
Leon pergi ke sebuah toko perhiasan bersama dengan kedua orang tuanya. Sesampainya di sana, mereka bertiga berjalan beriringan memasuki toko.
Tanpa mereka sadari, Fatim melihat mereka. Ia baru sampai di toko itu bersama dengan temannya. Karena temannya memintanya untuk mengantar mencari perhiasan yang bagus.
Temannya segera mengajaknya masuk. Fatim pun menganggukkan kepalanya, pertanda setuju. Lalu dengan penuh semangat, ia mengayunkan kakinya masuk ke toko perhiasan itu juga. Entah kenapa hatinya terasa senang ketika melihat Leon dan keluarganya.
"Ayo kita kesana." temannya Fatim menunjuk etalase yang ada di sebelah kiri, lalu menggandeng tangan Fatim dan mengajaknya ke tempat yang dimaksud.
Padahal sebenarnya Fatim ingin menyapa keluarga Leon. Dengan berat hati akhirnya ia mengikuti langkah temannya.
Saat menemani temannya, Fatim sesekali menoleh ke arah Leon. Berharap pemuda itu juga menoleh ke arahnya. Tapi tidak kunjung menoleh juga.
"Ma, ini bagus ngga? Leon ingin memberikan yang terbaik dan terbagus untuk calon istri, Leon." Leon memperlihatkan sebuah cincin berlian pada mamanya.
Fatim refleks menoleh ke arah Leon, ketika laki-laki itu menyebut kata 'calon istri'. Entah kenapa hal itu membuat hatinya terasa sakit.
'Kemarin, memujiku dengan sebutan bidadari penyelamat hidupnya. Tapi sekarang.... dia sungguh tega.' batin Fatim dengan geram. Sampai-sampai ia mengepalkan tangannya ketika melihat ke arah Leon, yang tengah tersenyum sambil menimbang-nimbang saat membeli perhiasan.
"Fat, kamu kenapa?" temannya Fatim yang bisa melihat perubahan wajahnya, sontak mengejutkannya. Fatim menempelkan ujung jarinya di depan bibir.
"Sssttt... Jangan memanggilku dengan nama itu. Panggil Zahra dulu saja." pinta Fatim dengan suara yang sangat lirih. Sehingga membuat temannya bertambah heran.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" temannya bertanya karena sangat penasaran. Apalagi ketika melihat Fatim yang menutup wajahnya dengan masker dan kaca mata hitam, agar tidak mudah dikenali.
"Kamu ada apa sih, Fat?"
"Zahra." bisik Fatim sekali lagi dengan cepat.
"Aku tidak apa-apa. Jangan banyak tanya. Lebih baik kamu segera tentukan pilihanmu. Mau beli cincin yang bermata biru, atau yang bermata pink. Karena keduanya sama-sama bagus. Motifnya tidak terlalu rame, dan terlihat elegan." Fatim mengalihkan perhatian temannya dengan menawarkan perhiasan yang tadi diinginkannya.
Jantung Fatim semakin berdegup kencang. Karena belum juga ada tanda-tanda Leon, atau pun temannya yang akan duluan keluar dari toko itu.
Terus terang saja, berada di toko itu lama-kelamaan membuat dada Fatim semakin sesak. Ia tidak dapat menahan hatinya yang terasa sakit karena melihat Leon yang sedang membeli perhiasan untuk calon istrinya.
"Fat. Eh, Zahra, maksud ku. Kamu yakin, tidak mau membeli?" temannya menutup mulutnya menyadari salah memanggil.
Ia memang memiliki banyak perhiasan. Semuanya berasal dari mama dan neneknya yang selalu membelikannya. Padahal ia tidak pernah meminta.
Beruntung temannya sudah menentukan pilihan pada beberapa perhiasan, dan kini sedang di hitung totalnya. Setelah selesai membayar, Fatim dan temannya bergegas keluar.
Karena kurang hati-hati, Fatim justru menabrak Leon yang hendak membayar.
"Sorry. Aku tidak sengaja." Leon mengungkapkan permintaan maafnya.
__ADS_1
Walaupun tahu jika yang menabrak bukanlah dirinya. Tapi tidak ada salahnya jika yang meminta maaf dia duluan.
Sementara Fatim, hanya menganggukkan kepalanya, dan tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun untuk membalas ucapan Leon.
Ia segera menggandeng tangan temannya, dan berlalu keluar.
Keduanya menghempaskan tubuhnya di tempat duduknya masing-masing. Temannya Fatim, sejak tadi terus menerus memperhatikan gerak-geriknya yang berbeda dari biasanya.
"Akhirnya...." gumam Fatim sambil menghirup nafas lega. Ia menghirup nafas dalam-dalam setelah melepas masker dan kaca mata hitamnya.
"Apa kamu bersikap aneh seperti ini, karena tuh bule ya." celetuk temannya, yang membuat Fatim menegang duduknya. Dan mengikuti arah telunjuk temannya.
Jari telunjuk itu tepat menangkap wajah bule yang sangat Fatim hafal. Dan kini ia tengah berjalan ke arah mobil yang ada disampingnya.
"Bu-bukan. Ayo segera kemudikan mobilnya. Nanti kita bisa telat sampai rumah sakit." temannya Fatim justru terkekeh melihat ekspresi temannya.
"Rumah sakit punya keluarga mu sendiri. Ngapain takut telat? Lagian, semakin kamu menyangkal, semakin aku yakin kalau kamu sama bule yang kamu rawat itu ada sesuatu." temannya terkekeh cukup keras, yang membuat Fatim membuang nafas kasar dan mengerucutkan bibirnya.
"Dasar kamu. Ngga bisa di ajak kerjasama. Ayo buruan nyalakan mesinnya, atau aku saja yang menyetir." Fatim melipat kedua tangannya sambil melotot ke arah temannya yang juga tidak berhenti tertawa.
Entah apa yang membuat temannya sampai terkekeh seperti itu. Padahal hati Fatim sedang tidak baik-baik saja karena mendengar niat Leon tadi.
__ADS_1
'Ya Allah, kenapa laki-laki itu mudah sekali mengobral kata.' batin Fatim mengeluh.