
Fatim berjalan menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Sedangkan Leon berjalan mengikutinya sambil membawa koper milik dirinya sendiri dan juga milik istrinya.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Fatim menghirup nafas panjang, lalu mengeluarkannya pelan. Rasanya sungguh lama juga ia meninggalkan kamarnya.
Kamar yang memberikan kenyamanan baginya selama ini. Karena biasanya digunakan untuk beristirahat, dan melepas lelah setiap hari.
"Kenapa justru bengong?" tanya Leon, yang sejak tadi memperhatikan istrinya berdiam diri di depan pintu.
"Aku bukan bengong kak. Tapi aku lagi merenung."
"Merenung? Merenung kenapa? Ini kan sudah malam. Memang kamu ngga capek? Duduk berjam-jam dalam pesawat?"
"Ya, aku ngga nyangka. Ternyata sudah terlalu lama meninggalkan kamarku sendiri."
Leon membuang nafas. Lalu memeluk istrinya. Ia mulai paham apa yang tengah dirasakan istrinya.
"Kamu pasti kangen sekali. Karena sudah lama tidak menempatinya kan?"
"Kamu mau tinggal di sini lebih lama lagi?"
"Tentu saja mau. Asal ada kak Leon yang menemaniku."
"Ah, so sweet sekali jawaban mu. Sayang." Leon memindai wajah istrinya sambil menyunggingkan senyum.
"Sudahlah. Aku mau masuk. Ayo."
__ADS_1
Fatim membuka pintu. Lagi-lagi berhenti di ambang pintu dan memindai ruang kamarnya yang cukup luas. Kamar yang bernuansa serba pink khas wanita.
"Aku masuk ke kamar mu. Berasa menjadi perempuan seutuhnya." kekeh Leon, sambil mendahului istrinya masuk. Lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk.
Fatim terlihat menyunggingkan senyum, melihat suaminya berguling-guling di atas tempat tidurnya. Lalu ia bergerak mendekatinya.
"Kak. Mandi dulu sana gih. Aku ngga mau tidur sama orang yang belum mandi. Bau asem tahu." Fatim menutup hidungnya sambil nyengir. Leon yang gemas melihat istrinya, merengkuh dan menjatuhkan di sisinya.
"Arghhh... Kakak apa-apaan sih?" pekik Fatim karena terkejut, sambil mengusap perut buncitnya.
Tak menyangka jika suaminya itu punya seribu satu cara untuk membuatnya selalu terkejut setiap hari.
Beruntung kandungannya kuat. Sehingga ia dan bayi dalam kandungannya tidak merasakan sakit. Saat di jatuhkan tadi. Coba jika kandungannya tidak kuat. Mungkin ia sudah meringis kesakitan.
"Kak Leon tuh kenapa sih hobinya selalu mengejutkan ku. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan bayi kita." sungut Fatim kesal.
"Darimana kak Leon tahu?" Fatim menoleh ke arah suaminya, yang berada di samping kanannya.
"Tahu dong. Mau bukti?" Leon mengerlingkan matanya nakal.
"Perasaan ku mengatakan sudah tidak enak. Lebih baik aku saja yang mandi duluan. Dari pada kak Leon mengerjai ku lagi." Fatim segera bangkit dari tidurnya. Sedangkan Leon terkekeh.
Ibu hamil itu segera mengambil baju dan handuk, lalu di bawa menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Ia memenuhi bathub nya dengan air hangat. Lalu berendam di sana. Sangat terasa enak di badan, dan membuatnya semakin nyaman.
__ADS_1
Sementara itu di tempat tidur. Leon sudah mulai gelisah. Pasalnya istrinya sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
"Fatim itu mandi atau tidur sih, di dalam kamar mandi. Kok lama banget." gumamnya.
Ia bangkit dari tidurnya, lalu berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi. Seolah ingin mengetuk pintu, tapi ragu. Sedangkan di dalam, juga tidak terdengar suara gemericik air atau apapun.
"Masa sih, dia bisa tidur di dalam kamar mandi." gumamnya lagi.
Karena sudah dilanda penasaran, akhirnya Leon mengetuk pintu kamar mandi. Tapi berulang kali mengetuk pintu, tetap tidak ada jawaban.
Sedangkan di dalam kamar mandi. Fatim memang masih menikmati berendam di dalam air hangat. Hingga tak sadar jika dirinya sudah terlalu lama berada di sana. Bahkan suara ketukan pintu pun ia tidak mendengarnya. Perlahan cahaya matanya mulai meredup. Dan kepalanya mulai menunduk.
"Sayang." teriak Leon berulang kali.
Karena tak kunjung ada jawaban, akhirnya ia berniat mendobrak pintu kamar mandi. Ia pun mundur beberapa langkah, untuk mengambil ancang-ancang. Lalu berlari kencang.
Belum sempat ia mendobrak, tiba-tiba pintunya sudah terbuka sendiri. Leon tidak bisa menahan kekuatannya. Hingga akhirnya terjerembab di lantai kamar mandi.
Fatim yang melihat hal itu, seketika merasa syok. Tangannya membekap mulutnya yang menganga, dan membulatkan matanya.
Arghh....
Leon mengerang kesakitan. Perlahan ia membalikkan badannya. Wajahnya terlihat memerah menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Tangannya bergerak mengusap tangan yang satunya serta dadanya yang terasa sesak. Karena tadi ia jatuh dengan posisi tertelungkup.
__ADS_1
"A-apa yang kakak lakukan? Mau main salto di dalam kamar mandi?" suara Fatim masih terdengar parau, karena masih syok melihat apa yang dilakukan suaminya. Dengan pelan-pelan, ia berjongkok dan membantu suaminya berdiri.
"Iya, aku suka sekali salto. Besok-besok aku juga mau main salto lagi. Tapi di atas ranjang tempat tidur. Dan tentunya dengan mu juga."