Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
240. Perhatian khusus


__ADS_3

"Tapi kamu harus merahasiakannya ya, kak. Sampai hari aqiqah kita digelar."


"Tidak apa-apa. Untuk kejutan keluarga kita saja." Fatim meringis.


"Okay, aku akan melakukannya untukmu sayang. Semoga anak kita segera membaik kondisinya. Agar bisa segera pulang juga."


"Aamiin. Aku berharap nya juga seperti itu kak."


**


Wulan dan Salman telah mengetahui kabar tentang hal yang menimpa Fatim. Keduanya pun berniat untuk menjenguknya.


Tak lupa Wulan mengajak Aisyah untuk bersama-sama menjenguk Fatim. Dan jadwal pun sudah keduanya tentukan, yakni sore ini.


Setelah memandikan dan mendadani baby Maryam, pasangan suami-istri itu menitipkan putri kecilnya pada mama Laura. Keduanya berjanji tidak akan lama, mengingat putri kecilnya hanya meminum ASI-nya.


"Bye sayang. Mommy tidak akan lama. Kamu main sama Oma dulu ya." Pamit Wulan sebelum pergi.


"Iya, Daddy juga tidak akan lama. Jauh dari mu saja sudah membuat Daddy begitu kangen." Salman mencubit pipi putrinya dengan gemas.


"Ish, tidak boleh begitu. Nanti putri kita menangis, tidak jadi berangkat dong kita." Wulan cemberut, dan menarik tangan suaminya agar menjauh dari pipi gembul putrinya.


"Ma, titip Maryam dulu ya. Kalau terlalu lama, telepon kami saja." Ucap Salman pada mamanya.


"Gampang itu. Sekarang cepatlah pergi, sebelum bayi kalian menangis karena butuh asi."


"Okay, ma. Kita pergi sekarang. Assalamu'alaikum." Salman mengulurkan tangannya mencium punggung tangan mamanya.

__ADS_1


"Wulan juga pamit dulu ya ma, titip Maryam. Assalamu'alaikum." Wulan pun mencium punggung tangan mama mertuanya.


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati kalian semua." Balas mama Laura.


Salman dan Wulan bergandengan tangan mesra menuju pintu keluar. Sedangkan mama Laura mendorong baby Maryam yang ada di dalam stroller nya.


Ia berniat mengajak baby Maryam menikmati waktu sorenya dengan jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan.


Mobil Salman bergerak pelan meninggalkan kompleks perumahan elite nya. Di ikuti mama yang berjalan di belakangnya.


"Ternyata jalan berdua dengan mu bisa membuatku bahagia lho sayang. Berasa seperti pacaran lagi." Celetuk Salman.


"Pacaran lagi? Memang pertama kali kita pacaran kapan ya?" Wulan mengetuk-ngetuk dagunya sambil pura-pura berpikir.


Keduanya memang tidak pernah mendeklarasikan jika berpacaran. Dan yang dimaksud Salman adalah pacaran setelah menikah.


"Jangan membayangkan kita pacaran sebelum menikah. Karena itu mustahil terjadi. Yang aku maksud adalah pacaran setelah menikah. Bukan kah kita telah menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk berduaan, sehingga kamu dengan cepat hamil."


"Oh, jadi kamu kangen masa-masa itu? Okay, setelah menjenguk Fatim kamu mau mengajak ku kemana, mas?"


"Pulang."


"Pulang? Kok pulang sih?" Wulan mengerucutkan bibirnya.


"Kamu lupa, sumber kehidupan anak kita ada pada dirimu?" Mata Salman melebar melihat ke arah dada sang istri.


"Oh iya ya. Kenapa aku jadi amnesia begini." Wulan menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Mas, kamu menyesal tidak sih? Setelah kita menikah baru sebentar saja aku sudah hamil dan memiliki anak."


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Salman mengernyitkan keningnya.


"Em, biasanya laki-laki itu kan suka minta gituan dengan istrinya. Apalagi pengantin baru. Eh, pas lagi senang-senangnya sudah lahir duluan anaknya. Jadi tidak bisa melayani suaminya dengan baik. Karena jam nya sudah terpotong untuk mengurusi anaknya." Celoteh Wulan panjang lebar.


Terus terang Wulan merasa insecure dan tidak enak dengan suaminya. Serasa belum bisa memuaskan di atas ranjang. Sementara Salman justru terkekeh kecil.


"Kenapa kamu justru tertawa, mas?"


"Menikah itu bukan cuma urusan ranjang saja kali. Tapi jauh lebih besar daripada itu. Yakni memaknai setiap kebersamaan bersama pasangan.


Ya seperti saat sekarang ini, kita merasa waktu kita berdua ini sangat berharga. Kita juga bisa tetap bermesraan meskipun sudah ada anak ditengah-tengah kita. Bagaimana pun caranya, Allah pasti akan memberi jalan.


Intinya, kita sama-sama berusaha untuk membuat pasangan kita merasa nyaman. Karena anak adalah anugerah. Dulu papa dan mamaku saja untuk mendapatkan anak seperti ku, juga susah sekali. Makanya kita harus bersyukur sudah diberi kemudahan memiliki anak." Salman menggenggam tangan Wulan, lalu mengecupnya dengan lembut.


Wulan begitu terharu dan tersanjung, mendapat perhatian yang besar dari suaminya. Rasa gelisah nya seketika sirna.


Salman juga paham, kenapa sampai istrinya berkata seperti itu. Mungkin pengaruh baby blues belum sepenuhnya hilang dalma dirinya.


Ibu-ibu yang baru saja melahirkan memang rentan terkena sindrom baby blues. Maka dari itu, perhatian dari orang-orang terdekatnya sangat dibutuhkan.


Apalagi maraknya kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, saat kebutuhan ranjangnya tidak terpenuhi. Karena istrinya baru saja melahirkan, sedang mendapat tamu bulanan, atau berbagai masalah yang lainnya.


Tak berapa lama kemudian, keduanya sudah tiba di rumah sakit dimana Fatim di rawat. Di belakang mobil mereka, juga terlihat mobil Fatih dan Aisyah.


Setelah turun dari mobil, mereka berjabat tangan sambil berpelukan. Lalu berjalan beriringan menuju ruangan Fatim dan bayinya.

__ADS_1


__ADS_2