Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
198. Pesta di kediaman Leon


__ADS_3

Seminggu setelah pesta pernikahan dirumah Fatim, di gelar. Kini pesta itu di gelar di kediaman Leon. Karena jarak tempuh yang sangat jauh, akhirnya hanya keluarga inti, kaum kerabat, dan sahabat kedua orang tua Fatim, seperti keluarga mama Laura, umi Anisa, dan umi Rosyidah, saja yang di ajak untuk ke Belanda.


Beruntung sekali, saat perjalanan panjang dengan menggunakan pesawat, baik Wulan ataupun Fatim, tidak sampai mual-mual.


Setelah sampai di kota tujuan, kaum kerabat keluarga Fatim dijemput oleh bus, yang akan mengantarkan mereka menginap di hotel untuk sementara waktu, sampai acara pesta pernikahan di gelar. Sedangkan keluarga Wulan, tentu saja tidur di rumah grandpa dan grandma.


Kesan pertama Fatim saat tiba di Belanda, adalah ia merasa sangat senang. Karena itu adalah kali pertamanya menginjakkan kakinya di negeri kincir angin.


Leon yang melihat istrinya tersenyum, memeluknya dari belakang.


"Kamu suka?" Fatim pun mengangguk seraya menyunggingkan senyum, menanggapi pertanyaan suaminya.


"Setelah acara selesai, aku akan mengajakmu berkeliling."


"Benarkah?" tanya Fatim dengan wajah yang berbinar. Suaminya itu pun mengangguk.


Leon meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk sekalian menginap di hotel. Agar bisa memanfaatkan waktunya bersama dengan istri tercintanya.


Tapi keinginannya itu terpaksa di tolak oleh kedua orang tuanya. Karena mereka ingin mengenalkan Fatim pada kaum kerabat, dan rekan-rekan papa dan mama Margareth.


Fatim menyetujui usul kedua mertuanya, dan tersenyum meledek ke arah suaminya. Karena ia tahu suaminya itu akan melakukan hal apa ketika di dalam hotel. Akhirnya dengan terpaksa Leon, pun tinggal di rumahnya sendiri.


**


Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Rumah kediaman keluarga Leon di hias dengan kain panjang berwajah putih. Di tambah dengan bunga mawar yang berwarna putih pula. Semuanya terkesan elegan.

__ADS_1


Fatim mengenakan gaun berwarna putih dengan bawahannya yang sangat lebar. Jilbabnya juga berwarna putih. Dan sebuah mahkota kecil bertengger di kepalanya. Membuatnya semakin cantik.


Leon mengenakan tuxedo yang berwarna senada dengan gaun yang dikenakan istrinya. Membuatnya semakin bertambah tampan.


Setelah selesai di rias, keduanya menuju pelaminan. Satu persatu acara siap di mulai. Banyak rekan-rekan kedua orang tuanya yang memuji kecantikan Fatim, dan gaun yang dikenakannya terlihat sangat pas ditubuhnya.


Rekan-rekan kedua orang tuanya juga tidak menyangka, jika keluarga Marco telah menjadi seorang mualaf. Banyak dari mereka yang mengarang berita tidak baik tentangnya. Karena menjadi mualaf dalam waktu yang singkat.


Tapi, keluarga Marco memilih menutup kedua telinganya dari hal-hal yang bisa membuatnya sakit hati. Lebih baik fokus pada pemahamannya saat ini. Dengan senantiasa mempelajarinya.


Kaum kerabat keluarga Fatim takjub dengan pesta yang diselenggarakan di kediaman, Leon. Karena berbeda dengan di daerah tempat tinggalnya.


Acara pesta pernikahan di luar negeri, umumnya lebih cepat selesai dan tidak melibatkan banyak pihak. Berbeda dengan di Indo, yang masih kental memelihara suatu kebudayaan.


"Kamu, ngga apa-apa kan, sayang?" tanya Leon pada Fatim, saat keduanya sudah berada di dalam kamar Leon.


"Aku hanya sedikit lelah. Baju ini membuatku tidak bisa bernafas."


"Oh, biar aku bantu melepasnya." Leon dengan sigap menurunkan resleting belakang gaun yang di pakai Fatim. Dan wanita itu pun bisa bernafas dengan lega.


"Apakah anak kita tidak apa-apa?" Leon mengusap perut Fatim, yang terlihat sedikit membuncit.


"Aku rasa tidak apa-apa. Aku ngga mau pakai baju seperti itu lagi." Fatim ikut mengusap perutnya.


**

__ADS_1


Wulan dan Salman tidak ikut rombongan keluarga Fatim yang pulang ke Indo. Keduanya memutuskan untuk tinggal sementara waktu di Belanda.


Kedua orang tua dan mertua mereka berpesan untuk selalu menjaga kandungan Wulan dengan baik dan hati-hati.


Hari itu adalah hari libur. Wulan sengaja mengajak Salman pergi ke rumah Natalie. Sahabat yang membantunya menjadi seorang mualaf.


Setelah sampai di kediaman Natalie, Wulan mengucapkan salam sembari menekan bel. Saat pintu terbuka, si pemilik rumah begitu terkejut melihat siapa yang datang.


"Wulan." pekik Natalie.


"Natalie."


Keduanya langsung berpelukan dan meneteskan air mata, karena sangat bahagia. Selama beberapa bukan berpisah, akhirnya bisa bertemu lagi. Dalam keadaan yang baik. Setelah mengurai pelukan, Natalie menatap Salman sejenak.


"Apakah dia, suami mu?" Wulan mengangguk sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Aku sangat senang mendengar ketika kamu dulu mengabari ku, akan menikah dengan laki-laki idaman mu. Doa mu terkabul." Natalie tersenyum ke arah dua tamunya.


Ia ingat dengan perjalanan cinta Wulan dan Salman yang tidak mudah. Namun atas seizin Allah, hal yang tidak mungkin dan tidak mudah itu, menjadi takdir untuk Wulan yang membawanya pada kebahagiaan.


"Ayo, silahkan masuk." ajak Natalie, dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya.


❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2