
Setelah sarapan, Wulan menyiapkan baju-baju yang akan di bawa ke Belanda. Ia menyusunnya dalam sebuah koper yang besar.
Pandangan nya tertuju pada selembar baju berwarna mint yang ada di antara tumpukan bajunya. Ia meraih dan membentangkan baju itu.
Seketika ia teringat, jika itu adalah baju milik mamanya Salman yang belum ia kembalikan. Dulu Salman memang pernah bilang, jika baju itu untuknya.
Sejenak ia pun berpikir untuk mengembalikannya atau tidak. Tapi meskipun baju itu telah diberikan untuknya, itu hanya akan membuat nya selalu teringat tentang Salman.
Akhirnya ia pun mengambil sebuah keputusan, yakni mengembalikan baju itu. Ia ingin melupakan cinta pertamanya, agar bisa membuat kedua orang tuanya bahagia.
Ia memasukkan baju itu ke dalam paper bag, dan meletakkannya di dekat plastik yang berisi buku-buku pinjamannya.
Setelah semua selesai, sambil menunggu waktu sore tiba, ia meraih buku bisnis yang ada dalam bisnis. Ia membacanya dengan seksama. Hingga tak terasa waktu sore tiba.
Wulan kembali memasukkan buku itu pada tempatnya, lalu segera bersiap-siap. Setelah mandi sore, ia berdandan rapi dan mengenakan pakaian yang lebih pantas.
Stelan kaos panjang warna biru muda dan celana jeans panjang. Rambut panjangnya ia ikat di belakang, dan bagian depannya menyisakan sedikit poni. Tas kecil ia selempang kan di bahu kirinya, dan tangan kanannya menjinjing seplastik buku dan paper bag.
__ADS_1
Ia berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan mommy untuk berpamitan.
"Mom." ucap Wulan, sehingga membuat mommy nya yang tengah menyirami bunga di teras samping menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke belakang. Ia mengernyitkan dahi menatap anaknya yang telah terlihat rapi dan baunya semerbak wangi.
"Kamu mau kemana genduk ayu?" tanya mommy dengan lembut.
"Wulan pamit mau mengembalikan buku-buku ini pada kak Salman."
DEG!
Jantung mommy berdetak kencang, ketika Wulan menyebut nama Salman, laki-laki pujaan hatinya.
Mommy pun menyunggingkan senyum tipis. Ia selalu percaya dengan anaknya.
"Pergilah, mommy ijinkan." balasnya lembut.
Setelah keduanya saling bercipika cipiki, lalu Wulan berjalan menuju ke arah mobilnya terparkir. Bukunya ia letakkan pelan di kursi samping kemudi, lalu ia masuk ke dalam. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya, ia menghirup nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Wulan pun melajukan mobilnya menuju rumah Salman. Sengaja ia memutar lagu-lagu barat kesukaannya. Agar perjalanan tidak terasa membosankan.
Matanya awas memperhatikan sekeliling jalan. Hingga akhirnya ia hampir sampai. Jantungnya kembali berdetak lebih kencang. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam, agar lebih rileks.
Wulan turun dari mobil dan berbicara pada security menyampaikan maksud kedatangannya. Tak lama kemudian, penjaga rumah itu membukakan pintu gerbang, agar mobil gadis itu bisa lewat.
Wulan menekan bel dengan perasaan yang tak dapat diartikan. Tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka. Mama Laura mengernyitkan dahi menatap Wulan. Mungkin dia tengah berpikir siapa yang berdiri dihadapannya saat ini.
"Selamat sore Tante. Saya Wulan." ucap Wulan sambil mengulurkan tangannya, dan mama Laura membalas uluran tangan itu sambil tersenyum.
"Kamu temannya Salman, yang tempo hari kesini?" ucap mama meyakinkan bahwa pikirannya benar.
"Iya Tante. Maaf kak Salman nya ada? Karena ada sesuatu hal yang mau saya sampaikan."
"Dia belum pulang kerja, mungkin sebentar lagi. Kalau begitu, masuk saja dulu." tawar mama Laura di iringi senyum, tangannya direntangkan sebelah, mempersilahkan Wulan untuk masuk.
Gadis itu pun mengangguk sambil tersenyum lalu masuk dan berjalan mengikuti mama Laura yang mempersilahkannya duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Tante tinggal ke belakang dulu ya."
"Iya Tante, silahkan." balas Wulan, tentunya dengan di iringi senyuman. Setelah mama Laura pergi, Wulan duduk dengan muka tegangnya sambil memperhatikan sekelilingnya.