Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
37. Disangka penculik


__ADS_3

Mobil Wulan berhenti di sebuah mall. Ia turun dengan langkah santai. Tanpa ia ketahui dan sadari, Salman berjalan dibelakangnya dari jarak aman.


Bagai seorang mata-mata, laki-laki itu memakai kaca mata hitam, topi dan masker. Ia menatap tajam ke arah Wulan yang ada didepannya.


Kaki jenjang Wulan memasuki sebuah store baju. Tangannya bergerak lincah memilah deretan baju yang tersusun rapi dalam sebuah rak. Matanya pun tampak awas memperhatikan setiap detail baju.


Setelah sekian menit berlalu, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil beberapa kaos lengan panjang dan juga celana panjang. Ia masuk ke bilik untuk mencoba beberapa potong baju dan celana yang di ambil tadi.


'Heran, memilih baju saja butuh waktu setahun. Bagaimana kalau keinginan nya untuk jadi pembantu ku seumur hidup, aku kabulkan? Bukannya berkurang, malah justru bertambah beban pekerjaan ku.' batin Salman sambil geleng-geleng kepala.


Di dalam bilik, Wulan mencoba baju baju itu sambil memperhatikan dirinya lewat pantulan cermin. Senyum puas tersungging di wajahnya, kala setiap baju yang ia coba pas di badannya.


Setelah itu, ia keluar dari bilik dan kembali memilih baju dengan santai. Sementara Salman yang bersembunyi sambil terus memperhatikan gadis itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi.


'Tadi sudah mencoba baju, sekarang masih ambil lagi? Dimana-mana wanita memang selalu seperti itu. Persis seperti mama, yang memiliki koleksi baju sampai beberapa almari. Dan itu setiap bulannya masih saja beli, bilangnya ngga punya baju. Astaghfirullah.' Salman mengurut dadanya.

__ADS_1


Wulan kembali ke bilik dan mencoba beberapa pakaian yang ia ambil tadi. Setelah di rasa cocok, ia keluar, dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar total tagihan belanjanya.


Senyum puas melengkung di wajahnya, dengan tangan yang menenteng beberapa paper bag. Ia pun berjalan menuju pintu keluar.


Dan Salman yang berada di belakangnya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, menyadari tingkah gadis dihadapannya yang selalu aneh dimatanya.


Tanpa sengaja ia menabrak seorang anak kecil, hingga membuat anak kecil itu menangis. Salman pun segera menenangkannya.


Sementara itu, Wulan yang berjalan belum terlalu jauh, menajamkan pendengarannya, lalu menoleh ke belakang dan melihat pemandangan itu.


Pikiran negatif menghinggapinya ketika melihat laki-laki yang memakai topi, kaca mata hitam dan masker sedang berjongkok di hadapan anak kecil. Bergegas ia mendekatinya.


Bagaimana tidak, ia berniat menolong anak kecil itu, tapi malah di tuduh yang bukan-bukan. Ia pun mendongakkan kepalanya menatap wajah orang yang telah menuduhnya.


Alangkah terkejutnya ia, ketika yang menuduhnya adalah gadis aneh yang selalu menghantuinya.

__ADS_1


"Wulan." gumam Salman lirih, namun masih bisa di dengar oleh gadis itu.


Paper bag yang ada di tangan Wulan seketika berjatuhan ketika mendengar namanya di sebut. Tangannya bergerak cepat melepas topi dan kacamata yang di pakai laki-laki misterius dihadapannya.


"Kak Salman." gumam Wulan sambil membulatkan matanya dan dengan mulut yang ternganga.


"Astaga, ke_kenapa kak Salman berpenampilan seperti ini? Wulan pikir kakak mau menculik anak ini." celetuk Wulan yang membuat Salman mendengus kesal.


Laki-laki itu tak menggubris ucapan gadis dihadapannya lalu kembali berusaha menenangkan anak kecil yang masih menangis itu.


Tiba-tiba seorang ibu mendekati mereka.


"Anak cantik mama." seru ibu itu sambil merebut anak kecil yang di gendong Salman.


"Ini anak ibu?" tanya Salman memastikan, dan ibu itu pun mengangguk. Salman pun menyerahkan anak itu pada ibunya, dan seketika tangisnya reda.

__ADS_1


"Maafkan saya bu, tadi tak sengaja menabrak anak ibu sehingga membuatnya menangis." ucap Salman lagi.


"Tidak apa-apa nak, terima kasih sudah menolong anak saya." ucap ibu itu, lalu berlalu pergi meninggalkan Salman dan Wulan yang masih mematung.


__ADS_2