
Setelah menghabiskan waktu untuk makan bersama, keduanya pulang ke rumah masing-masing.
Sepanjang perjalanan pulang, Wulan terus memikirkan ucapan Salman.
'Saat ini mungkin diantara kita ada yang menyepelekan pertemuan. Tetapi kamu akan tersadar betapa “berharga” sebuah pertemuan ketika kamu mulai kesulitan untuk bertemu.'
'Sebuah pertemuan walaupun hanya sementara adalah awal dari berbagai kemungkinan.' yakin Wulan dalam hati.
Jika pada akhirnya semesta memang memberikan kita pertemuan, berdoalah agar tak perlu kita rasakan pahitnya perpisahan.
**
Sedangkan Salman, hanya sedikit heran dengan tingkah seorang gadis yang tiba-tiba dekat dengannya.
Ia tak pernah merasa dekat dengan wanita seperti itu. Hanya mama dan omanya lah yang dekat dengannya selama ini.
'Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya? Bukan kah di dunia ini pertemuan dan perpisahan datang silih berganti. Semua untuk di ambil pelajarannya. Mungkin saat ini aku belum bisa mengambil hikmah pertemuan dengan gadis itu. Namun suatu saat aku akan menyadarinya.'
Jangan pernah menyesali pertemuan dengan seseorang, karena dari mereka selalu ada yang bisa kita pelajari sebagai pelajaran kehidupan.
**
__ADS_1
"Genduk ayu. Apa yang terjadi denganmu?" mommy mendekati Wulan yang sedang duduk termenung di balkon.
"Hem, ngga ada apa-apa mommy."
"Oh ya, kenapa mommy melihat mu sedikit berbeda?" mommy membelai punggung anak gadisnya.
"Wulan hanya......"
"Memikirkan seorang lelaki?" tebak mommy, yang membuat Wulan meringis.
"Dari mana mommy tahu?"
"Dulu mommy juga sama seperti mu genduk ayu. Daddy selalu mengejar mommy, hingga ia rela pindah kesini hanya untuk bisa dekat dengan mommy."
Kedua orang tua mereka tidak ada yang menentang hubungan keduanya. Justru kedua orang tua Daddy Marquez sangat setuju dengan mommy Melati, karena dia adalah seorang gadis desa yang manis dan taat agama.
Wulan tersenyum mendengar cerita mommy nya. Ia tersentuh dengan setiap pengorbanan yang Daddy nya lakukan.
"Mom, kenapa dulu Wulan ngga di beri nama matahari saja? Kenapa justru Wulan?"
Mommy mengernyitkan dahi heran dengan pertanyaan anak semata wayangnya. Selama ini Wulan terlihat enjoy ketika di panggil demikian.
__ADS_1
Meskipun wajahnya campuran Jawa dan Belanda, yang mana gen daddy-nya lebih mendominasi. Dan tentunya lebih cocok ketika menggunakan nama panggilan Teresia.
"Wajah mu secantik bulan, makanya kami memberi mu nama Wulan, yang artinya bulan. Mommy juga selalu memanggil mu genduk ayu kan? Yang artinya anak perempuan yang cantik. Keluarga Daddy juga lebih suka memanggil mu dengan sebulan Wulan. Semua orang yang melihat bulan, pasti akan memuji pesonanya bukan? Seperti kamu yang selalu di puji banyak orang, termasuk para lelaki."
Wulan mengangguk paham. Alasan mommy memang masuk akal.
"Tapi Wulan tidak suka di puja banyak lelaki mom. Kecantikan Wulan ini hanya untuk calon suami Wulan kelak."
Mommy menatap Wulan dengan penuh rasa heran.
"Dari mana Wulan belajar kata seperti itu?"
Wulan menutup mulutnya dengan mata yang membulat. Ia tak sadar jika ucapannya sama seperti yang diucapkan Salman ketika pertemuannya tadi.
"Eh, Wulan salah bicara mom. Maafkan Wulan ya." ucap Wulan sambil meringis.
Sebagai seorang ibu, mommy tahu betul jika anak gadisnya tengah terkena virus merah jambu. Namun, siapa laki-laki yang berhasil menggetarkan hatinya, ia belum tahu.
Yang ia tahu, merebut hati anak gadisnya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih lelaki itu bisa membuat Wulan ingat dengan perkataannya. Itu tandanya dia bukan laki-laki sembarangan.
❤️❤️
__ADS_1