Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
160. Aisyah melahirkan


__ADS_3

Sambil menikmati pemandangan sore, menyeruput jus buah yang segar, dan menikmati cemilan, membuat mereka semakin betah berlama-lama.


Saat itu mereka tengah membicarakan berbagai usaha yang di geluti oleh orang tua Fatih. Seperti toko Ar-Rahmah yang mereka kunjungi tadi. Karena itu adalah toko milik uminya Fatih sebelum ia menikah.


Sedangkan abinya Fatih adalah seorang pengusaha counter seperti papanya Salman. Ia juga membantu mertuanya atau kakek Fatih mengelola pabrik tahu.


Mereka menyimak baik-baik ketika Fatih bercerita, terutama Wulan. Muncul suatu keinginan dalam diri wanita bule yang kini menjadi istrinya Salman itu untuk menjadi seorang pengusaha seperti keluarga suaminya.


Daddy Marquez memang juga seorang pebisnis, tapi dia selalu sibuk di kantornya. Dan Wulan tidak begitu tertarik dengan itu.


Wulan justru tertarik mengelola usaha counter seperti papa mertuanya, atau membuka usaha toko pakaian muslimah seperti uminya Fatih.


Ditengah keasyikan mereka bercakap-cakap tiba-tiba, Aisyah meringis sambil meremas perutnya.


"Ka-kamu ada apa, Ai?" tanya Wulan dengan wajah yang khawatir.


Semua menatap lekat ke arah Aisyah. Wanita itu terlihat meringis lewat matanya yang menyipit.


"Sayang, apa yang terjadi denganmu?" Fatih beranjak dari duduknya, lalu memegang kedua bahu istrinya.


"Perut ku mulas sekali, mas." rintih Aisyah terdengar memelas.


"Apa kamu akan melahirkan?" Aisyah hanya bisa mendesis pertanyaan suaminya.


"Ayo, kita ke rumah sakit." Fatih dengan sigap mengangkat tubuh istrinya, dan menggendongnya menuju mobilnya terparkir. Sementara Salman dan Wulan segera masuk ke mobilnya lalu mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Wulan memperhatikan dengan serius mobil yang dikendarai oleh Aisyah. Ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Kita doakan saja, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Aisyah dan bayinya." Salman mencoba untuk menenangkan hati istrinya. Namun Wulan tak begitu menanggapinya.


Sementara itu di mobil milik Fatih, terlihat istrinya itu semakin meringis kesakitan.


"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita akan segera sampai rumah sakit kok." Aisyah menganggukkan kepalanya, lalu Fatih kembali berkonsentrasi.


Gedung besar berwarna hijau sudah mulai terlihat. Dan kini mereka sampai di rumah sakit.


Tanpa menunggu dibukakan pintu, Wulan berlari menuju perawat yang ada di bagian depan. Lalu tak berselang lama ia sudah datang bersama beberapa perawat yang membawa brankar.


"Ya Allah, ternyata istri ku baik banget. Bisa gerak cepat melebihi suaminya Aisyah." gumam Salman dengan bangga memuji istrinya.


Ia segera memarkirkan mobilnya, lalu menyusul rombongan Aisyah yang sudah di dorong oleh team medis.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan istri dan bayimu ya, Fat." Salman menepuk pelan bahu saudara keponakannya, untuk memberi dukungan.


"Aamiin." Fatih menganggukkan kepalanya.


Kini mereka bertiga duduk di depan ruang IGD dengan wajah yang menunduk sembari merapalkan doa.


Teringat Fatih belum mengabari keluarganya. Ia pun segera menelpon untuk memberi kabar soal Aisyah.


Di dalam ruang IGD, Aisyah tengah ditangani oleh seorang dokter, dan juga dua orang perawat. Ternyata Aisyah memang akan melahirkan. Ia sudah mengalami bukaan sepuluh.

__ADS_1


Perawat menyiapkan segala sesuatunya, sedangkan dokter bersiap memberi aba-aba pada Aisyah.


Sedangkan di luar, setelah mengabari keluarganya, Fatih kembali terdiam. Tangannya berkeringat dingin membayangkan istrinya yang tengah berjuang bersama bayinya di dalam.


"Wulan." suara seseorang membuat ketiga penunggu Aisyah itu mendongakkan kepalanya.


"Kalian disini menunggu siapa?" tanyanya lagi sambil duduk di dekat Wulan.


"Aisyah, mau melahirkan." balas Wulan.


"Ha. Semoga dia diberi kemudahan. Ia dan bayinya sama-sama selamat dan sehat."


"Aamiin. Terima kasih, Fat." balas Fatih pada Fatim.


"Kamu belum pulang?" Wulan menoleh pada Fatim.


"Belum. Sebenarnya aku mau ke ruangan kak Leon. Tadi dia menelepon ku, memintaku kesana."


Dahi Wulan berkerut mendengar penuturan Fatim. Sepertinya Leon mulai menyukai gadis manis dihadapannya. Karena sekalipun tak pernah Leon dekat seorang wanita, kecuali dirinya.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu, Wulan?" Fatim merasa tak nyaman ketika Wulan menatapnya lekat.


"Oh, tidak apa-apa kok. Aku hanya... kagum denganmu. Yah, kagum. Kamu masih muda, sudah menjadi dokter. Dan di sela-sela kesibukan mu, kamu mau membantu kakek mu berjualan. Sip banget." Wulan mengacungkan kedua jempol nya ke arah Fatim di iringi senyuman.


"Aku justru kagum padamu, Wulan. Berani mengambil keputusan besar dengan menjadi seorang mualaf. Walau awalnya ditentang, kini seluruh anggota keluarga mu justru mengikuti jejak mu. Sip banget." kini Fatim juga mengacungkan kedua jempol nya pada Wulan. Keduanya menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Keduanya tidak menyadari, jika disamping mereka ada dua orang laki-laki yang tengah duduk terdiam dan mendengarkan obrolan mereka.


Sekali lagi, Salman bangga pada istri bulenya.


__ADS_2