Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
255. Persiapan pulang


__ADS_3

Papa Adam benar-benar kelaparan, hingga ia sarapan pagi terlebih dulu. Mama Tiwi duduk menemaninya, hingga ia menyelesaikan sarapannya.


"Untung tadi masaknya banyak, ma. Jadi nanti tidak takut nambah lagi." Celoteh papa Adam, di sela-sela aktivitas makannya.


"Pa, makanannya di telan dulu dong. Nanti tersedak lho." mama Tiwi sampai geleng-geleng kepala, melihat kelakuan suaminya. Ia senang, jika suaminya juga menyukai masakannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, barulah pasangan suami istri itu mandi lalu melaksanakan sholat subuh. Lalu papa Adam melanjutkan dengan mengaji.


Sedangkan mama kembali ke dapur. Ia berniat memasukkan lauk yang ia buat semalam ke dalam wadah kedap udara.


Mama juga menghias wadah twinwall nya dengan kertas roti dan pita. Lalu memasukkan semuanya itu ke dalam paper bag yang lebih besar.


Terakhir, ia meletakkan paper bag itu di atas meja ruang tamu.


Kini mama Tiwi bisa menghirup nafas lega, karena semua pekerjaannya sudah beres. Tinggal menunggu besan dan anaknya turun.


**


Di dalam kamar tamu, mama Margaretha dan papa Marco sudah siap. Semalam keduanya memang sudah menyiapkan semuanya.


Sehingga kini setelah bangun, dan mandi lalu mengerjakan sholat subuh. Keduanya keluar kamar sambil menarik koper mereka masing-masing.


Keduanya mengernyitkan dahi, ketika hendak menaruh koper di dekat meja tamu, ada beberapa paper bag diatas meja.


Aromanya begitu menusuk indera penciuman keduanya, sehingga membuat perutnya keroncongan.


"Pa, sepertinya ini bau makanan yang mama sukai itu lho." Bisik mama Margareth.


"Iya betul, ma. Mungkin ini sengaja ditaruh sini, untuk diberikan ke kita ma." Bisik papa Marco sambil meringis.

__ADS_1


"Ah, betul itu pa."


"Lhoh, kalian kok disitu?" Ucap papa Adam, mengejutkan kedua orang tua Leon. Pasangan suami-istri itu memutar badan, lalu mengulas senyum.


"Kami meletakkan koper di sini, agar tidak terburu-buru." Papa Adam manggut-manggut dan mengulas senyum.


"Oh, iya. Sebelum berangkat, ayo kita sarapan dulu. Kami telah menyediakan menu istimewa untuk kalian." Ajak papa Adam, terlihat bersemangat.


"Oh, ya. Baiklah kalau begitu. Kebetulan kami juga sudah lapar." Papa Marco memegang perutnya.


Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang makan.


**


Sedangkan di kamar atas, yakni di kamar Fatim.


Ia dan suaminya tengah memandikan Abidah. Terlihat jelas gurat ketakutan di wajah Leon, saat memegang bayi itu.


"Masalahnya aku beneran takut kalau bayi kita jatuh sayang. Tahu sendiri, badan Abidah sungguh mungil. Apa dulu kamu juga sekecil ini?"


"Kamu nanya?" Celoteh Fatim sambil terkekeh, saat menirukan kalimat viral itu.


Andaikan Leon tidak memegang bayinya, ia pasti akan menarik hidung istrinya. Karena tingkahnya itu sangat menggemaskan.


"Jangan menatap ku seperti itu. Kalau kamu masih kepo, tanya saja sama mama dan papa langsung. Aku kan tidak ingat bagaimana bentuk ku dulu kala." Imbuh Fatim.


"Kak, buruan Abidah di masukkan ke dalam ember. Pelan-pelan saja meletakkannya, kepalanya jangan lupa di sangga. Setelah itu sabuni pelan-pelan." Fatim terus memberi instruksi pada suaminya. Agar dia ingat dan tidak gampang lupa.


Setelah selesai memandikan, Leon kembali mengangkat tubuh bayinya. Ia berjalan menuju ranjang tempat tidurnya.

__ADS_1


Diatas tempat tidur itu ada kain bedong dan baju yang sudah di susun rapi. Minyak telon dan bedak bayi juga sudah ada di sana.


Leon mendapat ilmu itu dari Salman. Karena Leon pernah mengeluh padanya, cukup kesulitan memakaikan baju untuk anaknya yang memiliki badan kecil dan lembek.


Cukup lama keduanya mendadani putri kecil mereka. Karena Fatim tidak bisa leluasa bergerak. Ia selalu berhati-hati dalam menjaga jahitannya, agar jangan sampai robek.


Sedangkan Leon belum seahli Salman dalam mengurus bayi. Walaupun keduanya sama-sama menjalani perannya sebagai bapak siaga, untuk putri pertamanya.


Setelah satu jam mendadani Abidah, Leon segera membawa anaknya turun ke bawah. Karena ia harus membantu istrinya membersihkan badan.


Setelah mencari keberadaan kedua orang tuanya, akhirnya Leon melihat kedua orang tuanya tengah berkumpul di ruang makan. Bergegas ia mendekati mereka.


"Ma, tolong bantuin jaga Abidah ya. Leon mau bantuin Fatim membersihkan badan."


"Siap. Untuk cucu Oma yang cantik." Balas mama Margareth.


Mama dari Leon itu memutar stroller nya, agar bisa melihat wajah cucu pertamanya.


Leon segera kembali ke kamarnya. Sedangkan kedua orang tua Leon dan kedua orang tua Fatim mulai mengerubungi dan menimang baby Abidah. Mereka sangat terhibur dengan kehadiran baby Abidah ditengah-tengah hidupnya.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Leon kembali menahan nafas, saat membersihkan tubuh istrinya. Karena ia tidak tahan melihat lekuk tubuh Fatim.


"Sayang, jahitan mu ini kira-kira berapa hari lagi ya sembuhnya?" Celetuk Leon.


"Besok kita tanya ke dokter ya kak. Karena jadwal kontrolnya masih besok."


"Kamu tidak bisa mengecek sendiri? Kan kamu dokter juga."


"Iya, aku memang dokter. Menurut pengamatan ku, sekitar sebulan lagi kak. Tapi untuk lebih pastinya besok kita bisa tanya dokter lagi, agar lebih yakin. Karena ini bagian dalamnya juga perlu di cek."

__ADS_1


"Sebulan? Lama sekali?" Ulang Leon, sambil menunjukkan ekspresi menangis.


__ADS_2