
Pagi itu, setelah sholat subuh, Wulan ke dapur. Ia ingin membantu jika ibu mertuanya sedang memasak. Dan ketika sampai sana, ia tidak melihat mama Laura dan Oma. Meskipun begitu, karena sudah terlanjur di dapur, ia membantu bibi yang tengah memasak.
"Ada yang bisa dibantu, non?"
"Wulan cuma mau bantu-bantu sebisanya kok, bi."
"Tidak usah, non. Saya tidak enak. Ini kan sudah tugas saya."
"Ngga apa-apa, bi. Wulan juga bingung mau ngapain."
Karena Wulan kukuh pada pendiriannya, akhirnya bibi membiarkan ia membantunya.
"Wulan, kamu sedang apa, nak?"
Wulan menoleh, dan melihat mama Laura sedang berjalan ke arahnya.
"Ngga ada kok, Tan. Wulan cuma mau belajar masak bareng bibi saja."
"Kok memanggil nya Tante sih? Panggil mama. Seperti Salman memanggil ku."
"Eh, iya Tan. Maksud Wulan, mama." Wulan meringis.
"Mau masak apa?" Mama melihat irisan paprika dekat tangan Wulan.
"Ayam goreng tepung saus asam manis, ma."
Mama Laura mengangguk, lalu ikut membantu. Sambil memasak, mereka bercakap-cakap. Wulan senang memiliki mertua yang baik hati seperti mama Laura. Bahkan ia bisa melihat kehadiran mommy dalam diri ibu mertuanya.
Para asisten rumah tangga, juga senang memiliki majikan baru seorang bule. Bahkan tak ragu mereka meminta foto bersama dengan Wulan. Dengan senang hati Wulan menuruti permintaan mereka.
Setelah selesai memasak, bergegas Wulan kembali ke kamar untuk mandi. Karena badannya terasa begitu lengket setelah berjibaku di dapur selama satu jam lebih.
Ketika ia hendak membuka pintu, dari arah yang berlawanan pintu juga terasa di buka. Salman dan Wulan terkejut bersamaan.
__ADS_1
"Kamu darimana sayang?"
Wulan meringis sebelum menjawab pertanyaan suaminya.
"Habis masak ya?"
"Kok tahu?"
"Dari baunya."
"Ish, kamu mas. Beraninya ngatain aku bau." Wulan memukul lengan suaminya.
"Ampun sayang. Aku hanya berkata jujur. Meskipun kamu bau, aku tetap cinta kamu kok."
Wulan berhenti memukul dan menatap suaminya.
"Setelah seminggu menikah, kenapa kamu baru mengatakan soal cinta sama aku, mas?"
Salman terkekeh mendengar pertanyaan istrinya.
"Paling bisa, membuat hatiku meleleh pagi-pagi." Wulan memeluk tubuh Salman. Dan laki-laki itu membalas dengan hal yang sama.
"Buruan mandi, gih. Aku sudah bau wangi."
"Mandiin." cicit Wulan manja seperti anak kecil.
"Ayo." tanpa pikir panjang Salman langsung mengangkat tubuh istrinya dan berjalan menuju kamar mandi. Padahal Wulan tadi hanya bercanda.
Setelah selesai mandi, Salman bahkan membantu Wulan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Lalu menyisir rambutnya dengan lembut.
"Mas, apa kamu akan terus bersikap semanis ini sampai kita tua nanti?" Wulan menatap wajah Salman dari pantulan cermin.
"In shaa Allah."
__ADS_1
"Terima kasih. Aku juga akan membalas dengan yang lebih dari ini." Wulan pun mengenakan jilbabnya, lalu keduanya turun menuju ruang makan.
Tampak disana telah berkumpul anggota keluarganya yang lain. Salman mendorong kursi untuk Wulan, lalu untuk dirinya sendiri.
Mereka mulai mengambil menu sarapan pagi yang sudah terhidang di meja makan. Lalu mulai menyuap setelah sebelumnya berdo'a.
Sambil makan, mereka bercakap-cakap. Saat itu mereka tengah membahas tentang umrah.
Rencananya, mereka keluarga Salman akan mengajak keluarga Wulan untuk umrah bersama. Karena tiketnya sudah dipersiapkan.
Wulan pikir, ia hanya akan berangkat umrah dengan suaminya, ternyata keluarganya dan bahkan kedua orang tua Wulan juga di ajak. Wanita itu sangat senang sekali. Ia akan menyampaikan kabar gembira itu pada kedua orang tuanya.
Setelah selesai sarapan, Wulan segera menghubungi kedua orang tuanya.
"Hallo, mom, dad." Wulan melambaikan tangannya di depan layar handphonenya. Karena saat itu ia tengah melakukan panggilan video call.
"Hai. Apa kabar mu sayang?" mommy antusias bertanya.
"Alhamdulillah, mom. Wulan baik. Tahu sendiri kan, kemarin mommy yang mengantar Wulan kesini." semua terkekeh mendengar candaan Wulan.
"Wulan punya kabar gembira nih."
"Apa honey? Kamu hamil ya." seloroh Daddy.
Wulan mengernyitkan keningnya, sementara Salman yang ada disampingnya menyunggingkan senyum tipis. Marquez memang suka sekali bercanda dengan anaknya.
"Kayak bikin Candi saja, semalam langsung jadi. Baru juga dibuat, Dad. Kamu aneh-aneh saja." cerocos Wulan.
Kali ini Salman mengusap wajahnya, menahan malu. Ternyata mertua dan istrinya memiliki selera humor yang cukup belok. Hingga hal seperti itu, dibicarakan di depan banyak orang. Padahal di dekat kedua orang tua Wulan, juga ada grandma dan grandpa.
"Papa dan mama mau mengajak kita sekeluarga umrah, Dad. Pekan depan." ucap Wulan.
"Hah, benarkah itu?" ucap keluarga Wulan kompak.
__ADS_1
"Ya benar lah. Memang Wulan pernah bohong sama kalian." wanita cantik berkulit putih itu pun mengerucutkan bibirnya.
Melalui panggilan video itu, mereka menjelaskan semuanya. Agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya lebih matang.