
"Kamu tahu, ketika saat kami makan siang tadi, dan tengah bercakap-cakap dengan Marquez dan Melati, Wulan tak sengaja berkata 'alhamdulillah'." seloroh grandpa, membuat grandma cukup terkejut dan menoleh ke arah suaminya.
"Tak hanya itu saja, ia juga mengakui di kirim oleh kedua orang tuanya karena mencintai lelaki yang berbeda pemahaman dengan kita." imbuh grandpa, membuat grandma menghela nafas panjang.
Ia sangat kasian dengan cucunya yang harus menjalani takdir yang cukup rumit.
"Apakah laki-laki itu yang mengajari Wulan berkata seperti itu?" celetuk grandma karena penasaran. Grandpa hanya menggelengkan kepalanya, pertanda dirinya juga tak tahu.
"Lalu apa yang kamu katakan pada cucu kita? Apa kamu memarahinya?"
"Tentu saja aku tak tega untuk memarahi nya." tegas grandpa sambil menatap istrinya.
"Kita hanya bisa mendo'akan nya dan mendukung niatnya bekerja di sini. Soal urusan hati, aku tak berani ikut campur. Tapi semoga saja dia mendapatkan jodoh yang sepemahaman." Grandma mengangguk setuju.
Keduanya kembali terdiam sambil berpikir tentang cucu mereka. Ada banyak tanda tanya memenuhi ruang kepala keduanya.
__ADS_1
Namun semua jawabannya masih menjadi misteri yang sulit untuk dipecahkan. Akhirnya keduanya menarik selimut dan mulai memejamkan mata.
**
Sedangkan di kamar Wulan, dalam waktu yang bersamaan. Ia yang masih merasa kenyang, belum bisa memejamkan matanya.
Ia mencoba menghidupkan televisi. Tapi berkali-kali ia mengganti canelnya, tak ada satu pun yang membuatnya terhibur.
Ingin menelpon kedua orang tuanya, pasti mereka sudah tidur. Karena perbedaan waktu yang lebih cepat Indo.
Rasanya tak ada yang bisa ia hubungi. Jika pun ada, maka orangnya adalah Leon. Tapi mengingat segala kelakuan lelaki itu akhir-akhir ini membuatnya jengah dan enggan untuk menghubungi nya. Akhirnya Wulan membuka media sosialnya.
Apalagi saat satu ayat yang di ulang sampai 31 kali. Wulan mengernyitkan dahi. Kenapa satu ayat saja harus di ulang banyak-banyak. Dan ketika ia membaca artinya, seketika ia di buat lemas.
'Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dusta kan.'
__ADS_1
Rasanya ia terlalu banyak mengabaikan segala nikmat Tuhan yang diberikan padanya.
Ia menyesal ketika masih diberi kesehatan, akal yang sempurna malah bersantai-santai saja. Otaknya hanya di fokuskan untuk belajar ilmu dunia tanpa di imbangi dengan pembekalan rohani.
Setiap akhir pekan ia memang selalu berangkat ke tempat ibadah dengan kedua orang tuanya. Mengikuti ritualnya sampai selesai, tapi entah kenapa semua itu tidak pernah merasuk di sanubarinya.
Apa mungkin karena ia mengikuti ibadah itu sejak kecil, sehingga merasa sudah seperti kebiasaan saja. Bukan sesuatu yang tulus dan lahir dari hatinya.
Ketika dibacakan ayat dalam kitab sucinya, ia juga merasa biasa saja, tak sedikit pun hatinya bergetar.
"Sepertinya keyakinan ku mulai kendor. Sebaiknya aku membaca kitab suci ku sendiri." gumamnya, ia pun beranjak dari duduknya lalu mencari kitab sucinya.
Setelah menemukannya, ia kembali ke ranjang tempat tidurnya. Ia bersandar di dinding sembari membuka kitab tebal itu dan mulai membacanya.
Hampir dua jam, ia menghabiskan waktunya untuk membaca. Tapi otaknya kian buntu.
__ADS_1
"Apa aku terlalu kecapekan melihat angka yang tertera di layar laptop tadi? Sehingga tidak bisa memahami arti kitab suci ku sendiri?" gumamnya lagi.
Ia menutup dan meletakkan kitab itu di samping tempat tidurnya. Lalu kembali membuka handphonenya. Ia mencari qori yang membacakan surat Ar-Rahman tadi, lalu memutarnya pelan. Tak lama kemudian, ia mulai tertidur dengan nyenyak.