangkat. Sepertinya dia memang sudah tak sabar untuk menikah."


"Leon tidak mau jadi penunggu jodoh orang melulu, om." balas Leon tak mau kalah. Semua pun tergelak.


Sepanjang perjalanan, Leon membuka aplikasi handphonenya untuk menyontek ucapan ijab qobul.


**


Di tempat lain, yakni kediaman Fatim. Gadis manis itu kini juga tengah di rias oleh seorang MUA. Setelah hampir dua jam, akhirnya ia selesai di rias. Perias itu pun pamit undur diri.


Tak berselang lama setelah ia selesai di rias, mamanya masuk ke kamarnya. Ia tertegun melihat anaknya yang tampak jauh lebih cantik.


Fatim tersenyum simpul menanggapi ucapan mamanya. Lalu ia beralih menghadap ke cermin. Ia juga tertegun melihat wajahnya yang tampak berbeda, karena bertambah cantik. Seperti apa kata mamanya.


"Semoga kamu bisa membina rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah bersama pria pilihan mu ya nak." Mama Tiwi mengusap kepala anaknya dengan lembut.

__ADS_1


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Terima kasih mama atas doa baiknya. Fatim juga ingin seperti papa dan mama yang selalu hidup rukun dan tidak pernah bertengkar." Fatim mendongak menatap mamanya.


"Iya sayang. Mama juga akan selalu mendoakan seperti itu. Ya sudah, mama tinggal ke bawah dulu ya. Masih ada yang perlu mama persiapkan untuk menyambut kedatangan keluarga, nak Leon. Kamu banyak-banyak berdoa ya sayang."


"Baik, ma."


Fatim kembali duduk di depan meja rias sembari beristighfar untuk menghilangkan kegugupannya.


Setelah sekian menit berlalu, terdengar suara deru mobil. Fatim bangkit berdiri, dan mengintai dari balik tirai jendela.


Jantungnya kian berpacu cepat ketika melihat satu persatu rombongan keluarga Leon keluar dari mobil.


Tak di pungkiri, Fatim takjub dengan penampilan bule yang memakai stelan jas nikah berwarna putih, dan lengkap dengan peci nya.


"Semoga kamu bisa menjadi imam terbaikku." gumamnya, di iringi senyum tipis.


Fatim kembali ke tempat duduknya sambil menunggu panggilan dari mamanya.


**


Di lantai bawah. Ketika mendengar bunyi bel yang berulang kali, kedua orang tua Fatim segera berjalan menuju ruang tamu untuk menyambut tamunya.


Mereka saling bersalaman dan berpelukan, lalu mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.


Keluarga Leon meletakkan beberapa barang seserahan di meja, sebelum mereka duduk.


Tak berselang lama saat mereka tengah bercakap-cakap, penghulu pun datang. Papa Adam segera mempersilahkannya masuk. Sedangkan mama Tiwi bergegas ke lantai atas untuk memanggil Fatim.

__ADS_1


"Fatim, ayo sayang. Waktunya kamu keluar. Keluarga nak Leon, serta pak penghulu sudah datang." seru mama dari balik pintu kamar.


Jantung Fatim berdegup tak menentu, padahal ikrar ijab qobul belum di mulai.


__ADS_2