Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
32. Di pantai


__ADS_3

Setelah keduanya masuk ke mobil, kendaraan roda empat itu mulai melaju meninggalkan pelataran rumah.


Seperti biasa Leon akan bertanya tentang tujuan mereka pada Wulan. Tentu saja ia melakukan hal itu agar membuat hati Wulan bahagia. Seperti hari-hari lalu yang telah mereka lewati bersama di Belanda.


Namun, untuk yang kedua kalinya Wulan seperti tidak tertarik ketika ditanya kemana arah tujuan mereka.


"Kamu sepertinya harus balik ke Belanda lagi deh Wulan." celetuk Leon.


"Kenapa?" tanya Wulan sambil menatap heran pada Leon.


"Dua kali aku mengajak kamu pergi keluar, seperti tidak tertarik gitu. Padahal biasanya kamu yang paling bersemangat mengajak aku menghabiskan waktu bersama."


"Oh, maaf Leon. Beberapa hari ini aku rasa kurang enak badan. Jadi banyak menolak ajakan mu." Wulan langsung berpura-pura sakit.


'Duh, aku memang sengaja menghindar dari kamu Leon. Aku hanya ingin di rumah, membaca buku-buku yang ku pinjam dari kak Salman.' batin Wulan.

__ADS_1


"Kita ke pantai yuk. Sudah lama ngga berjemur di bawah terik matahari. Sepertinya kamu sakit juga karena kurang berjemur." ajak Leon dengan senyum sumringah.


'Aku pura-pura sakit, dan masih di ajak ke pantai. Oh Leon, kamu ngga kasian aku apa? Atau dia memang tau aku sakitnya bohongan. Makanya ngajak aku ke pantai.' batin Wulan lagi, akhirnya ia pun mengangguk pasrah.


Menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya mereka tiba di pantai. Senyum terpancar di wajah Leon, karena ia memang merindukan suasana pantai. Tal sabar rasanya ia ingin berjemur di bawah terik matahari. Karena hal itu bisa membuat kulitnya lebih eksotis.


"Ayo Wulan, kita berjemur." ajak Leon seraya membuka pintu mobil untuk Wulan.


Sambil menyipitkan mata, Wulan memandang ke arah pantai yang cukup sepi pengunjung. Karena hari itu bukan hari libur. Keduanya segera memakai kacamata hitamnya agar tidak silau. Lalu berjalan menuju bibir pantai.


Tiba-tiba tangan Wulan di tarik Leon. Gadis itu yang merasa tak siap, ikut terseret Leon yang berlari kecil.


"Kamu pasti suka kan main lari-lari seperti ini? Jadi teringat dulu kita main kejar-kejaran." teriak Leon, karena suaranya hampir kalah oleh suara deburan ombak.


Wulan tersenyum sambil mengangguk. Waktu yang ia habiskan dengan Leon memang tidaklah sebentar. Sehingga benih cinta di hati lelaki itu semakin mengakar kuat.

__ADS_1


Leon sengaja melepaskan bajunya, dan menarik sweater Wulan, sehingga gadis itu hanya mengenakan kaos pendek dan celana panjang.


"Ayo, lepaskan baju dan celana mu. Agar kulit kita sama-sama eksotis." teriak Leon.


Wulan mengangguk sambil tersenyum, lalu melepaskan baju yang ia kenakan. Karena ia memang belum terbiasa menggunakan pakaian yang serba panjang.


Siang itu keduanya benar-benar menghabiskan waktu berdua di pantai. Dengan penuh kegembiraan dan tawa yang lepas.


Seakan pantai milik sendiri, keduanya bermain kejar-kejaran, berguling-guling di pantai dan berendam sepuasnya.


Leon yang paham jika sudah terlalu lama menghabiskan waktu di pantai, segera mengajak Wulan menepi di warung yang berdiri sepanjang bibir pantai.


Keduanya tanpa ragu merebahkan badannya di tikar sambil menunggu pesanan datang. Semilir angin pantai perlahan menusuk tulang, yang membuat Wulan tersadar jika saat ini dirinya hanya mengenakan pakaian dalam saja.


"Astaga, aurat ku." pekik Wulan, bangkit dari tidurnya sambil menutup bagian tertentu tubuhnya, lalu memungut pakaiannya dan berlari ke kamar mandi umum.

__ADS_1


"Aurat lagi? Apakah aurat itu sama artinya dengan tubuh? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Bukan kah ia biasa mengumbar tubuhnya?" gumam Leon sambil mengernyitkan dahi.


__ADS_2