
Setelah selesai membuat taman bunga, grandma, grandpa dan Wulan bersiap untuk membuat sarapan bersama.
Roti panggang selai coklat dan segelas susu menjadi menu sarapan simple mereka pagi itu. Setelah nya mereka membersihkan diri karena akan segera berangkat ke tempat ibadah.
"Wulan. Wulan." seru Leon memanggil nama gadis pujaan hatinya hingga berulang kali.
Ia masuk ke dalam rumah dan mencari Wulan ke isi rumah, termasuk ke kamarnya.
Matanya membulat ketika melihat Wulan yang keluar dari kamar mandi dan melilitkan handuk di badannya. Jiwa kelaki-lakian nya seketika muncul. Hingga ia kesusahan menelan saliva.
"Leon! Kenapa kamu sembarangan masuk kamar ku?" bentak Wulan hingga mukanya memerah menahan marah. Yang membuat laki-laki itu seketika tersadar dari lamunannya.
"Bi_biasanya kita kan seperti ini. Grandpa dan grandma juga menganggap ku sudah seperti cucunya sendiri." balas Leon sambil tergeragap.
"Iya aku tahu. Tapi kemarin aku sudah bilang, kalau mulai sekarang kamu jangan masuk kamar ini tanpa ijin ku Leon. Sekarang kamu keluar." tegas gadis itu lagi. Dengan langkah gontai Leon pun keluar kamar.
"Leon, kapan kamu datang? Kenapa muka mu seperti itu?" tanya grandpa bertubi-tubi. Ketika berpapasan dengannya saat menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Wulan mengusir Leon lagi pa. Masa sekarang Leon ngga boleh masuk ke kamarnya lagi." celoteh Leon.
Dulu ia pernah mengadukan hal itu pada grandma, dan sekarang mengadukan pada grandpa. Tingkahnya sudah seperti anak kecil. Dan sekarang grandpa menghirup nafas dalam-dalam mendengar aduan itu.
"Kalian itu sekarang sudah besar. Dan Wulan sekarang sudah memiliki rasa malu. Tidak seperti kamu yang tak tahu malu. Pagi-pagi sudah bikin onar di rumah orang."
"Grandpa, kamu kan sudah menganggap ku cucu sendiri. Jadi tidak masalah kan aku keluar masuk ke rumah ini. Leon juga ngga bikin ribut lho. Kedatangan Leon kesini baik, karena ingin mengajak grandpa sekeluarga berangkat bersama beribadah."
Grandpa menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Ya sudah, grandpa terima niat baik mu. Sekarang kita tunggu saja mereka di ruang tamu. Sebentar lagi pasti akan selesai."
Rasa manisnya pertemanan yang dulu pernah ia rasakan bersama laki-laki itu perlahan memudar.
Dengan rasa malas ia memakai baju dan memoleskan make up. Lalu berjalan keluar kamar. Langkahnya tertahan ketika melihat Leon duduk di ruang tamu bersama grandpa nya.
"Ayo Wulan, kita berangkat sekarang, sebelum terlambat." ajak grandma yang sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Eh iya grandma." balasnya sambil menyunggingkan senyum. Kedua wanita beda usia itu pun berjalan beriringan menuju ruang tamu.
"Keluarga Leon mengajak kita berangkat bersama." ucap grandpa yang membuat Wulan merasa kurang suka.
"Kenapa kita tidak berangkat mengendarai mobil sendiri saja grandpa?"
"Sejak dulu kita kan memang selalu berangkat bersama Wulan." sanggah Leon.
Terdengar suara klakson yang sengaja dibunyikan berulang-ulang.
"Ayo kita segera keluar. Itu pasti papa." ajak Leon dengan penuh semangat. Mau tak mau Wulan hanya mengekor mengikuti mereka yang sudah berjalan terlebih dulu.
"Leon, kamu yang menyetir dong." perintah papanya, ketika melihat Leon akan duduk di dekat Wulan. Gadis itu pun tersenyum puas melihat Leon yang tidak jadi duduk di dekatnya.
Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah ibadah yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hanya butuh sekitar 15 menit, mereka sudah sampai di tempat sakral tersebut.
Mereka segera mencari tempat duduk, mengingat ramainya para jemaah yang hadir. Beruntung mereka mendapatkan tempat duduk di tengah. Setidaknya bisa mendengarkan dengan jelas suara pemimpin.
__ADS_1
Wulan berada di tengah antara grandpa dan grandma nya. Sedangkan Leon duduk di tengah antara kedua orang tuanya.