
"Apa yang terjadi, sehingga kamu menangis?"
'Yes, berhasil. Dia mendekati ku.' batin Wulan penuh kemenangan. Namun ia masih berpura-pura menangis, sambil menunjuk ban mobilnya yang robek.
Salman mengernyitkan dahi ketika melihat ban depan gadis itu yang terlihat robek, akibat benda tajam.
'Siapa yang tega berbuat seperti itu? Astaghfirullah.' batin Salman sambil mengusap dadanya.
"Apa kamu punya ban cadangan?" Wulan mengangguk sambil masih terisak.
Salman mencari ban cadangannya, dan mulai menggantinya. Sedangkan Wulan duduk tak jauh dari mobilnya, sambil diam-diam mengarahkan kamera handphonenya untuk mengambil gambar lelaki di hadapannya.
Sekian menit berselang, akhirnya Salman berhasil mengganti ban mobil itu.
"Alhamdulillah, sudah selesai." ucap Salman sambil menghirup nafas lega.
Wulan menoleh ke arah ban mobilnya, lalu menoleh ke arah Salman. Sontak gadis cantik itu terkekeh geli. Salman pun heran melihat kelakuan gadis itu. Bukannya mengucapkan terima kasih, tapi malah menertawakannya.
Wulan mengambil tisu dari dalam tasnya, lalu membersihkan wajah Salman yang penuh dengan noda dengan lembut. Membuat lelaki itu terperangah, dan menatap wajah cantik dihadapannya.
__ADS_1
"Eh, kamu tak perlu melakukan ini. Aku bisa sendiri."
Salman meraih tisu yang di pegang Wulan untuk membersihkan wajahnya.
"Terima kasih ya, sudah dibantuin." ucap Wulan sambil menatap wajah tampan itu tanpa kedip.
Salman hanya menganggukkan kepalanya, lalu bangkit berdiri.
"Aku ingin mengajakmu makan, sebagai ucapan terima kasih ku." Wulan memegang pergelangan tangan Salman.
"Tidak perlu, tadi kamu sudah mengucapkan terima kasih pada ku juga kan? Dan tolong lepaskan tanganku."
"Baiklah."
Wulan tersenyum lalu melepaskan pegangannya. Keduanya pun berjalan menuju food court yang terletak di bagian depan super market.
Ketika memilih pesanan, Wulan lebih memilih menyamakan pesanan makanannya dengan Salman.
Setelahnya, pemuda itu memainkan handphonenya sambil menunggu pesanannya datang. Sedangkan Wulan tak bosannya memandang wajah Salman yang terlihat teduh itu.
__ADS_1
Sekian menit berselang, seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka.
"Hei, kenapa kamu terus menatap ku seperti itu? Memangnya bisa kenyang ya, hanya dengan melihat ku saja."
Wulan mengangguk sambil tersenyum dan menatapnya. Membuat Salman jengah, dan akhirnya menyuap makanan ke mulutnya.
"Sejak tadi kamu terus memanggil ku, dengan sebutan kamu, kamu. Apa kamu tidak tertarik untuk mengetahui nama ku?" Salman menggeleng, membuat Wulan mendengus kesal.
"Semua lelaki tertarik dengan ku dan bahkan mereka berlomba-lomba mengejar ku, karena melihat kecantikan dan lekuk tubuh ku yang indah. Tapi kenapa kamu tidak tertarik dengan ku." cetus Wulan dengan percaya dirinya, yang membuat Salman tersedak dari makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Aku bisa saja tertarik padamu, tapi tidak untuk mengejar mu. Karena aku takut, tidak bisa menahan rasa cemburu ku, ketika kamu mempertontonkan lekuk tubuh mu pada laki-laki lain. Wanita itu seharusnya tidak seperti bulan, yang setiap orang bisa melihatnya tanpa tertutupi apapun. Tapi wanita seharusnya menjadi seperti matahari, yang membuat mata tertunduk sebelum melihatnya. Wanita yang cantik itu adalah wanita yang cantiknya bukan sekedar dinilai dari kecantikan rupanya. Tetapi seberapa banyak orang yang menyukainya karena kebaikan akhlak, ibadah dan prestasinya."
Wulan menelan Saliva mendengar ucapan Salman yang sangat menusuk hatinya. Seketika ia tertunduk malu. Baru kali ini ada orang yang berani mengatakan apa adanya kepadanya.
Selama ini ia memang mengenakan pakaian yang serba minim hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sehingga banyak yang memujanya, dan membuatnya melambung tinggi. Ia pun menarik ujung bajunya, agar bisa lebih menutup tubuhnya. Namun percuma saja bajunya tidak bisa bertambah panjang.
❤️❤️
__ADS_1