Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
174. Mengganti kebiasaan


__ADS_3

"Saya paham, pak. Dilihat dari jawaban bapak tadi, artinya saya boleh memutuskan untuk menjadi mualaf sekarang, ya?" haji Dahlan mengangguk sambil mengurai senyum pada Leon.


Sekali lagi, Leon menghirup nafas panjang.


"Baiklah, pak. Detik ini saya ingin menjadi seorang mualaf. Tolong bantu saya." ucap Leon tegas.


"Tidak hanya anak saya, pak. Saya sendiri juga mau menjadi seorang mualaf. Kami ingin selalu berkumpul, belajar dan beribadah bersama. Agar juga bisa masuk surga bersama-sama." timpal papa Marco.


"Saya juga ikut dengan apa yang diputuskan oleh suami dan anak saya, pak." kini mama Margareth juga ikut menyahut.


"Alhamdulillah." suara tahmid menggema ke seluruh pelosok ruangan itu, mendengar keputusan yang mereka ambil.


Haji Dahlan memberikan penjelasan tentang tata cara menjadi mualaf. Setelahnya mereka segera mempersiapkan diri.


Salman membantu Leon berjalan menuju tempat wudhu. Karena kakinya masih sedikit sakit ketika digunakan untuk berjalan.


"Jika bukan karena kamu merebut Wulan dari ku. Pasti sampai sekarang aku belum bisa mengambil keputusan sebesar ini, Sal. Terima kasih ya."


Salman mendengus kesal.


"Kenapa kamu seperti itu?" tanya Leon yang melihat wajah Salman tak enak di pandang.


"Bahasa mu yang kurang sopan. Aku memang ditakdirkan menjadi jodohnya Wulan. Bukan niat ingin merebut dari mu.


Bahkan saat kami awal bertemu dulu, aku juga tidak pernah ada rasa dengannya. Justru dia yang ngebet selalu mendekati ku.

__ADS_1


Sampai akhirnya dia menjauh dari ku. Barulah perlahan aku merasakan kehilangan dirinya.


Dan di saat kami sudah sama-sama pasrah, justru itulah titik dimana Allah mempertemukan dan menjodohkan kami." Salman mengakhiri ucapannya dengan senyuman. Membayangkan saat saat dulu yang mungkin terasa konyol.


"Haish, sudah-sudah. Jangan senyum-senyum sendiri. Iya-iya, maaf tadi aku salah bicara. Sekarang kamu ajari aku cara apa tadi...." Leon menggaruk kepalanya sambil berpikir tentang apa yang di suruh oleh haji Dahlan padanya.


"Berwudhu." tukas Salman.


"Nah, iya betul itu. Wudhu." Leon tersenyum sambil menggerakkan jari telunjuknya. Salman pun mulai mengajari tata cara berwudhu.


Sedangkan disamping mereka ada papa Marco yang juga sedang di ajari cara berwudhu oleh papa Andre.


Di bagian tempat wudhu laki-laki, mama Laura juga mengajari mama Margareth berwudhu.


Semua yang ada di dalam masjid, jantungnya berdegup kencang. Terlebih keluarga Leon. Karena pada detik itu juga mereka akan melakukan suatu perubahan yang besar dan sangat berat konsekuensinya.


Satu persatu keluarga papa Marco menghadap haji Dahlan dan mengucapkan syahadat, di susul oleh istrinya dan yang terakhir adalah Leon.


Suara tahmid kembali menggema memenuhi seisi ruang masjid. Mereka saling menjabat tangan dan berpelukan. Isak tangis juga mewarnai mereka.


Tak menyangka akan secepat itu hidayah menghampiri keluarga Marco. Kini mereka menjadi saudara semuslim.


Haji Dahlan kembali memberi nasehat-nasehat dan mengajari sholat pada keluarga papa Marco. Mereka pun memperhatikan dengan baik-baik. Lalu mencoba mempraktekkan urutannya.


Perkara doa yang dibaca, mereka bisa mengingatnya sambil membuka buku atau lewat aplikasi yang ada di handphone.

__ADS_1


Cukup lama mereka bertamu di pesantren. Sangat puas hati mereka. Hingga akhirnya mereka pun ijin pulang.


Haji Dahlan sekeluarga mengantarkan tamunya sampai ambang pintu masjid.


Tak lupa, Fatih mengundang mereka semua untuk hadir dalam acara aqiqah putra mereka besok.


Tentu saja mereka akan mengusahakan agar bisa menghadiri acara tersebut. Karena keluarga besar Wulan sangat penasaran seperti apa acara aqiqah itu.


Salman sengaja pulang ke rumah mertuanya. Karena ia di minta oleh mertuanya untuk melatih keluarga Marco tentang sholat, agar lekas bisa.


Dan saat sholat Maghrib, ia juga di minta untuk menjadi imamnya. Itu adalah pertama kalinya bagi keluarga Marco menunaikan sholat berjamaah.


Mereka sangat meresapi setiap untaian kata yang dibaca Salman. Walaupun masih terbata-bata, mereka berusaha keras untuk mengikutinya.


Selesai sholat, Salman juga memberi tausyiah singkat sampai waktunya sholat Isya', dan dilanjutkan dengan makan malam.


Mereka berkumpul bersama menghadap sebuah meja besar yang dipenuhi aneka makanan yang menggiurkan.


Mereka pun segera mengambil makanan yang mereka sukai dan menyuap ke mulut masing-masing.


"Tumben sayang, kamu tidak menyukai susu coklat. Biasanya kamu menyukai apapun yang berbau coklat." cetus Salman pada Wulan.


"Ngga apa-apa. Aku hanya ingin ganti selera saja." Wulan menjawab dengan santai. Salman hanya manggut-manggut lalu kembali menyuap makanannya.


Sebelum sholat subuh, Wulan sudah terbangun. Tumben sekali ia merasa mual, dan langkah pelan ia berjalan menuju toilet. Lalu memuntahkan cairan bening.

__ADS_1


__ADS_2