Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
146. Kabar buruk


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam yang di iringi dengan suara pintu yang dibuka.


"Wa'alaikumussalam.' balas papa dan Fatim bersamaan sambil mendongakkan kepalanya.


Terlihat wajah ayu mama Tiwi yang berjalan mendekati suami dan anaknya. Ia membawa beberapa paper bag yang berisi baju dan makanan. Lalu meletakkannya di atas meja.


Ia mencium punggung tangan suaminya lalu Fatim mencium punggung tangan mamanya itu dan memeluknya.


Mama Tiwi mengusap pelan punggung anaknya, tapi pandangannya mengarah pada suaminya. Seolah-olah minta penjelasan.


"Pasti temanmu itu akan segera sembuh kok sayang." ucap mama berusaha menghibur hati anaknya. Dan Fatim hanya menganggukkan kepalanya. Mama lantas mengurai pelukannya.


"Sekarang kamu bersihkan badanmu dulu, lalu makan. Ini sudah mama bawakan makanan untukmu dan papa." lagi, hanya anggukan yang Fatim berikan.


Fatim dan papanya bergiliran membersihkan tubuh, lalu makan malam bekal dari rumah. Fatim menyuap makanan ke mulutnya dengan tidak berselera.


Belum selesai makan, terdengar suara ketukan pintu. Papa mempersilahkan masuk. Terlihat seorang dokter yang menangani Leon tadi berjalan mendekat.


"Maaf, dok. Mengganggu waktunya. Kita harus segera melakukan operasi kepala pada pasien. Karena mengalami pendarahan otak. Kami sudah berusaha menyedot cairan tersebut melalui telinga, tapi tidak bisa."


"Apa! Operasi?" Fatim berseru karena terkejut. Mama yang ada disampingnya mengusap bahunya lembut untuk menenangkan nya.


Kini mereka beradu pandang dan bingung harus mengambil langkah apa. Karena tidak ada keluarganya sama sekali di Indo yang bisa dimintai pendapat.


"Bagaimana ini, pa?" Fatim menoleh ke arah papanya. Ia bisa melihat papanya tengah berpikir dengan dahi yang berkerut.

__ADS_1


"Kita harus mengabari keluarganya, sekarang." tegas papa.


"Astaghfirullah, mama lupa." tiba-tiba mama Tiwi berseru sambil menepuk jidatnya. Lalu segera meraih paper bag dan membuka isinya.


"Ini mama bawa tasnya bule itu. Pasti ada handphonenya. Nah, ketemu." Mama Tiwi bermonolog, lalu menyunggingkan senyum tipis ketika menemukan benda pipih pemersatu bangsa.


"Nih, semoga kalian bisa menghubungi orang tuanya." Mama Tiwi menyodorkan handphone pada anak dan suaminya.


Akhirnya papa Adam menerima handphone itu dan mencari nomor kedua orang tua Leon, lalu menghubunginya. Beberapa detil kemudian, barulah panggilan itu diangkat.


"Selamat malam, pak." ucap papa Adam, menyapa papa Leon.


"Maaf mengganggu waktunya. Kami dari rumah sakit mau mengabarkan bahwa putera anda mengalami kecelakaan yang cukup parah. Terutama di bagian kepalanya. Sehingga kami harus sesegera mungkin untuk melakukan tindakan operasi."


"Apa? Kamu tidak sedang membohongi saya kan." balas papanya Leon di seberang sana. Ia tahu modus penipuan yang marak beredar.


Sesaat keadaan hening sekian detik. Lalu terdengar helaan nafas panjang papa Leon. Tentu saja mendengar penjelasan yang panjang lebar itu membuat ia cukup percaya, bahwa itu memang berita benar.


"Baiklah, silahkan lakukan operasi. Dan tolong selamatkan nyawa putra kami. Kami akan segera menyusul kesana."


"Terima kasih. Kami tunggu kedatangannya. Selamat malam." papa pun menutup teleponnya.


"Lakukan sekarang." ucap papa Adam memberi perintah pada dokter dihadapannya.


"Baik, dok." dokter itu pun mengangguk dan segera keluar untuk mempersiapkan operasi.

__ADS_1


**


Saat mengabari keluarga Leon, di Indo memang malam. Tapi di Belanda pagi. Karena terdapat perbedaan waktu.


Suasana pagi yang cerah di negara kincir angin. Keluarga Leon tengah menikmati sarapan pagi bersama. Lalu terdengar suara handphone miliki papa Marco. Melihat yang menghubunginya adalah anaknya, ia segera mengangkatnya.


Tapi ketika panggilan terhubung, justru orang lain yang berbicara dengannya. Yaitu papanya Fatim. Ia mengabadikan bahwa anak satu-satunya kecelakaan.


Awalnya ia pikir itu hanya sebuah trik kebohongan. Tapi ia mencoba menelaah lebih lanjut, dengan mendengar penjelasan dari orang yang tengah berbicara dengannya. Dan ia menyimpulkan bahwa itu bukan berita hoax.


Ia mempercayai dan segera menyuruhnya untuk melakukan operasi dan tindakan lainnya untuk menyelamatkan nyawa anaknya.


Setelah panggilan berakhir, papanya Leon menjelaskan pada istrinya tentang hal yang menimpa putranya. Dan itu berhasil membuatnya syok. Hingga matanya berkaca-kaca.


"Jangan menangis. Ayo sekarang kita berkemas."


Mereka pun segera ke kamarnya untuk mengambil beberapa potong baju dan menyusunnya dalam koper.


Sementara itu, papanya Leon menghubungi asistennya untuk segera membelikan tiket pesawat dengan tujuan Indo.


Setelahnya, ia segera menghubungi sopirnya yang berada di lantai bawah untuk menyiapkan mobilnya, yang akan digunakan menuju ke bandara.


Semua telah siap, dan kini kedua orang tua Leon diantar oleh sopirnya menuju ke bandara.


Meskipun sudah kecepatan maksimal, entah mengapa mama tetap saja berpikir bahwa sopirnya lambat sekali mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Akhirnya mereka tiba di bandara, dan segera berjalan cepat melewati garbarata, lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi dalam badan pesawat. Yang sebentar lagi akan lepas landas.


__ADS_2