Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
58. Bercocok tanam


__ADS_3

Grandma dan grandpa pamit keluar, karena keduanya akan memasak untuk cucu tercintanya. Wulan pun mempersilahkan keduanya.


Setelah itu, ia membuka tirai jendela, agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamarnya. Ia menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa berbeda dengan tempat tinggalnya selama ini.


Setelahnya, ia membongkar isi koper. Menyusun baju-bajunya di dalam almari. Make up ia susun di atas meja riasnya dan membawa peralatan mandinya menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruangan kamarnya.


Beberapa buku-buku yang dibawakan oleh Daddy nya ia masukkan ke dalam laci meja di samping tempat tidurnya, untuk ia pelajari ketika ada waktu luang.


Setelah semua ia selesaikan dengan baik, bergegas ia menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan grandma dan grandpa nya.


Hidungnya mengendus bau masakan, sehingga ia mengikuti bau tersebut.


"Hem, aromanya menggoda sekali grandma." seru Wulan, yang sudah berdiri di belakang wanita tua dan berambut putih itu. Sehingga ia terkekeh.


"Sebentar lagi masakannya akan segera grandma hidangkan. Tolong kamu panggil grandpa ya. Ia tengah berkebun di belakang."


"Siap grandma." balas Wulan sambil mengedipkan matanya. Ia pun melangkah pergi mencari keberadaan grandpa nya.

__ADS_1


Terlihat grandpa tengah mencangkul tanah, sambil sesekali menyeka peluh yang membasahi wajah tuanya. Moldi juga menemaninya dengan duduk di sampingnya.


"Grandpa." teriak Wulan sambil berlari kecil mendekatinya. Lelaki tua itu pun menoleh.


"Di panggil grandma, katanya sebentar lagi makanan siap."


"Hem, tunggu lah sebentar. Grandpa mau menanam sayur untuk grandma mu."


"Wulan bantuin." ucap gadis itu sambil meraih sekop yang ada di dekat Moldi.


"Tidak perlu Wulan. Kamu pasti capek, karena perjalanan jauh yang pasti akan terasa melelahkan."


Gadis itu berbeda 180 derajat. Di rumahnya sendiri, semua keperluannya telah di siapkan oleh para asisten rumah tangga. Sehingga jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali mengerjakan tugas rumah.


Sedangkan di rumah grandma nya ia melakukan apapun sendiri. Karena grandma dan grandpa nya tidak memperkerjakan seorang asisten pun untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Ia sangat senang jika bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah, seperti berkebun. Meskipun sepele nyatanya, hal itu melewati sebuah proses yang tidak mudah.

__ADS_1


Mulai dari membentuk tanah agar menjadi subur, menanam benih, senantiasa memupuk dan menyirami setiap hari, menunggu benih itu sampai bertunas, lalu terbentuk sebuah pohon.


Jika yang di tanam adalah buah dan sayuran, pasti setelah waktunya panen, bisa dimanfaatkan untuk di makan.


Namun, jika yang di tanam adalah bunga-bungaan atau tanaman hias. Maka kita tak sabar menunggu kuncup bunganya bermekaran. Pasti akan terasa indah di pandang bukan?


Seperti itu pulalah kehidupan manusia. Yang melewati beberapa proses yang tak mudah. Mulai dari penciptaan yang melewati beberapa tahapan. Setelahnya masih melewati proses tumbuh kembang ketika menjalani kehidupan. Yang mana, pasti akan melewati fase ketidak cocokan dalam menyikapi suatu hal. Fase penemuan jati diri, yang umum dilakukan saat usia remaja. Fase pembentukan karakter. Fase menjadi seorang panutan dalam keluarga. Dan yang terakhir adalah fase mempertanggungjawabkan perbuatan yang kita jalani selama hidup di dunia.


Berpikirlah tidak hanya menggunakan otak, tapi juga dengan nurani dalam mengambil suatu tindakan dalam setiap fase kehidupan. Agar tidak menyesal dikemudian hari.


"Wulan. Kamu grandma suruh untuk memanggil grandpa kan? Kok malah asyik ikut bercocok tanam." seru grandma dari arah pintu belakang.


Wulan mendongakkan kepalanya menatap grandma sambil meringis menyadari kekhilafannya.


"Iya grandma, maafin Wulan." balas gadis itu sambil berteriak.


"Grandpa, Wulan kena semprot grandma tuh. Ayo kita sudahi dulu pekerjaan ini. Nanti Wulan bantuin lagi."

__ADS_1


"Iya sayang." balas grandpa sambil terkekeh.


__ADS_2