Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
207. Sebuah komitmen


__ADS_3

Salman kembali masuk ke kamarnya. Ia duduk di balkon sambil menekan nomor telepon istrinya. Kebetulan Wulan tengah online, jadi panggilan dari suaminya segera diangkat.


Suara Wulan ketika mengucapkan salam terdengar nyaring. Sehingga membuat Salman yang baru saja tiba di Surabaya, langsung kangen. Padahal baru beberapa jam keduanya berpisah.


Keduanya saling mengungkapkan kerinduan. Sengaja Salman menunda menceritakan tentang hal tadi, karena tak ingin istrinya gelisah. Nanti lah saja ketika sudah pulang, pikirnya.


**


Setelah menyelesaikan sholat Isya', Salman keluar kamar.


Beberapa pintu kamar yang ada di sepanjang lorong hotel itu, juga terbuka silih berganti. Ternyata yang keluar dari kamar itu adalah rekan-rekan Salman.


Mereka pun berjalan beriringan menuju restoran yang ada di hotel itu. Mereka terlihat seperti remaja seumuran yang sedang bermain bersama.


Padahal kenyataannya mereka rela datang jauh-jauh untuk berkumpul dan membahas perkembangan usaha counter masing-masing.


Satu persatu dari mereka, duduk mengitari meja yang telah dibooking sebelumnya. Untuk menikmati makan malam bersama.


Acara pada malam hari itu memang masih terbilang santai. Karena mereka hanya makan malam bersama sambil bertukar cerita. Sedangkan acara inti, besok pagi jam delapan, baru akan dimulai.


Kebanyakan dari mereka memang berangkat pagi tadi. Agar bisa sejenak bersantai di hotel, sembari mempersiapkan apa yang akan di bahas keesokan harinya.


Dari kejauhan, tampak seorang gadis muda yang cantik, tengah celingukan mencari laki-laki yang menolongnya tadi pagi.

__ADS_1


Gadis itu tadi memang mengintip dari balik lubang pintu kamarnya. Ketika Salman berjalan beriringan dengan teman-temannya, melintas di depan kamarnya.


Karena tadi ia belum mandi, dan badannya masih bau minuman yang berakohol, makanya ia malu untuk menghadangnya.


Gadis itu memang tertarik pada Salman. Karena baru dia, satu-satunya laki-laki yang tidak tergoda dengan kemolekan tubuhnya. Padahal diluar sana, banyak yang antri untuk mendapatkannya.


Setelah sejenak mengedarkan pandangannya, akhirnya pandangannya mengunci sosok yang dicari. Senyum melengkung menghiasi wajahnya. Bergegas ia pun menghampirinya.


"Hai." sapanya dengan senyum ramah, saat sudah berada di dekat Salman.


Semua rombongan laki-laki yang mengelilingi meja itu menoleh pada gadis itu. Termasuk Salman. Ia tidak menunjukkan raut terkejut sama sekali. Meskipun tahu, jika wanita yang ada dihadapannya adalah orang yang ditolongnya tadi pagi.


"Hai, terima kasih ya. Tadi sudah ditolong."


'Kenapa ekspresi dia datar sekali? Seperti papan pengumuman.' batin gadis itu.


Sementara teman-teman Salman yang lain, mulai berdehem keras, sambil nyengir. Seolah tahu apa yang tengah terjadi diantara keduanya.


"Maaf ya, aku mengganggu waktu mu dengan teman-teman mu. Nanti kita bisa berjumpa lagi. Aku sudah tahu kamar mu kok." ucap gadis itu sebelum pergi meninggalkan rombongan laki-laki ganteng, pengusaha counter.


"Wow. Ada yang mau disamperin ke kamarnya, brow." celetuk salah satu dari rombongan itu.


"Mau juga dong." balas yang lain. Sementara Salman, justru menunjukkan reaksi yang jauh berbeda.

__ADS_1


"Aku sudah beristri. Tolong jangan ganggu aku. Tadi aku hanya kebetulan menolong mu. Tidak usah berlebihan, dengan mengucapkan terima kasih sambil main ke kamar ku. Hargai dirimu sendiri." tegas Salman.


Rekan-rekan Salman dan juga gadis itu, membulatkan matanya. Mereka tak menyangka jika Salman dengan terang-terangan mengakui statusnya yang sudah beristri. Di saat kebanyakan kaum laki-laki mengatakan statusnya yang masih single ketika di luar rumah.


Gadis itu terpaksa menyunggingkan senyum tipis, sambil berlalu meninggalkan gerombolan pengusaha counter. Ia benar-benar tidak menyangka jika ada laki-laki seperti itu.


Padahal ia sudah berdandan secantik dan semenarik mungkin. Tapi tetap saja Salman tidak melirik, apalagi bersalaman.


Ia seakan-akan terhina dengan perlakuan Salman yang demikian. Tapi juga ada rasa tertantang nya. Untuk mengetahui sejauh apa Salman bisa kuat mempertahankan hatinya.


"Aku penasaran, seperti apa istrinya itu. Sampai-sampai dia menolak pesona ku. Awas saja kamu. Aku pasti akan mendapatkan mu." gumamnya sambil membanting pintu kamarnya. Setelahnya ia melempar tas ke sembarang arah. Lalu melepas sepatunya dan melemparkannya ke sembarang arah juga.


Ia mengambil minuman yang membuatnya melayang, dan melupakan Salman.


Sementara itu di restoran, rekan-rekan Salman memujinya, karena berani mengakui statusnya. Tapi ada juga beberapa dari mereka yang mencibirnya, karena menolak didekati wanita cantik seperti tadi.


Salman tak ambil pusing dengan ucapan rekan-rekannya.


Semuanya bebas berpendapat, dan berbuat sesuka hati. Tapi perlu diingat, semua yang kita lakukan di muka bumi akan mendapatkan balasannya.


Salman memang memiliki komitmen yang tinggi. Ia pantang menyakiti hati seorang istri. Karena istri adalah jantung rumah tangga. Baik buruk suatu rumah tangga, tergantung pada cara suami bersikap pada isterinya.


❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2