
Keluarga Wulan mempersilahkan mereka mencicipi hidangan yang telah disediakan. Setelah itu barulah mereka menginjak ke inti acara. Salman pun menghembuskan nafas panjang lalu mulai berbicara.
"Om Marquez, Tante Melati, perkenankan saya menyampaikan maksud kedatangan saya kesini. Saya bukan lah pemuda yang baik, tapi sedang berusaha untuk menjadi orang yang baik. Saya juga bukan seorang ahli agama, melainkan sedang belajar tentang agama yang saya anut selama ini. Dan disini saya mohon ridhonya untuk melamar putri om dan Tante untuk menjadi istri saya. Saya tidak bisa menjanjikan kehidupan yang manis. Karena semua berjalan sesuai ketetapan Allah. Saya sebagai manusia hanya bisa berencana untuk membahagiakan, melindungi, dan mengayomi putri om dan tante."
"Om dan tante sangat senang ketika kamu datang kesini untuk melamar putri kami. Tapi kami juga menyerahkan semua keputusan pada Wulan. Karena semua yang menjalani juga kalian berdua. Bagaimana Wulan, apakah kamu menerima lamaran nak Salman?" Daddy Marquez melempar pertanyaan pada Wulan.
Kini semua pandangan tertuju pada Wulan. Dan tak perlu menunggu waktu lama, Wulan pun mengangguk.
"Alhamdulillah." ucap mereka.
Setelah suasana kembali diam, Salman mengeluarkan sebuah kotak bludru warna merah dari balik kantong kemejanya. Lalu membukanya.
"Mohon maaf om dan Tante, saya ingin memberikan ini untuk Wulan sebagai tanda keseriusan saya melamarnya."
"Wulan, ulurkan tanganmu jika kamu memang serius pada nak Salman." titah Daddy Marquez.
Wulan pun segera menyerahkan tangan kanannya dihadapan Salman. Lalu pemuda itu pun memasukkan cincin berlian bermata biru di jari manis Wulan. Tentunya diiringi perasaan gugup.
"Alhamdulillah." ucap mereka kembali, ketika cincin itu berhasil masuk dan sangat pas. Padahal Salman hanya sekedar mengira-ngira ukurannya saja.
Acara selanjutnya adalah makan malam bersama. Mereka mengambil makanan yang telah disediakan di meja prasmanan dekat tempat duduk mereka.
Setelah larut malam, barulah keluarga Salman ijin pulang.
__ADS_1
**
Waktu terasa berlalu begitu cepat. Hanya tinggal beberapa hari saja sebuah pesta pernikahan mewah akan digelar.
Salman lebih memilih membeli semua seserahan ke mall langsung. Agar bisa memilih barang-barang yang berkualitas bagus.
Ia berbelanja seorang diri. Tak mempedulikan jika berpasang mata tengah menatapnya. Banyak dari mereka yang memuji pemuda tampan yang tidak malu berbelanja barang kebutuhan wanita.
Setelah selesai dan memastikan tak ada yang terlewat, Salman melenggang keluar mall dengan menenteng banyak paper bag.
Rumah megah opa Atmaja kembali di hias semaksimal mungkin. Karena acara resepsi cucunya akan di gelar di rumahnya. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
**
Sementara Wulan sendiri di dalam kamar. Ia banyak-banyak berdoa untuk memantapkan hatinya bahwa Salman memang jodohnya.
**
Sementara itu, kabar bahagia juga Daddy sampaikan pada tetangga dekatnya di Belanda, yakni keluarga Leon, melalui panggilan video call.
Kedua orang tua Leon turut mengucapkan selamat atas pernikahan Wulan yang sebentar lagi akan di gelar. Mereka pun juga berjanji akan menghadiri pesta itu.
Dan kini mereka tengah bersiap-siap mengemas barang-barang.
__ADS_1
Sedangkan di kamar Leon, ia begitu terpuruk dengan kabar pernikahan Wulan. Bahkan ia sampai menangis, meratapi nasibnya. Karena harus kehilangan teman masa kecilnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Mamanya berdiri di ambang pintu sampai menggelengkan kepalanya. Lalu melangkah masuk.
"Leon, kamu itu sudah besar. Seharusnya bisa menyikapi segala sesuatunya dengan bijaksana. Yang ada didekat kita, belum tentu menjadi jodoh kita. Bisa jadi jodohmu itu adalah seseorang yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya." ucap mama dengan bijaksana. Ia mengusap pelan punggung Leon, agar hati anak laki-lakinya tenang.
"Tapi ma, Leon cuma mau Wulan." Leon masih saja bersikap kekanak-kanakan jika berhadapan dengan kedua orang tuanya. Tapi jika dihadapan Wulan, ia bisa menjadi laki-laki dewasa yang melindungi perempuan.
"Hem, apa perlu mama sumpahin kamu biar cepat move on dari Wulan, dan membuka hati untuk wanita lain?" ucap mama, karena merasa jengah dengan kelakuan Leon.
"Ma."
"Sudah, buruan siap-siap. Sebentar lagi kita akan berangkat." Mama bangkit berdiri dan meninggalkan Leon.
Akhirnya mau tak mau Leon mengemas barang-barangnya.
Setelah memastikan semua tak ada yang tertinggal, mereka berangkat menuju bandara dengan mengendarai taksi online.
Sepanjang perjalanan, Leon terus diam. Tapi otaknya berkelana membayangkan saat indah bersama Wulan.
Kini mereka sudah sampai di bandara. Dan sebentar lagi pesawat akan segera terbang ke Indo. Hati Leon semakin berdegub kencang tak karuan.
Ia berusaha mengalihkan semua pikiran itu dengan tidur. Sambil mendengarkan earphone.
__ADS_1