
Wulan mengamati buku yang tersusun rapi dalam rak, lalu asal mengambil satu, membuka lalu membaca sekilas isi di dalamnya. Salman mengikutinya sambil memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu.
Tak lama kemudian mama Laura datang sambil membawa nampan yang berisi teko minuman dan cemilan.
"Nak, ayo minum sama nikmati cemilan ini dulu." ajak mama Laura pada muda-mudi itu.
"Terima kasih Tante." balas Wulan, sambil berjalan ke arah mama Laura yang sudah duduk menghadap meja. Salman pun ikut mendekat.
Wulan mengambil satu potong kue lalu mengunyahnya.
"Hem, enak sekali. Tante yang bikin kue nya ya."
"Doa dulu." Salman mengingatkan. Sedangkan mama yang melihatnya hanya mengukir senyum, anak laki-lakinya memang selalu menjadi alarm yang baik bagi semua orang di rumahnya.
Wulan yang mendengar nasehat Salman, seketika berhenti mengunyah. Lalu berdo'a. Kini, mama Laura dan Salman yang dibuat terkejut, karena gadis itu melakukan gerakan doa yang tidak sama dengan mereka. Setelahnya, Wulan kembali melahap potongan kuenya.
"Maaf Tante, Wulan makannya terlalu cepat." ucap Wulan, menyadari jika mama Laura dan Salman menatap dirinya dengan sedikit aneh.
"Enggak apa-apa kok, dihabiskan aja kuenya. Di dapur masih ada banyak, kalau Wulan mau, nanti bisa Tante ambilkan untuk di bawa pulang." tawar mama Laura dengan tersenyum.
__ADS_1
"Boleh Tante, terima kasih ya." ucap Wulan dengan senyum sumringah.
Sementara Salman kembali menatap gadis itu tanpa kedip. Biasanya orang akan sungkan menerima pemberian orang lain, tapi hal itu tidak berlaku bagi Wulan.
'Astaghfirullah, ini gadis memang ngga punya malu apa ya. Main iya-iya saja.' batin Salman keheranan.
"Ya sudah, Tante tinggal ke belakang. Kamu boleh baca bukunya sesuka hati." pamit mama Laura, Wulan pun mengangguk ke arahnya sambil tersenyum.
"Kamu kok ngga ada malunya sih, di tawarin mama ku kue langsung mau-mau saja."
Wulan menatap Salman sambil mengernyitkan dahi.
Ia mulai membaca buku bisnis yang ia bawa tadi sambil menikmati kue dengan lahap. Salman belum mampu menghilangkan rasa herannya pada gadis dihadapannya.
"Kamu non muslim?" cetus Salman yang membuat Wulan tersedak.
Salman buru-buru menuangkan minuman di gelas dan menyodorkannya pada Wulan. Gadis itu segera meminumnya hingga tandas.
"Da-dari mana kak Salman tahu?" tanya Wulan sedikit ragu.
__ADS_1
"Saat kamu berdoa tadi."
Wulan baru menyadari kekhilafannya. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, seperti maling yang takut ketahuan.
Ia tak ingin Salman dan keluarganya mengetahui perbedaan itu. Karena hal itu akan semakin membuatnya kesulitan mendekati laki-laki pujaan hatinya.
Tapi bagaimana pun juga, itu adalah agamanya, ia harus mengakuinya. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Hati yang berbunga-bunga tadi, perlahan mulai layu.
"Apa kakak tidak suka berteman dengan non muslim?" lirih Wulan. Salman pun menggeleng.
"Aku berteman dengan siapa saja. Karena semakin banyak teman, semakin banyak rezeki yang kita dapatkan. Tapi agama seseorang juga tergantung agama sahabatnya. Diantara teman akan ada yang mewarnai dan terwarnai. Untuk itulah kita harus lebih berhati-hati. Agar jangan sampai terwarnai oleh teman yang berbeda pemahaman dengan kita."
"Maksudnya?" Wulan mengernyitkan dahi bingung, ia pun menatap Salman dengan intens, seperti murid yang tengah memperhatikan gurunya dengan serius.
"Apa kamu ngga takut jika suatu saat kamu akan terwarnai oleh pemahaman ku?"
❤️❤️
__ADS_1